Ringkasan Berita:
- Perayaan malam Tahun Baru Masehi berawal dari tradisi kuno Babilonia sekitar 4000 tahun yang lalu.
- Budaya ini selanjutnya diadopsi oleh Romawi dan Gereja Kristen
- Para ulama Islam menekankan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan perayaan malam Tahun Baru Masehi.
- Umum umat Islam diingatkan agar tidak membuang-buang waktu
-MEDAN.COM- Setiap 31 Desember, umat beragama non-Muslim merayakan pergantian malam Tahun Baru Masehi.
Beberapa ulama menyatakan bahwa perayaan malam Tahun Baru bukan termasuk dalam ajaran agama Islam.
Para ulama mengatakan, bahwa perayaan malam Tahun Baru dengan kegiatan pesta kembang api bukan merupakan budaya Islam.
Nabi Muhammad tidak pernah mengajarkan perayaan malam tahun baru ini.
Oleh karena itu, umat Islam diingatkan untuk tidak menyia-nyiakan waktu, serta memanfaatkannya untuk aktivitas yang lebih bermakna.
Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi
Beberapa sumber mengatakan bahwa perayaan malam Tahun Baru Masehi berawal dari tradisi kuno Babilonia sekitar 4000 tahun yang lalu.
Pada masa itu, bangsa Romawi mengadopsinya, termasuk Gereja Kristen.
Awalnya budaya Mesopotamia dan kepercayaan Romawi kuno, kini menjadi tradisi internasional yang menggambarkan perubahan tahun dalam kalender Masehi.
Ruang Guru menyebutkan, awalnya masyarakat Babilonia merayakan Akitu pada musim semi bulan Maret sebagai perayaan kemenangan dewa Marduk, dengan rangkaian ritual selama 11 hari termasuk pengangkatan raja.
Awalnya, peradaban Romawi kuno memulai tahun pada bulan Maret, namun Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun pada tahun 46 SM, demi menghormati dewa Janus yang memiliki dua wajah dan dianggap sebagai dewa permulaan.
Kalender Julian yang diperkenalkan oleh Kaisar Julius Caesar memasukkan bulan Januari dan Februari, yang diisi dengan berbagai perayaan seperti upacara korban, pertukaran hadiah, dan pesta.
Pada abad pertengahan, Gereja Kristen mengadopsinya sebagai Tahun Baru Masehi setelah kalender Gregorian 1582 oleh Paus Gregorius XIII.
Hukum Islam
Islam sangat tegas soal aturan mengenai budaya yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah.
Ustaz Abdul Somad atau UAS pernah memberikan penjelasan mengenai hukum agama Islam terkait perayaan Tahun Baru Masehi.
UAS menyampaikan, bahwa agama Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk merayakan Tahun Baru Masehi.
UAS mengakui bahwa umat Islam memang menggunakan kalender Masehi, sama halnya dengan penggunaan kalender Hijriah.
Namun, apabila sudah berkaitan dengan ibadah dan ritual, maka perayaan Tahun Baru Masehi tidak boleh dilaksanakan.
"Ketika memasuki ritual, ibadah, menyalakan lilin, terlebih membuang waktu yang tidak bermanfaat. Apalagi sampai membawa perempuan yang bukan mahram, oleh karena itu kita menjaga diri (dari merayakan Tahun Baru Masehi)," ujar UAS, seperti dalam ceramahnya yang diunggah kanal Youtube Tsaqofah TV, yang dilihat pada Selasa (30/12/2025).
UAS juga menyatakan, lebih baik malam pergantian Tahun Baru Masehi diisi dengan aktivitas yang jauh lebih bermanfaat.
Misalnya menggelar acara tabligh besar dan doa bersama.
Namun, menurut UAS, bukan berarti acara tabligh akbar dan doa bersama tersebut ditujukan untuk menyambut malam Tahun Baru Masehi.
Kegiatan ini lebih berfokus pada pencegahan kalangan umat Islam, khususnya pemuda, melakukan perbuatan terlarang.
Sama halnya dengan yang diungkapkan KH Yahya Zainul Ma'arif atau dikenal sebagai Buya Yahya.
Pemimpin Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berada di Cirebon menyampaikan bahwa umat Islam tidak memperingati malam Tahun Baru Masehi.
"Perihal Tahun Baru Masehi, bukanlah sesuatu yang menjadi masalah dalam hal bulan dan hari itu sendiri. Namun yang menjadi perhatian adalah kebiasaan dan budaya yang terjadi pada saat Tahun Baru tersebut. Apa yang dilakukan oleh umat pada waktu itu, seperti bersuka cita secara berlebihan dan mewah," ujar Buya Yahya, sebagaimana dalam ceramahnya yang diunggah oleh akun Youtube Al Bahjah-TV dengan judul Menyikapi Perayaan Tahun Baru Masehi Bagi Umat Islam.
Buya Yahya menyatakan bahwa agama Islam secara tegas melarang kebiasaan-kebiasaan negatif seperti mabuk dan berzina.
Pada perayaan pergantian malam Tahun Baru Masehi, muncul kekhawatiran bahwa pemuda dan pemudi Islam dapat terlibat dalam perbuatan maksiat.
"Maka yang kita hentikan adalah kebiasaan buruk. Yang menjadi masalah adalah meniru cara dan gaya orang-orang kafir, serta melakukan perayaan dengan meniup terompet," ujar Buya Yahya.
Mengangkat terompet, menurut Buya Yahya, juga memiliki makna khusus bagi kalangan non Muslim.
Karena itu, Buya Yahya juga mengajak umat Islam untuk memanfaatkan waktu dengan aktivitas yang lebih bermanfaat.
Ia juga menyerukan kepada umat Islam agar tidak melakukan tindakan yang sia-sia, yang justru hanya akan menyebabkan kerugian.
Apa yang disampaikan oleh UAS dan Buya Yahya sesuai dengan ayat Al Quran dalam surat Al Baqarah ayat 120.
Adapun bunyinya,
Kamu tidak akan pernah puas dengan kamu, baik orang-orang Yahudi maupun Nasrani, sampai kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk yang benar. Dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datangnya ilmu kepadamu, maka kamu tidak akan memiliki seorang pelindung atau penolong dari Allah.
"Masyarakat Yahudi dan Nasrani tidak akan puas kepada kalian selama kalian tidak mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk dari Allah adalah petunjuk yang benar". Dan sesungguhnya jika kalian mengikuti keinginan mereka setelah datangnya pengetahuan kepada kalian, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagi kalian." [al-Baqarah : 120]
Rasulullah SAW juga pernah mengingatkan kita dalam perkataannya:
Dari Abu Sa'id Al-Khudri berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Kalian pasti akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sejengkal demi sejengkal, hingga jika mereka memasuki lubang tikus, kalian juga akan memasukinya." Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah maksudnya orang-orang Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab, "Maka siapa saja (yang mengikuti mereka)?"
"Daripada Abi Sa'id radhiyallahu 'anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Kamu akan mengikuti perbuatan orang-orang sebelummu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu pun ikut masuk.' Kami bertanya, wahai Rasulullah, apakah yang dimaksudkan adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani? Rasulullah bersabda: 'Maka siapa lagi?' [HR al-Bukhari]
Dua peringatan dari Allah dan Rasulullah menunjukkan bahwa umat Islam diingatkan untuk waspada agar tidak mengikuti atau meniru budaya yang tidak diajarkan oleh agama Islam.
Penganut agama Islam diingatkan untuk tetap waspada agar tidak terjebak dalam kesesatan.(ray/-medan.com)
Baca berita MEDAN lainnya di Google News
Ikuti pula informasi lainnya melalui Facebook, Instagram, Twitter, dan Channel WA
Berita yang menyebar di Medan