Kaledioskop Perang 2025: Kekacauan Global dari Konflik Israel-Iran hingga Pembantaian El Fasher -->

Kaledioskop Perang 2025: Kekacauan Global dari Konflik Israel-Iran hingga Pembantaian El Fasher

31 Des 2025, Rabu, Desember 31, 2025

Bengkalispos.com.CO.ID, Peristiwa konflik dan perang di berbagai wilayah dunia menjadi ciri khas perkembangan tahun 2025. Perang yang masih berlangsung antara Rusia dan Ukraina, pertempuran antara pejuang Hamas dan Israel, konflik antara Israel dan Iran, perselisihan antara Kamboja dan Thailand hingga pembunuhan massal di El Fasher.

Konflik tersebut menimbulkan jumlah korban yang cukup besar. Perhatikan saja agresi Israel terhadap Palestina yang mengakibatkan lebih dari 70 ribu jiwa meninggal dunia.

Semua hal ini menunjukkan ketidakstabilan dunia pada tahun 2025 yang penuh dengan peristiwa kacau. Perang sering kali melibatkan pihak-pihak proksi yang terlibat dalam banyak negara. Contohnya, konflik antara Rusia dan Ukraina yang turut melibatkan negara-negara Barat.

Telah menjadi rahasia umum bahwa Kiev termasuk dalam alat perantara negara-negara besar Eropa. Negara-negara Eropa yang berpengaruh menganggap Rusia sebagai ancaman bagi Benua Biru tersebut.

Itulah sebabnya, Eropa seperti Jerman dan Finlandia memberikan bantuan nyata kepada Ukraina, baik dalam hal pasokan senjata maupun pendanaan. Rusia tidak takut terhadap ancaman dari Eropa dan malah melakukan perlawanan.

Segala rangkaian ketidakstabilan ini merupakan fakta yang terjadi pada tahun 2025.Bengkalispos.comtelah merangkum beberapa perang atau pertempuran yang terjadi sepanjang tahun 2025. Berikut ini adalah ringkasan mengenai perang selama tahun 2025

1. Serangan Israel terhadap Jalur Gaza

Konflik antara Israel dan kelompok Hamas masih berlangsung pada tahun 2025 setelah meletus pada Oktober 2023. Lebih dari 70 ribu penduduk Palestina telah tewas, termasuk anak-anak yang tidak bersalah.

Serangan Israel juga telah merusak bangunan di Jalur Gaza seolah-olah terkena gempa besar. Infrastruktur dasar seperti jaringan listrik dan pasokan air bersih benar-benar hancur.

Satu per satu unit pembangkit listrik mengalami kerusakan berat dan ditutup akibat kekurangan bahan bakar. Berdasarkan laporanAljazirah, 80 persen jaringan pengiriman listrik sudah tidak dapat digunakan lagi.

Rumah sakit yang sebenarnya dilindungi oleh hukum internasional justru menjadi sasaran serangan Israel. Mereka tidak ragu-ragu dalam membunuh tenaga kesehatan, termasuk dokter dan perawat.

Insecurity Insightmengungkapkan bahwa terdapat 2965 kejadian kekerasan atau hambatan akses terhadap layanan kesehatan di wilayah Palestina yang dikuasai Israel antara tanggal 7 Oktober 2023 hingga 28 Oktober 2025.

Lebih dari 95% insiden ini dikaitkan dengan pasukan Israel. Di Gaza, tercatat 2119 insiden yang menyebabkan kerusakan fasilitas kesehatan sebanyak 418 kali, 728 petugas kesehatan tewas, dan 362 ditangkap.

Di wilayah Barat dan Yerusalem Timur, dilaporkan terjadi 789 serangan terhadap fasilitas kesehatan, akses terhadap obat-obatan terganggu sebanyak 500 kali, 12 petugas kesehatan meninggal dunia, serta 162 orang ditahan.

Di sisi lain, blokade bantuan terus berlangsung sehingga memperparah penderitaan rakyat Palestina. Wajar jika banyak kalangan internasional menganggap Israel melakukan perang genosida di Jalur Gaza.

Otoritas Zionis memang melakukan pembunuhan secara terencana melalui serangan udara, penggunaan pasukan militer, menghancurkan kebutuhan pokok, serta menutup layanan kesehatan.

Selama tahun 2025, terdapat beberapa peristiwa penting dalam konflik di Jalur Gaza. Beberapa di antaranya adalah pertukaran tahanan dan kesepakatan gencatan senjata. Dalam kesepakatan tersebut juga termasuk pengembalian jenazah tawanan warga Israel yang gugur selama pertempuran di Gaza.

Perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Namun, selama masa gencatan tahap awal berlangsung, Israel sering kali melanggarnya dengan terus melakukan serangan.

Setelah gencatan senjata berlaku, paling sedikit 414 warga Palestina tewas akibat serangan militer Israel di Gaza. Demikian laporan dari kementerian kesehatan yang dijalankan oleh Hamas. Israel masih memegang kendali lebih dari 50 persen wilayah Gaza.

Baik Hamas maupun pihak otoritas Palestina menginginkan Israel untuk mundur. Berdasarkan kesepakatan yang diinisiasi oleh Donald Trump, disepakati pengiriman pasukan internasional ke Gaza selama masa peralihan, meskipun hal tersebut tidak diterima oleh Hamas.

Poin penting lain yang juga dituntut oleh Israel yakni meminta Hamas untuk meletakkan semua senjatanya. Bagian krusial ini belum disepakati.

 

2. Perang Israel-Iran

Israel dan Iran terlibat dalam konflik selama 12 hari pada bulan Juni 2025. Perang ini dimulai akibat serangan Israel yang tidak biasa terhadap instalasi militer dan nuklir Iran, serta area penduduk sipil.

Setidaknya 200 pesawat tempur Israel menyerang lebih dari 100 instalasi nuklir dan militer serta permukiman penduduk di berbagai wilayah Iran.

Iran membalas dengan melakukan serangan rudal terhadap Israel. Menurut Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) yang berada di Tel Aviv, Iran melepaskan 591 rudal ke arah Israel, setidaknya 50 di antaranya mengenai target secara langsung. Iran juga mengirimkan sekitar 1.000 pesawat drone menuju Israel.

Pertempuran ini diduga merupakan kelanjutan dari agresi Israel terhadap Gaza. Pemerintah Zionis menganggap Teheran mendukung Hamas serta aliansi lainnya di Yaman dan Lebanon.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Kedokteran Iran, ribuan individu mengalami cedera, ratusan meninggal dunia, serta fasilitas umum mengalami kerusakan.

Jumlah korban jiwa mencapai 610 orang, termasuk 49 perempuan dan 13 anak-anak. Korban terkecil berusia dua bulan.

Di sisi Israel, jumlah korban luka yang dirawat di rumah sakit mencapai 3.238 orang

orang yang memiliki 28 korban jiwa.

Kemungkinan terjadinya pertempuran antara kedua negara masih bisa terjadi. Terlebih lagi Israel yang didukung Amerika Serikat merasa khawatir dengan program nuklir Iran.

Teheran kini juga telah mempersiapkan kemungkinan terjadinya perang lagi.

Pejabat Iran bersikeras bahwa negara tersebut kini lebih siap menghadapi persaingan.

Dalam wawancara terbaru, Presiden Iran Pezeshkian menyatakan bahwa pasukan militer negaranya lebih tangguh dalam hal peralatan dan jumlah personel dibandingkan sebelum gencatan senjata.

 

3. Perang Rusia-Ukraina

Perang Rusia-Ukraina masih berlangsung pada tahun 2025 sejak dimulai pada Februari 2022. Perseteruan ini dapat dianggap sebagai bagian dari konflik proksi antara Eropa, khususnya NATO, melawan Rusia.

Perang yang berlangsung lama telah mengakibatkan banyak korban jiwa. Lebih dari 250.000 anggota pasukan Rusia dilaporkan gugur dalam pertempuran tersebut. Laporan dari otoritas Amerika Serikat mendekati angka 300.000. Klaim dari Ukraina menyebutkan bahwa jumlah tentara Rusia yang tewas melebihi 1 juta.

Sementara di sisi Ukraina dilaporkan telah mencatat lebih dari 80.000 korban jiwa dengan sekitar 400.000 personel mengalami luka. Namun, klaim-klaim data ini sering kali tidak objektif karena kepentingan masing-masing pihak yang terlibat dalam konflik.

Pada tahun 2025, Rusia masih berupaya memperluas kendalinya atas wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah penguasaan Ukraina. Dikabarkan bahwa Rusia telah mengambil alih 12% dari wilayah Ukraina. (Luasnya kira-kira sama dengan separuh ukuran negara bagian Illinois di Amerika Serikat).

Luas keseluruhan wilayah Ukraina yang kini dikuasai oleh Rusia, termasuk Krimea dan sebagian Donbas, yang telah direbut sebelum invasi penuh pada 24 Februari 2022 mencapai +45.625 mil persegi atau sekitar 20% dari wilayah Ukraina. (Luasnya hampir sama dengan negara bagian Pennsylvania di Amerika Serikat.)

Dari tanggal 25 November hingga 22 Desember 2025, pasukan Rusia dilaporkan telah menguasai 138 mil persegi wilayah Ukraina. Mulai 1 Januari 2025, rata-rata luas wilayah yang direbut oleh Rusia setiap bulannya mencapai 176 mil persegi.

Proses perdamaian saat ini terus berlangsung melalui perantaraan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Namun hingga kini belum mencapai kesepakatan. Terbaru, kedua belah pihak saling menyatakan klaim mengenai serangan terhadap rumah dinas Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan perintah kepada para komandan militer untuk terus berupaya membentuk "zona keamanan" sepanjang batas negara Rusia dengan Ukraina pada tahun 2026.

Perintah itu diucapkan Putin pada hari Senin (29/12) ketika menerima laporan mengenai situasi garis depan dari para komandan militer Rusia terkait konflik di Ukraina yang telah berlangsung hampir empat tahun.

 

4. Perang Kamboja-Thailand

Perselisihan antara Kamboja dan Thailand menjadi salah satu meletupnya konflik pada tahun 2025. Perang terjadi akibat sengketa wilayah perbatasan.

Konflik muncul dari persengketaan wilayah terkait penentuan batas sepanjang 800 kilometer antara Thailand dan Kamboja pada masa kolonial, di mana kedua pihak menuntut kepemilikan reruntuhan kuil yang sudah berusia ratusan tahun.

Perang meletus di perbatasan antara Thailand dan Kamboja sejak Juli 2025. Perang dimulai setelah kematian seorang prajurit Kamboja, diikuti oleh kejadian di mana patroli Thailand terkena ledakan ranjau di wilayah yang sedang diperebutkan.

Lebih dari 96 orang kehilangan nyawa akibat pertempuran di wilayah perbatasan tersebut.

Otoritas Thailand menyatakan bahwa 23 prajurit Thailand dan satu penduduk sipil meninggal dalam pertempuran tersebut. Sebanyak 41 orang penduduk sipil lainnya juga turut kehilangan nyawa sebagai "dampak sampingan."

Kementerian Dalam Negeri Kamboja menyatakan bahwa 31 warga sipil negara tersebut meninggal dunia.

Hampir satu juta penduduk telah meninggalkan wilayah mereka masing-masing sejak pertikaian kembali meletus pada 8 Desember.

Kementerian Dalam Negeri Kamboja menyatakan bahwa sekitar 610.000 penduduk negara tersebut melarikan diri akibat pertikaian yang sedang berlangsung. Seperti dilaporkan oleh Agence Kampuchea Presse.

Pada tanggal 27 Desember 2025, Thailand dan Kamboja mengadakan kesepakatan gencatan senjata guna mengakhiri pertempuran yang berlangsung selama beberapa minggu di sepanjang perbatasan.

Perjanjian ini berlaku pada siang hari dan mengajak berhentinya aktivitas militer serta pelanggaran ruang udara untuk tujuan militer. Gencatan senjata ini masih lemah karena belum adanya kepercayaan penuh antara kedua belah pihak.

 

5. Perang India-Pakistan

Perang singkat antara India dan Pakistan berlangsung pada 7 hingga 10 Mei 2025. Perkelahian bermula dari peristiwa pada 22 April di Pahalgam, India. Kejadian tersebut mengakibatkan kematian sebanyak 22 orang.

India melakukan serangan balasan terhadap Pakistan pada 7 Mei. Peristiwa ini memicu perang empat hari antara India dan Pakistan dari tanggal 7 hingga 10 Mei, yang menjadi krisis militer terbesar dalam beberapa dekade antara dua negara nuklir yang bersaing ini.

Kedua pihak mengklaim kemenangan meskipun terdapat banyak informasi yang salah dan palsu mengenai kejadian tersebut.

Pertempuran ini mengungkap informasi yang baru. Ini merupakan pertama kalinya India mempergunakan rudal jelajah terhadap Pakistan, baik rudal jelajah BrahMos (yang dikembangkan bersama Rusia) maupun SCALP-EG yang dibuat di Eropa.

Ini adalah pertama kalinya Pakistan menggunakan rudal balistik jarak pendek yang ditenagai konvensional terhadap India, seperti rudal Fatah-I dan Fatah-II serta kemungkinan jenis rudal lainnya. Pesawat tak berawak juga digunakan sepanjang garis kontrol di Kashmir. Beberapa laporan menyebutkan setidaknya 50 orang tewas dalam pertempuran tersebut.

 

6. Perang Sudan

Perang saudara di Sudan menjadi salah satu krisis paling parah sepanjang tahun 2025. Di akhir tahun 2025, Pasukan Dukungan Cepat (RSF) berhasil menguasai wilayah El Fasher yang sebelumnya berada di bawah kendali pemerintah.

Aljazirah melaporkan, kelompok RSF yang bertempur melawan militer Sudan untuk memperoleh kendali atas negara tersebut telah membunuh setidaknya 1.500 orang dalam tiga hari terakhir ketika penduduk sipil berusaha meninggalkan kota yang dikelilingi pasukan.

Pertempuran ini juga dikenal sebagai pembunuhan massal yang berbasis ras antara penduduk Arab dan non-Arab.

RSF telah terlibat dalam konflik berdarah dengan pasukan Sudan sejak 2023, yang telah menyebabkan kematian puluhan ribu orang dan membuat lebih dari 12 juta penduduk mengungsi. Pasukan paramiliter menyerang el-Fasher, basis terakhir tentara di Darfur, pada hari Minggu setelah 17 bulan pengepungan.

Banyak laporan menyebutkan bahwa keberhasilan RSF merebut El Fasher tidak terjadi secara mandiri. Ada pihak lain yang turut serta dalam pertempuran tersebut. Salah satu yang dianggap terlibat adalah Uni Emirat Arab. UEA disebut-sebut telah membantu mengirimkan senjata kepada RSF meskipun hal itu telah dibantah.

TerPopuler