Kasus Anak SD Bunuh Ibu di Medan, Kakak Korban Alami Trauma Berat -->

Kasus Anak SD Bunuh Ibu di Medan, Kakak Korban Alami Trauma Berat

30 Des 2025, Selasa, Desember 30, 2025
Ringkasan Berita:
  • Anak Sekolah Dasar yang membunuh ibunya di Medan meninggalkan luka yang dalam bagi keluarga, terutama saudara kandung pelaku.
  • Hasil otopsi menunjukkan korban meninggal dunia dengan 26 luka tusukan, sedangkan motifnya disebabkan oleh penumpukan kekerasan dalam rumah tangga selama bertahun-tahun.
  • Saudara pelaku saat ini mengalami gangguan stres akut dan menerima bimbingan psikososial yang intensif.

NEWSMAKER.COM -Peristiwa menyedihkan seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan diduga melakukan pembunuhan terhadap ibunya di Medan terus meninggalkan rasa sedih yang mendalam.

Tidak hanya ibu yang menjadi korban, dampak psikologis berat kini dirasakan oleh saudara pelaku yang menyaksikan dan mengetahui kejadian tersebut.

Pihak yang terlibat mengungkapkan bahwa saudara pelaku mengalami trauma parah hingga gangguan stres, sehingga kini mendapatkan bimbingan intensif.

Tim gabungan dari Polrestabes Medan dan Rumah Sakit Bhayangkara menemukan informasi terbaru yang mengejutkan dalam kasus pembunuhan Faizah Soraya (42) yang dilakukan oleh anak kandungnya sendiri.

Berdasarkan hasil otopsi resmi, tim medis menemukan sebanyak 26 luka tusuk di tubuh korban yang mengakibatkan kematian tragis di rumahnya.

Penyelidikan mendalam dengan pendekatan ilmiah dalam penegakan hukum ini juga melibatkan tim khusus bersama Polda Sumut dan para asisten dari Mabes Polri untuk memastikan seluruh proses hukum berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Analisis Psikologi Forensik Mengenai Pemicu Emosi Marah Pelaku dan Dinamika Keluarga

Ahli psikologi forensik, Irma Minauli, memberikan penjelasan yang mendalam mengenai alasan tindakan pelaku yang dipengaruhi oleh rasa sakit hati yang menumpuk akibat kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi selama tiga tahun terakhir.

Meskipun kakak sering menjadi korban kekerasan fisik dari ibunya, ternyata adik yang bertindak sebagai pelaku justru mengalami beban emosional dan rasa sakit yang lebih dalam.

"Kakaknya tidak sebegitu sedih hatinya dibanding adiknya terhadap perlakuan ibunya. Karena kakak berusaha memahami," jelas Irma Minauli saat menyampaikan analisis dinamika keluarga korban pada Senin (29/12/2025).

Kondisi psikologis ibu yang diduga semakin mudah marah setelah berpisah kamar dengan suaminya dianggap sebagai bentuk perpindahan kemarahan yang secara tidak langsung memengaruhi kestabilan emosional anak-anaknya.

Gangguan Stres Akut yang Dialami Kakak dan Rasa Takut terhadap Kembali Terjadinya Kejadian

Trauma besar kini menghantui saudara pelaku yang diketahui mengalami gangguan stres akut setelah mengalami peristiwa berdarah yang menimpa ibunya.

Irma Minauli menyampaikan bahwa kakaknya saat ini dalam keadaan cemas dan sangat khawatir jika adiknya bisa melakukan tindakan serupa terhadap dirinya.

"Kondisi cemas, khawatir jika hal itu akan terulang kembali," kata Irma saat menggambarkan rasa takut berlebihan yang dirasakan oleh saudara kandung pelaku tersebut.

Kepala Dinas P3AKP Provsu, Dwi Enda Purwanti, menegaskan bahwa pemerintah saat ini memberikan bimbingan psikososial yang intensif kepada kedua anak tersebut karena keduanya dianggap mengalami trauma berat yang sangat berbahaya.

Penjelasan Mengenai Jejak Darah dan Tanggapan Investigasi terhadap Masyarakat Klarifikasi tentang Jejak Darah serta Respon Investigasi terhadap Publik Penjelasan Terkait Jejak Darah dan Tanggapan dari Penyelidikan terhadap Masyarakat Pernyataan Mengenai Jejak Darah dan Respons Investigasi terhadap Umum Penjelasan tentang Jejak Darah dan Tindakan Investigasi terhadap Publik

Tim Labfor Polda Sumut juga memberikan penjelasan teknis terkait ditemukannya jejak darah di lokasi kejadian yang sempat memicu berbagai spekulasi di kalangan masyarakat.

Hasil tes DNA menunjukkan bahwa darah yang ditemukan mulai dari lantai pertama hingga kamar ayah korban berasal dari saudara kandung korban, yang terluka saat mengambil pisau untuk memanggil ayahnya.

Kapolrestabes Medan juga merespons pertanyaan masyarakat terkait tindakan pertama yang dilakukan, di mana suami korban sempat menghubungi beberapa rumah sakit tetapi hanya Rumah Sakit Colombia yang segera merespons.

Semua bukti forensik dan keterangan para ahli kini telah sesuai dengan alur kejadian, sehingga pihak kepolisian tetap berfokus pada penyelesaian kasus ini sambil terus memperhatikan hak-hak anak yang menjadi pelaku di bawah umur.

(Newsmaker.com/-Medan.com) 

Jangan lewatkan berita-berita menarik lainnya dari Newsmaker.com di Google News , Threads dan Facebook

TerPopuler