
Bengkalispos.com- Perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 tidak hanya akan diisi dengan pidato dan upacara. Ada langkah yang tidak biasa sedang dipersiapkan: ratusan jurnalis dari berbagai daerah Indonesia akan meninggalkan kantor redaksi, lalu masuk ke kawah pendidikan militer di Akademi Militer (Akmil) Magelang.
Kementerian Pertahanan bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat akan menyelenggarakan retret khusus bagi para jurnalis pada akhir Januari atau awal Februari 2026. Sebanyak 200 wartawan anggota PWI akan diberangkatkan bersama-sama menggunakan pesawat Airbus A400M TNI AU dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Jawa Tengah—suatu pengalaman yang langka, bahkan mungkin pertama kalinya bagi para insan pers nasional.
Retret ini merupakan bagian dari kerja sama strategis Kemenhan dan PWI dalam menyambut HPN 2026, sekaligus menegaskan kembali peran pers dalam konteks nasional dan pertahanan negara.
Ketua PWI Pusat Akhmad Munir—yang juga menjabat sebagai Direktur Utama LKBN ANTARA—menggambarkan kolaborasi ini sebagai kesempatan bertemu nilai antara jurnalisme dan dedikasi terhadap bangsa.
"Bila memungkinkan, terdapat kegiatan para jurnalis yang bisa bekerja sama langsung dengan program dan agenda Kemenhan pada tahun 2026," kata Munir saat pertemuan dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Kantor Kemenhan, Jakarta.
Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran PWI Pusat serta pejabat Kemenhan, menjadi tanda adanya komunikasi yang terbuka antara media dan lembaga pertahanan negara.
Munir juga menegaskan bahwa PWI kini telah kembali utuh setelah diadakannya Kongres Persatuan PWI di Cikarang pada Agustus 2025. Momentum persatuan tersebut, menurutnya, menjadi bekal penting dalam menyambut HPN 2026 yang akan digelar di Banten pada 9 Februari 2026, dengan rencana hadirnya Presiden RI Prabowo Subianto.
HPN 2026 dibuat sebagai ajang besar untuk refleksi dan pertukaran ide pers Indonesia. Selain acara utama, rangkaian kegiatan mencakup Konvensi Nasional Media Massa, diskusi wartawan, konferensi kerja nasional, seminar-seminar, FGD, pameran foto jurnalistik, pertunjukan budaya, pameran UMKM, serta lomba karya jurnalistik multiplatform.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyambut baik semua rencana tersebut. Ia bahkan secara terbuka menyatakan dukungan terhadap rencana pengunduran diri jurnalis di Akmil.
"Diperbolehkan diselenggarakan pelatihan khusus untuk 200 jurnalis seluruh Indonesia, seperti yang pernah dilakukan bersama KADIN. Silakan diatur oleh Kepala Biro Informasi Pertahanan," ujar Sjafrie.
Selain sebagai agenda kegiatan, pertemuan tersebut juga menjadi momen perkenangan bagi Menhan dengan dunia jurnalisme. Ia mengingat masa tugasnya sebagai Kepala Penerangan TNI, di mana banyak memperoleh pembelajaran langsung dari tokoh-tokoh pers nasional seperti Jakob Oetama, Sabam Siagian, serta mengapresiasi karya legendaris Rosihan Anwar yang pernah mewawancarai Panglima Besar Jenderal Soedirman pada masa perang gerilya.
Sejak dahulu, pers memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa ini," katanya. "Di masa depan, perannya harus semakin besar lagi.
Retret jurnalis di Akmil Magelang bukan hanya perjalanan fisik, tetapi simbol pertemuan dua pilar demokrasi: kebebasan pers dan tanggung jawab nasional—sebuah gambaran bahwa jurnalisme pada akhirnya juga merupakan bagian dari pengabdian.