Marita Lorenz, Mata-Mata CIA yang Jadi Kekasih Fidel Castro -->

Marita Lorenz, Mata-Mata CIA yang Jadi Kekasih Fidel Castro

9 Des 2025, Selasa, Desember 09, 2025

Marita Lorenz merupakan agen CIA. Prestasi terbesarnya adalah mencuri peta pangkalan roket Uni Soviet di Kuba. Ia juga pernah berpacaran dengan Fidel Castro.

Artikel ini pertama kali diterbitkan di Majalah Bengkalispos.com pada edisi Oktober 1975 dengan judul "Marita Lorenz, Mata-mata Jerman yang Menjadi Pacar Castro"

---

Bengkalispos.com hadir di channel WhatsApp, ikuti dan peroleh berita terbaru kami di sini.

---

Bengkalispos.comOnline.com -Pada tahun 1960, seorang putri kapten kapal berusia 18 tahun dari Bremen, Jerman, berhasil menyelamatkan dunia dari Perang Dunia III. Gadis Jerman tersebut pada masa krisis Kuba menjadi kekasih Castro dan berhasil mencuri peta basis roket Soviet di Kuba. Apa yang terjadi antara dia dan El Comandante berjenggot itu dapat kita baca dalam majalah.Quick yang mengutip dari Daily News.

Pada suatu malam di bulan Februari tahun 1959, kejadian dimulai di Havana, ketika sebuah kapal sandar di samping kapal Jerman Barat bernama "Berlin". Kapal tersebut penuh dengan turis Amerika yang sedang melakukan perjalanan keliling Karibia menggunakan kapal mewah itu. Pada masa Fidel Castro mengambil alih kekuasaan, para turis Amerika masih diterima dengan baik.

Namun para pengunjung berlari ke kabin masing-masing ketika 20 prajurit Kuba yang berjenggot dan lengkap senjata naik ke kapal, berteriak-teriak serta menembakkan pistolnya. Di antara prajurit yang mengenakan seragam khaki dan merokok cerutu tersebut ternyata terdapat Fidel Castro. Dengan tertawa dia berseru: "Saya teman Anda. Saya menyukai orang Amerika".

Apa yang terjadi setelah kejadian tersebut memang mirip dengan cerita romansa yang menegangkan. Castro jatuh cinta pada putri kapten kapal. Marita Lorenz, yang berusia 18 tahun, diangkat menjadi sekretarisnya dan kemudian diperintahkan untuk menjemputnya dengan pesawat pribadinya dari New York.

Kata Marita sekarang: "Saya kira saya akan mendapatkan meja belajar atau meja biasa. Tapi saya"kecele. Saya menjadi tahanan. Saya terjebak dalam jebakan.

Castro saat itu tinggal di "Hilton" Havana, lantai ke-24 dan gadis Jerman itu menjadi kekasihnya. Dia selalu diawasi oleh seorang pasangan tentara yang berganti setiap satu jam. Dari balkon, dia diberi kesempatan untuk melihat kota ibu kota Kuba yang indah. Itu saja.

Cinta dan kasih sayang? Bagaimana mungkin seseorang terus merasa takut. Jika seseorang dianggap sebagai perabot rumah tangga. "Di bawah tempat tidur saya menyimpan sebuah senjata kecil. Di atas meja dan kursi semuanya tersedia senjata. Dan keseluruhannya sangat kotor, yang memang bisa diharapkan dari seorang revolusioner. Saya tidak percaya bahwa Castro memimpin negaranya dari tempat seperti itu."

Seragam letnan…

Setelah dua bulan, Castro memberikan izin kepadanya untuk membuat seragam hijau seperti yang dipakai oleh para pria. Dan dengan tertawa, dia memasang tanda letnan di seragam tersebut.

"Rambutku harus disembunyikan di bawah helm militer. Dengan pakaian seperti itu akhirnya aku diperbolehkan keluar. Meskipun demikian, tidak lama kemudian semua orang di Havana tahu bahwa Castro memiliki 'cadangan' Jerman. Sejak saat itu, menurutku, aku menjadi masalah," katanya.

Jika Castro tidak berada di Havana, penduduknya berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan caranya masing-masing. Mereka mengundang Marita Lorenz untuk berjalan-jalan, menggoda dia masuk ke dalam penjara yang dulu digunakan untuk menahan Fidel Castro dan saudaranya Raul oleh mantan diktator Baptista. Setelah itu, pintu ditutup di belakangnya.

Kata Marita: "Pokoknya ngeri. Setiap pagi ada perintah penembakan dan pembukaan kamar tahanan untuk memastikan apakah saya masih hidup. Ini harus saya alami selama seminggu. Kemudian saya mendengar bahwa Castro sedang berada di luar negeri.

Pikiranku: "Ia pasti menyembunyikanku di penjara agar tidak bisa melarikan diri. Saat Fidel kembali, aku dikeluarkan lagi."

Empat bulan ia tinggal sebagai tahanan Castro di Havana Hilton. Pada suatu malam, seorang prajurit Kuba, yang merupakan pengawal pribadi Castro, lewat dan berkata: "Saya akan membebaskan kamu."

Itu justru bukan yang saya harapkan.

Pasukan tersebut bernama Frank Fiorini, yang termasuk dalam tim penasihat Castro sekaligus bekerja untuk CIA. (Fiorini kemudian menjadi terkenal, atau terkena kritik, karena menggunakan nama Frank Sturgis sebagai salah satu pelaku pencurian yang diperintahkan oleh Presiden Nixon untuk memasuki kantor pusat Partai Demokrat di Hotel "Watergate" dan akhirnya tertangkap.)

Fiorini memanfaatkan kekacauan yang dialami Marita dengan tenang. Karena putri kapten kapal itu semakin membenci Castro, Fiorini mengajaknya untuk menjadi mata-mata. Ia diperintahkan membuat kopi dari naskah-naskah, melanjutkan percakapan Castro dengan tamu asing, serta mendengarkan percakapannya melalui telepon.

Di dalam kamarnya, dokumen-dokumen berceceran. Kontrak-kontrak diletakkan di lantai, laporan rahasia di bak cuci, dan akta-akta disimpan di lemari pakaian. Di antaranya masih terdapat uang, pistol, serta rencana-rencana. "Saya mengambil kertas-kertas yang menurut saya penting. Kemudian saya serahkan kepada Fiorini. Saya benar-benar sangat takut, tetapi tampaknya Fidel tidak merasa kehilangan apa pun."

Disembunyikan di Miami

Fase pertama spionase itu berakhir ketika Marita mengalami sakit parah dan tidak mampu tinggal di kamar Castro lagi. Fiorini yang mengantarkannya ke pesawat untuk kembali ke New York. Marita Lorenz telah bekerja dengan baik, namun belum berhasil menemukan naskah yang penting.

Apakah dia berani kembali ke Havanna lagi? Apakah Castro akan membalas dendam karena dia kabur? Namun CIA tidak terburu-buru. Selama beberapa minggu, mantan kekasih Castro itu disembunyikan di sebuah hotel kecil di Miami sambil menunggu tugas berikutnya. Ketika muncul kabar bahwa Castro pergi ke ujung paling barat Kuba, badan intelijen mulai bertindak.

Marita Lorenz memesan tiket ke Havana, naik Cubana. Tanpa banyak kesulitan dia lewat pabean, dan sebagai turis Amerika dia tinggal dalam hotel yang terpencil. Waktu itu orang Amerika masih disambut baik, jadi kehadirannya tidak mencolok. Karena itu tidak ada orang yang memeriksa tasnya di mana seragam letnannya dulu masih ada di samping pistol yang terisi. Demikian cerita Marita yang di kemudian hari menjadi istri kepala rumah tangga sebuah kantor PBB di sungai Hudson, New York.

Hampir 15 tahun ia diam seribu bahasa. Baru setelah kesalahan CIA dan penyelidikan mendalam oleh surat kabarNew York Daily News, dia mau berbicara.

Tanggung jawab yang diberikan Fiorini kepada Marita pada tahun 1960 memang cukup berat. Saat itu, Marita masih berusia 19 tahun, memiliki persediaan pakaian seragam letnan dan kemampuan bahasa Spanyolnya hanya terbatas.

Sukur bawa souvenir

Ia mengetahui bahwa Castro masih berada di lantai 24 hotel Hilton. Namun ia juga menyadari bahwa ia telah tinggal di sebuah villa di kota satelit Casa Cojimar. Ke mana ia akan pergi?

Saya menduga barang-barang yang berserakan di Hotel Hilton itu sudah dibawa ke rumah barunya. Saya tidak tahu alasan pastinya, tetapi ketika saya pergi dari Kuba ke New York beberapa waktu lalu, saya membawa kunci kamar Fidel No 2406. Mungkin saya hanya ingin memiliki kenang-kenangan, namun kunci itu kini saya butuhkan.

Marita Lorenz mewarnai rambut coklatnya menjadi hitam pekat di hotelnya. Ia mengenakan seragam letnan dan kacamata plastik murah diletakkan di atas hidungnya. Persis seperti yang dipakai oleh penjaga-penjaga Castro. Kemudian ia masuk ke Hilton.

Banyak orang yang berlalu lalang di lorong, tetapi tidak ada yang memperhatikan saya saat saya mendekati lift. Saya mengenal orang-orang di bagian resepsi dan mereka juga mengenal saya. Namun tampaknya mereka mengira saya seperti pria lainnya. Saya sangat takut hingga secara tidak sengaja saya memegang erat ikat pinggang saya di mana pistol terselip. Pistol itu berasal dari Miami. Tak lama kemudian saya sudah masuk ke dalam lift dan naik.

Rasa takut agen CIA itu ternyata tidak berdasar. Kondisi Hilton tetap kacau seperti saat dia tinggal di sana. Dan informasi dari CIA sesuai. Castro sedang melakukan perjalanan. Dan bersamanya seluruh pengawal pribadinya serta staf yang tinggal di lantai ke-24.

Marita mengeluarkan kuncinya dan memasukkan ke pintu nomor 2408. Setelah masuk, kunci kembali ditutup dua kali. Kamar tersebut terlihat seperti baru ditinggalkan kemarin sore. Semua berantakan seperti biasanya dan tidak ada orang yang berani membersihkannya, karena takut akan membuang dokumen yang penting.

Saya tiba-tiba teringat bahwa Castro pernah berkata bahwa tidak ada orang yang boleh masuk ke kamarnya jika dia tidak berada di dalamnya. Dulu, leher saya merinding. Bahkan saudaranya, Raul pun tidak diperbolehkan. Saya ambil apa saja yang bisa saya bawa dan sembunyikan di bawah pakaian seragam saya. Dengan hati-hati, saya keluar dari Hilton dan menyembunyikan diri di hotel kecil saya.

Tampaknya terlalu mudah. Namun setelah diteliti ternyata Marita Lorenz tidak berkhianat.

Ia melepas seragam letnan Kuba dan mengenakan pakaian yang murah. Menggunakan pesawat dari maskapai penerbangan Kuba, ia kemudian terbang ke New York. Ia tidak tahu secara pasti dokumen apa yang diambilnya dari lantai. Di bandara New York, ia sudah menyerahkan seluruh berkas dokumen-dokumen tersebut.

Beberapa hari berlalu tanpa kejadian apa pun. Selanjutnya Fiorini meneleponnya dan mengabarkan bahwa misinya berhasil: Hasilnya luar biasa dan pemerintah Amerika berterima kasih kepada Anda.

Di antara dokumen-dokumen tersebut terdapat bagian peta berukuran besar yang dilengkapi dengan lingkaran-lingkaran. Di sampingnya terdapat catatan dalam salah satu bahasa Slavia. Baru beberapa tahun kemudian, Fiorini menyatakan bahwa peta berlingkaran itu merupakan rencana asli penempatan basis rudal Soviet di Kuba.

Gambar-gambar tersebut berasal dari tahun 1960. Dua tahun berikutnya, proyek pembangunan selesai, dan ketika Soviet ingin mengirimkan roket-roket menggunakan kapal-kapal yang melintasi Samudera Atlantik ke pulau Castro, krisis Kuba terjadi.

Pada masa itu, Presiden John F. Kennedy mengambil tindakan tegas dengan memberi ultimatum kepada Kruschev. Perang Dunia III hampir terjadi dan Kruschev mengundurkan kapal-kapalnya.

CIA tidak menyukai fakta bahwa di pintu masuk Amerika terdapat seorang diktator komunis yang berkuasa. Oleh karena itu, lembaga rahasia tersebut telah sejak tahun 1960 merencanakan antara lain:

* Pembunuhan terhadap Castro.

* Ledakan sebuah kapal bahan bakar di pelabuhan Havana.

* Pencurian sebuah kapal Rusia di perairan Kuba.

* Penyelesaian rahasia melibatkan tokoh-tokoh mafia yang kehilangan keuntungan mereka akibat Castro.

* Serangan udara terhadap markas militer Kuba.

Di sisi lain, putri kapten Jerman yang saat itu berusia 19 tahun memainkan peran penting. "Frank Fiorini dan saya selalu berpikir bagaimana cara membunuh Castro. Kami memutuskan untuk meledakkannya saat dia sedang berbicara panjang lebar. Pesawat dan bom sudah siap. Pesawat terbang, bom dilemparkan, selesai. Mudah bukan? Namun kemudian terjadi sesuatu yang tidak sesuai. Ide itu dibuang."

Marita Lorenz, yang mengaku bernama Ilona Marita, tinggal bersama Fidel Castro selama empat bulan. Apakah dia berencana membunuh Castro sesuai instruksi CIA? Ataukah ia membenci Castro karena alasan pribadi. "Ia pernah memperkosa saya di atas meja rolet kasino Hilton di depan orang-orangnya. Kejadian itu tidak bisa saya lupakan."

Putri kapten itu ternyata memang menyukai otoritarian. Dari sebuah yayasan yang khusus dibentuk untuknya, setiap bulan dia menerima seribu dolar sebagai tunjangan untuk putrinya dari hubungannya dengan mantan diktator Venezuela, Perez Jimenez.

Saat ditanya tentang hal tersebut, dia merasa tidak senang: "Itu urusan pribadi". Bagaimana dengan Fidel Castro? "Saya melakukan itu demi negara saya." Marita Lorenz menjadi warga negara Amerika. (Quick no 19 — 1975)

TerPopuler