PR NTT –Sekitar perayaan Natal 2025, dunia kembali diingatkan akan salah satu momen paling mengharukan dalam sejarah konflik bersenjata, yaitu gencatan senjata Natal selama Perang Dunia I pada tahun 1914.
Dikutip dari RRI, Senin, 8 Desember 2025, di tengah tembakan meriam dan hujan peluru yang menyebabkan ratusan ribu korban jiwa, prajurit dari dua pihak yang sedang bertikai, Inggris dan Jerman, justru melakukan tindakan yang tidak terduga: mereka menghentikan pertempuran, saling berjabat tangan, menyanyikan lagu Natal, serta bermain sepak bola bersama.
Kejadian yang tidak biasa terjadi pada Malam Natal dan Hari Natal, 24–25 Desember 1914. Pada masa itu, Perang Dunia I baru berlangsung beberapa bulan, namun telah berubah menjadi pertempuran sengit dengan sistem perang parit yang kejam sepanjang garis perbatasan Eropa Barat.
Hujan deras yang terus-menerus turun selama beberapa minggu mengubah parit pertahanan menjadi genangan lumpur yang dingin. Para tentara tinggal dalam keadaan yang sangat mengerikan, tidur, makan, dan bertahan hidup di tengah bau mesiu serta kematian.
Namun, suasana yang tegang tiba-tiba berubah ketika lagu-lagu Natal terdengar dari parit pasukan Jerman. Prajurit Inggris yang berada di seberang garis depan awalnya kaget, lalu membalas dengan menyanyikan lagu serupa.
Tanpa perintah resmi dari para jenderal, prajurit dari kedua belah pihak keluar dari parit masing-masing dan bertemu di wilayah yang tidak dikuasai siapa pun (no man’s land). Mereka berjabat tangan, bertukar makanan, minuman, rokok, serta saling memberikan ucapan Natal.
Kisah yang menyentuh telah direkam dalam surat dan catatan harian para tentara. Seorang prajurit Inggris, J. Reading, menulis kepada istrinya mengenai momen langka tersebut.
"Pada pagi hari Natal, warga Jerman mulai menyanyi dan berteriak dengan bahasa Inggris yang sangat baik. Mereka mengundang kami untuk bertemu. Kami berjabat tangan, mereka memberi kami rokok dan cerutu. Pada hari itu, kami tidak saling menembak," tulis Reading.
Kesaksian yang sama juga datang dari tentara Inggris lainnya, John Ferguson.
"Di sini kami bermain-main dengan orang-orang yang beberapa jam sebelumnya kami coba bunuh. Terasa seperti mimpi," katanya.
Yang paling mengejutkan, pihak Jerman mengungkap bahwa para tentara pernah melakukan pertandingan sepak bola sambil menunggu. Letnan Jerman Kurt Zehmisch mencatat kejadian tersebut dalam buku harian mereka.
"Orang-orang Inggris mengambil bola dari parit mereka dan segera muncul permainan yang sangat meriah," tulis Zehmisch.
Truce Natal 1914 diingat sebagai lambang kuat kemanusiaan di tengah kekejaman perang.
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa di tengah perang yang paling mematikan, masih ada tempat untuk cinta, perdamaian, dan persahabatan.
Mendekati Natal 2025, cerita ini menjadi pengingat bahwa perdamaian selalu bisa tercapai, meskipun dalam kondisi yang paling gelap.