
PR TANGERANG- Malam Tahun Baru selalu membawa suasana yang istimewa. Suara terompet yang bersahutan, langit yang berwarna-warni akibat kembang api, serta daftar resolusi yang panjangnya seperti struk belanjaan. Namun pernahkah kamu berpikir, sejak kapan manusia mulai merayakan pergantian tahun dengan semeriah ini?
Ternyata, pesta ini bukan hanya sekadar gaya hidup modern, lho! Tradisi ini memiliki akar sejarah yang sangat kuno, bahkan sudah ada ribuan tahun sebelum kita mengenal media sosial. Mari kita kembali ke masa lalu untuk melihat perjalanan panjang malam tahun baru!
Babel: Pelopor Perayaan Tahun Baru
Mungkin tidak percaya, perayaan tahun baru telah dimulai sejak 4.000 tahun yang lalu. Masyarakat Babilonia Kuno menjadi yang pertama melakukannya. Namun, berbeda dengan kita saat ini, mereka merayakan tahun baru pada akhir bulan Maret ketika musim semi tiba.
Mereka menyelenggarakan festival Akitu, upacara keagamaan besar yang berlangsung selama 11 hari. Bagi mereka, perubahan musim melambangkan kemenangan dewa langit atas kekuatan kekacauan. Oleh karena itu, tahun baru bagi masyarakat Babilonia merupakan waktu pembaruan alam.
Julius Caesar dan Figur Dewa yang Berwajah Dua
Kemudian, bagaimana ceritanya tahun baru berpindah ke 1 Januari? Semua dimulai pada tahun 46 SM. Kaisar Romawi, Julius Caesar, memperkenalkan Kalender Julius. Ia menentukan 1 Januari sebagai awal tahun guna menghormati Janus, Dewa Awal dan Akhir dalam mitologi Romawi.
Uniknya, Janus digambarkan memiliki dua wajah: satu menghadap ke masa lalu dan satunya lagi mengarah ke masa depan. Filosofi ini sangat cocok dengan semangat tahun baru yang mendorong kita untuk merenung sekaligus melihat ke depan. Masyarakat Romawi merayakannya dengan pesta yang riuh dan saling memberi hadiah berupa tanaman hijau sebagai lambang keberuntungan.
Mengapa Perlu Ada Kembang Api?
Masyarakat saat ini melihat tradisi kembang api yang memiliki makna mistis di masa lalu. Awalnya berasal dari Tiongkok, suara ledakan kembang api diyakini mampu mengusir roh jahat (Nian) agar tidak mengganggu manusia pada tahun baru.
Di Eropa, konsep "mengusir keberuntungan buruk" dilakukan dengan mengetok lonceng gereja sekuat mungkin. Oleh karena itu, suara bising pada malam tahun baru sesungguhnya merupakan cara orang dahulu untuk "membersihkan" energi negatif.
Tradisi Khas dari Berbagai Wilayah di Dunia
Setiap negara memiliki metode uniknya sendiri dalam menyambut tahun baru. Berikut beberapa yang paling terkenal:
- Spanyol:Terdapat tradisi Las Doce Uvas de la Suerte. Masyarakat akan mengonsumsi 12 biji anggur tepat pada malam tahun baru—satu biji untuk setiap dentang lonceng—sebagai tanda keberuntungan selama 12 bulan berikutnya.
- Jepang:Orang Jepang mengonsumsi Toshikoshi Soba. Mie yang panjang melambangkan usia yang panjang dan ketangguhan. Selain itu, lonceng kuil dipukul sebanyak 108 kali guna menghilangkan 108 dosa manusia.
- Amerika Serikat:Siapa yang tidak mengenal Ball Drop di Times Square, New York? Melemparkan bola kristal besar telah menjadi tradisi sejak tahun 1907 dan disaksikan oleh jutaan orang di seluruh dunia.
- Indonesia:Kami memiliki gaya yang khas! Mulai dari rombongan kendaraan, panggung hiburan musik, hingga kegiatan memanggang ayam dan jagung bersama keluarga di halaman rumah.
Tahun Baru di Zaman Layar Sentuh
Sekarang, perayaan tahun baru telah menyebar ke dunia digital. Dulu kita harus berkumpul secara langsung, kini kita dapat mengadakan "pesta virtual" melalui Zoom atau berbagi momen lewat Instagram Story dan TikTok. Meskipun medianya berbeda, intinya tetap sama: hubungan dan kebersamaan.
Masa lalu perayaan tahun baru mengajarkan satu hal: manusia selalu membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak, meninjau masa lalu, dan menciptakan harapan baru. Dari upacara kuno Babilonia hingga pesta kembang api modern di Jakarta, semuanya berujung pada satu kata: Harapan.
Jadi, apakah kamu sudah siap merayakan malam tahun baru kali ini? Bagaimanapun cara tradisimu, pastikan momen ini menjadi awal dari versi terbaikmu! ***