Muntah bisa terjadi pada siapa saja, termasuk bayi. Namun, jika bayi mengalami muntah, Ibu pasti merasa cemas. Karena bayi belum mampu menyampaikan apa yang dirasakan.
Banyak penyakit yang sering dialami bayi bisa memicu muntah. Ibu bisa memperkirakan bahwa bayi akan mengalami muntah beberapa kali selama masa awal kehidupannya.
Gejala muntah biasanya segera berakhir tanpa perlu pengobatan. Namun meskipun sering terjadi pada bayi, melihat anak muntah pasti membuat Ibu khawatir. Terlebih jika bayi mengalami muntah secara terus-menerus dan sering.
Apa penyebab bayi sering muntah? Jika hal ini terjadi pada si Kecil, mari kita simak penjelasan mengapa bayi sering muntah dalam ulasan ini.Bengkalispos.comberikut ini.
Perbedaan antara Muntah dan Gumoh
Pertama, terdapat perbedaan antara muntah dan gumoh. Muntah merupakan pengeluaran isi perut secara paksa melalui mulut. Gumoh (yang juga dikenal sebagai refluks gastroesofageal, atau GER) adalah keluarnya isi perut dengan mudah dari mulut, sering kali disertai dengan sendawa. Kondisi ini paling umum terjadi pada bayi yang berusia di bawah satu tahun.
Muntah terjadi ketika otot perut dan diafragma berkontraksi secara kuat sementara perut dalam keadaan rileks. Refleks ini diaktifkan oleh pusat muntah di otak setelah mengalami stimulasi dari salah satu hal berikut:
Saraf yang berasal dari lambung dan usus ketika saluran pencernaan (GI) mengalami iritasi atau pembengkakan akibat infeksi atau penyumbatan
Bahan kimia dalam darah (seperti obat-obatan)
Stimulus psikologis yang berasal dari pemandangan atau aroma yang mengganggu
Stimulus dari telinga tengah (seperti muntah yang terjadi akibat mabuk perjalanan)
Beberapa Faktor yang Menyebabkan Bayi dan Anak Kecil Sering Muntah
Penyebab muntah bisa berbeda-beda tergantung pada usia seseorang dan meliputi:
Refluks gastroesofageal (GER)
Dalam beberapa bulan pertama, sebagian besar bayi sering mengeluarkan sedikit susu formula atau ASI—biasanya dalam satu jam pertama setelah makan. Kondisi ini dikenal sebagai refluks gastroesofageal (GER). Hal ini terjadi karena makanan sesekali bergerak dari lambung melalui saluran (esofagus) dan keluar dari mulut.
GER biasanya menurun seiring bertambahnya usia bayi, namun bisa tetap muncul dalam bentuk yang ringan hingga usia 10 hingga 12 bulan. Untungnya, kondisi ini tidak mengganggu proses pemberian makan atau pertumbuhan berat badan yang normal. Muntah cenderung lebih jarang terjadi jika bayi tetap duduk tegak setelah makan, sering disendawakan, serta aktivitas bermain (termasuk waktu berbaring perut) dibatasi sesaat setelah makan.
Penyakit Refluks Gastroesofageal (GERD)
Terkadang, muntah pada beberapa minggu hingga bulan pertama setelah lahir justru memburuk. Artinya, meskipun tidak terlalu parah, muntah terjadi secara terus-menerus. Keadaan ini bisa terjadi ketika otot-otot di bagian bawah kerongkongan menjadi terlalu rileks, sehingga isi perut dapat kembali naik. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit refluks gastroesofageal, atau GERD.
Meskipun GER biasanya normal, GERD dapat dikaitkan dengan masalah pemberian makan. Contohnya termasuk nyeri saat menyusui, gejala pernapasan seperti tersedak dan batuk, dan penambahan berat badan yang buruk.
Stenosis Pilorik Hipertrofik
Muntah sesekali dapat terjadi selama bulan pertama bayi. Jika terjadi berulang kali atau sangat kuat, hubungi dokter anak. Ini mungkin hanya kesulitan makan ringan, tetapi juga bisa menjadi tanda sesuatu yang lebih serius yang dikenal sebagai stenosis pilorik hipertrofik.
Stenosis pilorik hipertrofik umumnya terjadi pada usia 2 minggu hingga 4 bulan. Kondisi ini terjadi akibat penebalan otot di bagian pintu masuk lambung yang menghambat perjalanan makanan ke usus. Penanganan medis segera diperlukan. Operasi biasanya dilakukan untuk memperlebar area yang sempit.
Tanda utama dari stenosis pilorik hipertrofik adalah muntah yang terjadi sekitar 15 hingga 30 menit atau bahkan lebih cepat setelah pemberian makan. Jika Mama melihat gejala ini, segera hubungi dokter anak.
Enterokolitis yang Disebabkan Protein Makanan (FPIES)
Muntah juga bisa terjadi pada enterokolitis yang disebabkan oleh alergi protein makanan (FPIES), yaitu jenis alergi makanan langka yang umumnya terjadi pada bayi usia muda. FPIES memicu episode muntah yang parah dan berulang, diikuti dengan diare, yang terjadi beberapa jam setelah mengonsumsi makanan penyebabnya. Gejala FPIES sering kali salah diartikan sebagai infeksi saluran pencernaan.
FPIES umumnya terjadi ketika makanan padat mulai diperkenalkan ke dalam pola makan bayi, biasanya pada usia 4 hingga 6 bulan. Penyebab utamanya adalah beras, gandum, oat, kentang, atau ayam, namun bisa juga terjadi akibat makanan lain. FPIES juga bisa muncul lebih awal, di bulan-bulan pertama kehidupan, akibat paparan susu atau kedelai. Muntah dan diare yang disebabkan oleh FPIES dapat menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan intravena (IV) mungkin diperlukan.
Infeksi saluran pencernaan
Setelah bayi berusia beberapa bulan, penyebab muntah yang paling umum yaitu infeksi pada lambung atau usus. Virus merupakan penyebab yang paling sering, namun terkadang bakteri dan bahkan parasit juga bisa menjadi penyebabnya. Infeksi tersebut dapat memicu demam, diare, serta terkadang mual dan nyeri perut.
Rotavirus merupakan salah satu penyebab infeksi saluran pencernaan akibat virus. Jenis virus lain, seperti norovirus, enterovirus, dan adenovirus, juga bisa menjadi penyebabnya.
Beberapa infeksi yang terjadi di luar sistem pencernaan bisa memicu muntah. Contohnya meliputi infeksi saluran pernapasan, infeksi saluran kemih, infeksi telinga tengah, meningitis, serta radang usus buntu.
Kapan Ibu Perlu Khawatir Jika Bayi Muntah?
Perhatikan tanda-tanda gangguan berikut, terlepas dari usia si Kecil, dan segera konsultasikan ke dokter anak jika terjadi:
Darah atau cairan kuning (zat berwarna hijau) dalam muntahan, atau muntahan yang tampak seperti kopi yang sudah diseduh
Sakit perut hebat
Muntah hebat dan berulang
Perut bengkak atau membesar
Lesu atau mudah marah
Kejang
Penyakit kuning
Tanda-tanda atau gejala kekurangan cairan tubuh, seperti mulut yang kering, tidak mengeluarkan air mata, lekuk pada bagian atas kepala yang menonjol, serta penurunan jumlah buang air kecil.
Kurangnya kemampuan untuk mengonsumsi cairan dalam jumlah yang cukup
Muntah saat bangun tidur
Muntah yang terus-menerus berlangsung lebih dari 24 jam
Berikut adalah beberapa variasi dari teks yang diberikan: 1. Ini penjelasan mengapa bayi sering muntah. Meskipun muntah umum terjadi pada bayi, Ibu tetap perlu waspada dan memperhatikan gejala-gejala lain yang muncul. 2. Berikut penjelasan mengapa bayi sering mengalami muntah. Meski kejadian ini biasa, orang tua tetap harus mengawasi dan mengenali tanda-tanda tambahan yang muncul. 3. Inilah penjelasan tentang alasan bayi sering muntah. Meskipun muntah sering dialami oleh bayi, Ibu tetap perlu waspada dan mengamati gejala-gejala pendampingnya. 4. Ini adalah penjelasan mengapa bayi kerap muntah. Meski kejadian ini umum, Mama tetap harus berhati-hati dan memperhatikan gejala-gejala yang menyertai. 5. Berikut penjelasan mengapa bayi sering muntah. Meskipun muntah sering terjadi pada bayi, Ibu tetap perlu waspada dan mengamati gejala-gejala yang muncul bersamaan.
7 Alasan Bayi Muntah Darah yang Harus Diperhatikan Penyebab Bayi Muntah Saat Diberi Makanan Pendamping ASI Menurut Dokter 5 Alasan Bayi Muntah Setelah Mengonsumsi ASI, Bisa Jadi Akibat Asam Lambung

