
Bengkalispos.com, DENPASAR – Kesempatan merayakan Tahun Baru 2026 di Bali akan terasa berbeda karena adanya larangan penggunaan kembang api.
Meskipun penggunaan kembang api sangat berkaitan erat dengan perayaan tahun baru, dan menjadi salah satu momen yang dinantikan oleh para wisatawan serta penduduk di Bali. Pada tahun-tahun sebelumnya, hampir semua destinasi utama seperti di pantai, hotel maupun Daya Tarik Wisata (DTW) memanfaatkan kembang api.
Pemerintah mengimbau masyarakat serta para wisatawan agar tidak menyalakan kembang api. Pengelola Daerah Wisata Wisata (DTW) juga dilarang menggunakan kembang api. Menurut pemerintah, perayaan Tahun Baru 2026 tidak dilakukan secara berlebihan karena adanya bencana besar yang terjadi di Sumatera dan Aceh.
Para pengelola DTW mengakui telah menerima petunjuk untuk tidak menggunakan kembang api pada malam tahun baru. Asisten Manajer DTW Tanah Lot, I Putu Toni Wirawan menyampaikan bahwa di Tanah Lot tidak akan ada perayaan yang melibatkan kembang api. Menurutnya, selain karena larangan pemerintah, banyak pura di Tanah Lot merupakan objek wisata budaya, dan di dalamnya terdapat banyak pura yang perlu dijaga.
"Tidak ada pesta kembang api, karena Tanah Lot merupakan wisata budaya, di dalamnya juga terdapat banyak pura," kata Toni kepada media, Kamis (31/12).
Wakil Ketua PHRI Kabupaten Badung yang juga menjabat sebagai Bendesa Adat Kuta, Komang Alit Ardana menyatakan bahwa di Pantai Kuta dilarang penggunaan kembang api pada malam tahun baru. Hal ini dilakukan sebagai wujud dukungan terhadap para korban bencana di Sumatera.
"Perayaan tahun baru sebaiknya dilakukan dengan penuh empati terhadap saudara-saudara yang menjadi korban bencana di Sumatera," ujar Alit.
Destinasi lain juga memutuskan untuk tidak menggunakan kembang api, seperti pengelola Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang memilih menggunakanlaser showsebagai pengganti dari mercon.
Jutaan pengunjung diharapkan akan merayakan pergantian tahun di Bali, baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Tingkat okupansi hotel juga mulai meningkat, misalnya di Kuta, PHRI melaporkan bahwa okupansi sebagian besar hotel telah mencapai 100%.