Qatar: Gencatan Senjata Gaza Terancam Gagal -->

Qatar: Gencatan Senjata Gaza Terancam Gagal

7 Des 2025, Minggu, Desember 07, 2025

PERDANA Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani mengatakan, proses menuju perdamaianGaza secara permanen berisiko gagal tanpa tindakan cepat dari pihak-pihak yang terkait. Dalam pidatinya di Doha Forum pada Sabtu, 6 Desember, ia menegaskan bahwa kondisi saat ini bukanlah gencatan senjata yang sempurna.

"Kita berada di titik penting. Ini belum mencapai tujuan. Jadi yang kita miliki saat ini hanyalah jeda," kata Al Thani, menurut laporanAl JazeeraIa menyampaikan bahwa berhentinya kekerasan tidak dapat dianggap sebagai gencatan senjata tanpa adanya penarikan lengkap pasukan Israel, pemulihan stabilitas, serta kebebasan pergerakan bagi penduduk Palestina.

"Perjanjian gencatan senjata tidak dapat dicapai tanpa penarikan lengkap pasukan Israel, sehingga stabilitas kembali ke Gaza dan orang-orang bisa keluar-masuk, yang belum terjadi saat ini," katanya.

Negosiasi Damai Masih Terkendala

Al Thani menyebut negosiasi konsolidasi gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat berada pada tahap "mengkhawatirkan". Qatar, sebagai pihak penengah utama, sedang berupaya mendorong tahap selanjutnya dari rencana perdamaian yang dibuat Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri dua tahun konflik di Gaza. Rencana tersebut melibatkan pembentukan pemerintahan sementara di Gaza, yang diawasi oleh sebuah dewan perdamaian (BoP) internasional dan didukung oleh pasukan keamanan gabungan (ISF).

Namun, menurut laporan Arab News, komposisi dan wewenang pasukan internasional tetap menjadi isu utama. Pada hari Kamis kemarin, delegasi Israel berdiskusi dengan perantara di Kairo mengenai pemulangan tawanan terakhir yang masih berada di Gaza.

Setelah gencatan senjata berlaku hampir sebulan, Hamas telah mengembalikan seluruh 20 tahanan yang masih hidup serta 27 jenazah sebagai pertukaran untuk pembebasan sekitar 2.000 tahanan dan narapidana Palestina.

Peringatan dari Turki

Turki juga memberikan peringatan serupa. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan bahwa proses perdamaian bisa kehilangan arah jika Amerika Serikat tidak segera melakukan tindakan. "Pejabat tinggi AS perlu campur tangan secara tepat waktu agar kita dapat memasuki tahap berikutnya, jika tidak, kita mungkin kehilangan momentum," ujar Fidan. Ia menekankan bahwa Hamas telah menyelesaikan hampir semua kewajibannya, dengan satu jenazah tahanan masih berada di Gaza.

Selama proses negosiasi berlangsung, kekerasan di Gaza tetap berlangsung. Sekitar 600 pelanggaran terhadap jeda kekerasan tercatat dalam tujuh minggu terakhir. Pada hari Sabtu, 6 Desember, tiga penduduk Palestina meninggal akibat serangan Israel di Beit Lahiya, bagian utara Gaza. Hingga saat ini, Israel dan Hamas saling menyalahkan atas pelanggaran kesepakatan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat.

TerPopuler