AS dan Ukraina menyatakan sepakat mengenai kerangka rencana perdamaian berisi 20 poin, namun belum menyelesaikan masalah inti. Masalah penyerahan wilayah kepada Rusia masih terkendala, sementara tanggapan Moskow belum jelas.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan keberhasilan dalam meraih beberapa pengurangan terbatas dalam versi terbaru rancangan perdamaian yang diinisiasi Amerika Serikat guna mengakhiri invasi Rusia. Meskipun demikian, isu-isu penting—khususnya mengenai wilayah dan penerimaan Moskow, masih jauh dari penyelesaian.
Rencana perdamaian berisi 20 poin yang dihasilkan oleh para perunding Amerika Serikat dan Ukraina kini sedang dipertimbangkan oleh Rusia. Sejauh ini, Kremli tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kelembutan dari persyaratan ketatnya: penarikan seluruh pasukan Ukraina dari wilayah timur.
Volodymyr Zelensky mengakui terdapat beberapa hal dalam dokumen tersebut yang tidak ia setujui. Namun, ia memastikan bahwa Kyiv berhasil menghilangkan tuntutan agar Ukraina segera meninggalkan Donetsk, serta menghapus pengakuan resmi terhadap wilayah yang direbut oleh Rusia sebagai bagian dari negara tersebut.
Meskipun demikian, usulan tersebut tetap memungkinkan pengurangan sebagian pasukan Ukraina, termasuk dari sekitar 20 persen wilayah Donetsk yang masih berada di bawah kendali Kyiv. Wilayah-wilayah tersebut dapat menjadi zona demiliterisasi. Rencana ini juga tidak lagi memaksa Ukraina secara hukum menarik ambisinya untuk bergabung dengan NATO.
Zelensky menjelaskan isi dokumen tersebut dalam sesi arahan selama dua jam bersama para jurnalis, sambil membaca naskah yang telah diberi penekanan dan catatan tangan. "Di wilayah Donetsk, Lugansk, Zaporizhzhia, dan Kherson, garis posisi pasukan pada tanggal penandatanganan perjanjian ini secarade facto akan diakui sebagai garis batas," kata Zelensky.
Ia menyampaikan bahwa akan dibentuk sebuah tim kerja untuk merancang penataan ulang pasukan guna mengakhiri konflik, serta menyusun kerangka kerja untuk zona ekonomi khusus di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa rencana tersebut membuka—meski hanya menunda—pilihan yang sebelumnya dihindari oleh Ukraina: penarikan pasukan dan pembentukan zona demiliterisasi.
Kami berada dalam kondisi di mana Rusia meminta kami meninggalkan Donetsk, sementara Amerika Serikat berusaha mencari solusi tengah," ujar Zelensky. "Mereka sedang mempertimbangkan zona demiliterisasi atau zona ekonomi bebas—format yang mungkin bisa diterima oleh kedua belah pihak.
"Biarkan dia mati”
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini sedang berupaya menjadi perantara dalam upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat tahun sejak Rusia melakukan serangan besar-besaran pada tahun 2022.
Ratusan ribu jiwa melayang, wilayah timur Ukraina hancur berantakan, serta jutaan penduduk terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.
Di medan perang, pasukan Rusia terus melanjutkan penyerangan, sementara kota-kota dan sistem energi Ukraina menjadi sasaran serangan rudal dan drone hampir setiap malam. Pada hari Rabu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah memperoleh kembali satu lagi desa di wilayah Zaporizhzhia selatan.
Pada tahun 2022, Moskow mengklaim telah memperluas wilayah yang diambil dari Ukraina dengan memasukkan Donetsk, Kherson, Lugansk, dan Zaporizhzhia, selain Krimea yang sebelumnya direbut pada 2014.
Presiden Vladimir Putin tetap mempertahankan tuntutannya yang keras, menginginkan penarikan besar-besaran pasukan Ukraina serta beberapa pengakuan politik yang dianggap oleh Kyiv dan mitra Eropa sebagai bentuk penerimaan penuh.
Dalam pidato Tahun Baru Natal, Zelensky menyampaikan pernyataan tajam yang umumnya dianggap ditujukan kepada Putin. "Hari ini kita semua memiliki satu impian. Dan satu harapan bagi semua orang: Biarkan dia mati," katanya.
NATO, nuklir, dan pemilu
Zelensky menegaskan bahwa setiap kesepakatan yang mengharuskan Ukraina menarik pasukannya harus disetujui melalui referendum nasional.
"Jika kita membicarakan zona ekonomi bebas, maka keputusan harus diambil melalui pemungutan suara," katanya, merujuk pada wacana mengubah wilayah yang ditinggalkan Ukraina menjadi kawasan perdagangan bebas tanpa militer.
Mengenai isu NATO, Zelensky menyatakan bahwa keputusan untuk menerima Ukraina sebagai anggota berada di tangan negara-negara anggota. "Pilihan kami sudah jelas. Kami menolak perubahan konstitusi yang akan melarang Ukraina untuk bergabung dengan NATO," katanya.
Namun, peluang Ukraina untuk menjadi anggota aliansi tersebut tetap rendah, mengingat Washington telah menghapuskannya dari daftar prioritas jangka pendek. Rusia secara berulang menyebut keanggotaan Ukraina di NATO sebagai "garis merah" — dan alasan utama dari invasi.
Rencana perdamaian tersebut juga melibatkan pengelolaan bersama pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia oleh Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia. Zelensky menyatakan bahwa ia tidak menginginkan partisipasi Rusia dalam pengawasan fasilitas tersebut.
Ia juga mengatakan bahwa Ukraina akan segera menyelenggarakan pemilihan presiden setelah perjanjian damai ditandatangani—isu yang selama ini ditekankan baik oleh Putin maupun Trump.
Di sisi lain, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa Moskow masih "menyusun pandangan mereka" dan enggan memberikan komentar mengenai rincian rencana terbaru tersebut.
*Editor: Rizki Nugraha
ind:content_author: Ayu Purwaningsih (AFP, Reuters, dpa, Associated Press)