Seharian mendengar, pagi ini kalah -->

Seharian mendengar, pagi ini kalah

30 Des 2025, Selasa, Desember 30, 2025

Tanggal 29 Desember bukanlah hari biasa. Mulai pukul delapan pagi hingga sebelas malam, kantor selalu ramai. Pengunjung datang dari tiga kabupaten di Jawa Tengah, bahkan ada rombongan yang datang dari Thailand. Mereka tidak datang untuk berwisata atau sekadar bersilaturahmi menjelang akhir tahun. Mereka datang dengan keluhan, pertanyaan, kecemasan, dan harapan—semuanya ingin didengar, dipahami, dan jika memungkinkan, dicari solusi melalui sistem informasi.

Saya mendengarkan. Sepanjang hari. Tanpa henti yang pantas. Ini merupakan tahap awal dari pekerjaan seorang solution architect.

Ada yang menceritakan tentang usaha yang mandek, sistem yang tidak mendukung, tim yang tidak kompak, serta mimpi yang terasa terlalu berat untuk diangkat sendiri. Ada yang hanya ingin memastikan: "Saya tidak tersesat, ya?" Dan seperti biasanya, yang paling melelahkan bukan jumlah orangnya, melainkan beban pikiran yang mereka percayakan.

Mendengarkan, jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukanlah hal yang mudah. Ini bukan sekadar mendengar kata-kata, melainkan membaca situasi, memahami latar belakang, dan mengevaluasi akibat dari setiap saran yang mungkin kita berikan. Sebuah kalimat yang salah bisa menjadi kesalahan besar dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu, saya memilih untuk berbicara perlahan, hati-hati, dan jujur—meskipun jawabannya belum sempurna.

Saat malam akhirnya tiba dan tamu terakhir pergi, tubuh masih berdiri tegak. Pikiran tidak.

Pagi ini saya bangun dengan perasaan berat yang sulit diungkapkan. Bukan hanya kelelahan fisik, tetapi ada beban yang belum sempat saya selesaikan. Segala keluhan dari hari kemarin masih berserakan dalam pikiran, belum sempat saya susun menjadi rencana, belum sempat saya bentuk menjadi peta masalah yang bisa dibagikan kepada tim. Semuanya masih kasar, saling tumpang tindih, dan menunggu untuk disusun.

Pada titik ini, kelelahan terasa paling dalam. Bukan saat pekerjaan datang, melainkan ketika tanggung jawab telah diterima namun sistem pengelolaannya belum sempat dibentuk.

Masalahnya, kehidupan tidak memberikan waktu yang cukup. Ada satu komitmen pribadi yang tetap berdiri seperti jam dinding lama di rumah: menulis setiap hari. Komitmen yang saya pilih sendiri, sehingga tidak bisa saya tuntut pada siapa pun. Menulis adalah cara saya berpikir, cara saya mengatur kekacauan dalam diri, sekaligus cara saya meninggalkan jejak. Namun menulis juga membutuhkan ketenangan---sesuatu yang terasa langka pagi ini.

Di sinilah saya menyadari hal penting: tidak setiap hari harus dihabiskan dengan produktivitas. Ada hari-hari tertentu yang tujuannya bukan untuk menghasilkan, tetapi untuk merapikan kembali.

Tradisi lama sebenarnya sudah memahami hal ini. Petani tidak menanam tanpa jeda setelah panen besar. Para pandai besi tidak mengukir logam terus-menerus tanpa memberikan waktu untuk dingin. Jeda bukanlah kebiasaan malas; jeda adalah kebutuhan agar ketahanan tetap terjaga. Ironisnya, di era yang serba target, kita justru merasa bersalah ketika tubuh meminta istirahat sejenak.

Hari ini, saya tidak merasa gagal meskipun bangun dengan kepala yang berat. Justru saya merasa sedang mengalami tahap penting: tahap melepaskan beban agar bisa dibagikan, bukan ditanggung sendirian. Segala keluhan kemarin harus berubah bentuk---dari cerita menjadi struktur, dari emosi menjadi data, dari masalah menjadi tugas tim.

Jika tulisan ini hari ini terdengar lebih pelan, lebih lembut, bukan karena saya kehabisan energi. Justru karena saya memilih untuk jujur terhadap kondisi saya. Menulis bukan tentang selalu terlihat tangguh, tetapi berani mengakui saat-saat kita perlu berhenti sejenak agar tidak membuat kesalahan yang besar.

Terkadang, apa yang kita butuhkan bukanlah jawaban instan, melainkan sedikit waktu singkat untuk berhenti bergerak. Dari keheningan itulah seringkali arah yang lebih tepat muncul.

TerPopuler