
Oleh: Nur Khoirin YD*)
Bengkalispos.comTiba-tiba kita sudah memasuki tahun 2026. Terasa baru kemarin merayakan tahun baru 2025, tapi sekarang sudah kembali menyambut tahun baru lagi.
Begitu cepat waktu berlalu.
Bahkan sangat cepat karena tidak akan pernah kembali. Tidak ada peluang yang datang dua kali.
Jika tidak dimanfaatkan, yang muncul adalah penyesalan.
Sehingga muncul perkataan terkenal dari orang Arab, “Waktu yang terbuang, maka jika kamu tidak menghabiskannya, ia akan menghabiskanmu.waktu seperti pedang, jika tidak anda gunakan untuk memotong, maka anda yang akan terkena potongan.
Para pengusaha mengatakan, “time is money”(waktu adalah uang)", para santri dan siswa berucap "waktu adalah pengetahuan", para ahli ibadah memiliki semboyan "waktu adalah ibadah", para pecinta menyuarakan "tidak ada hari tanpa cinta", dan masih banyak peribahasa yang menggambarkan arti pentingnya waktu.
Nabi Muhammad saw memberikan pelajaran tentang cara memanfaatkan waktu. Beliau berkata:
Manfaatkan lima hal sebelum lima hal itu: kejantananmu sebelum tua, kesehatanmu sebelum sakit, kekayaanmu sebelum kemiskinan, kesempatanmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum kematian.
"Jagalah lima hal sebelum datangnya lima hal lainnya, yaitu: masa muda kamu sebelum tiba masa tua, masa sehat kamu sebelum tiba masa sakit, masa kaya kamu sebelum tiba masa miskin, masa hidup kamu sebelum tiba masa mati, dan masa luang kamu sebelum tiba masa sibuk." (H.R. Hakim dari Ibnu Abbas).
Lima periode ini pasti akan dialami dalam perjalanan kehidupan setiap manusia.
Saat hidup berada di masa muda, sehat, kaya, dan memiliki waktu luang, merupakan periode yang penuh produktivitas serta mendukung untuk melakukan hal-hal baik dan mencapai prestasi.
Selama masih hidup, tingkatkanlah ibadah dan kebaikan, karena kita tidak tahu kapan akan meninggal dunia.
Setelah seseorang meninggal, amal yang dilakukannya berhenti, kecuali tiga hal: amal jariyah, anak yang sholeh, dan ilmu yang bermanfaat, yang hanya dapat disiapkan selama hidup.
Sementara masih muda, lakukanlah kebaikan sebanyak mungkin, karena kita tidak tahu apakah usia kita akan sampai tua.
Sementara masih sehat, lakukanlah hal-hal yang bermanfaat, karena kita tidak tahu kapan kita akan sakit dan kehilangan kemampuan.
Sementara kita masih kaya, tingkatkanlah infak dan sedekah, karena harta yang kita tinggalkan bisa menjadi ujian. Selama masih ada kesempatan, manfaatkan untuk meningkatkan kebaikan.
Self Instrospeksi
Apa yang harus dilakukan pada setiap pergantian waktu? Adalah melakukan instrospeksi diri, muhasabah, menghitung diri, melakukan audit internal, atau mengalkulasi untung rugi diri selama waktu berlalu untuk menyusun strategi waktu yang akan datang.
Agar prestasi masa lalu bisa ditingkatkan dan kegagalan yang menimpa tidak berulang lagi di tahun depan.
Jangan sampai terperosok pada lubang yang sama. Pentingnya muhasabah ini dipertintahkan oleh Al Qur’an :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Hai orang-orang yang beriman, takutilah Allah dan biarlah setiap orang memperhatikan apa yang telah ia lakukan untuk hari esok (akhirat). Takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat mengetahui segala sesuatu yang kalian lakukan. (Q.S. al-Hasyr/59: 18)
Pemeriksaan diri ini perlu dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya di akhir tahun.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas diri dari masa ke masa, agar tetap menjadi seseorang yang beruntung, yaitu seseorang yang terus memperbaiki dirinya seiring berjalannya waktu.
Sebaliknya, jangan menjadi seseorang yang merugi atau hancur, yaitu orang yang mengalami kerugian waktu karena amalannya hari ini tidak berbeda dengan hari sebelumnya.
Dan seseorang yang hancur adalah orang yang hari ini lebih jelek dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Untuk mencegah waktu yang berlalu tanpa makna, Islam menetapkan jadwal harian yang harus diisi dengan shalat dan bentuk ibadah tertentu.
Dimulai dari waktu subuh, fajar, dhuha, dzuhur, ashar, magrib, isya', dan malam hari untuk melakukan tahajud serta munajat kepada Allah SWT.
Dalam sehari penuh, Nabi saw juga membagi waktu secara seimbang, yaitu sepertiga digunakan untuk beribadah, sepertiga untuk bekerja, dan sepertiga sisanya untuk istirahat. Pembagian waktu ini telah disesuaikan dengan sifat dan kemampuan fisik manusia.
Misalnya, waktu shalat subuh merupakan saat manusia bangun setelah tidur yang cukup, sedangkan shalat dhuhur adalah waktu orang-orang bekerja sehingga lelah dan membutuhkan istirahat.
Self Manajemen
Selain melakukan refleksi diri, tahun baru juga perlu dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk mengelola diri atau merapikan kembali kondisi diri.
Pengelolaan diri melibatkan pengendalian pikiran, ucapan, dan tindakan seseorang, yang bertujuan mendorong penghindaran dari hal-hal negatif serta meningkatkan perilaku yang benar dan baik.
Pengelolaan diri merupakan proses mengubah keseluruhan aspek diri, baik itu intelektual, emosional, spiritual, maupun fisik, sehingga tujuan yang kita inginkan dapat tercapai.
Banyak orang menjalani kehidupannya tanpa memiliki arah, tujuan, atau target yang jelas (sembarangan). Contohnya, tidak tahu ingin menjadi apa setelah sekolah/kuliah, kapan akan menikah dan memiliki anak, kapan memiliki rumah sendiri, kapan berangkat haji, kapan akan meninggal, apakah persiapannya sudah memadai?
Semua perlu memiliki rencana yang matang. Jalannya kehidupan ini harus diatur dengan baik.
Tanpa pengelolaan diri, banyak orang merasa bingung dan bahkan mengalami stres, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, untuk apa, bagaimana caranya, dari mana memulai, serta sampai kapan.
Bukan hanya lembaga atau perusahaan. Setiap individu manusia juga perlu mampu merumuskan visi, misi, dan tujuan hidupnya sebagai pedoman di tengah lautan kehidupan yang penuh dengan gelombang tantangan dan ujian.
Tujuan hidup adalah ibadah dan pelayanan. Allah swt berfirman:wama khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun(bukan aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar beribadah).
Tujuan yang perlu diwujudkan adalah bahwa seluruh kegiatan, wewenang, keterampilan, harta, pengetahuan, dan teknologi sebagai alat ibadah harus memberikan manfaat bagi sesama.
Nabi saw bersabda: khairunnasi ‘anfa’uhum linnas (kebaikan manusia terletak pada manfaat yang diberikannya kepada sesama manusia)
Sementara tujuan yang ingin dicapai adalah meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, serta kemuliaan.sa’adah fiddaraini).
Manajemen diri sangat penting dalam membantu seseorang menjaga atau mencegah berbagai masalah yang muncul, membantu individu menyelesaikan berbagai tantangan, membantu menjaga kondisi yang baik agar tetap stabil, serta membantu individu terus meningkatkan kondisi yang baik menjadi semakin baik seiring waktu, sehingga terlatih menghadapi perubahan kehidupan dan akhirnya mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.
*) Prof. Dr. H. Nur Khoirin YD, MAg, Dosen Tetap Hukum Islam di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo Semarang, Ketua BP4 Provinsi Jawa Tengah (2021-September 2025), Ketua Nazhir Wakaf Uang BWI Jawa Tengah/Advokat Syariah/Mediator/Arbiter Syari’ah/Nazhir Kompeten. Tinggal di Jl Tugulapangan H-40 Tambakaji Kota Semarang.