
Laporan Kontributor jabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari
PRIANGAN.COM, GARUT - Bupati Garut Abdusy Syakur Amin berharap perselisihan antara kepala desa dengan seorang warga atau kreator konten yang juga pedagang telur dapat segera terselesaikan secara damai.
Peristiwa yang disebabkan oleh kondisi jalan rusak terjadi di Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
"Kita telah mengundang kepala desa untuk menjadi mediator, saya berharap mereka bisa mencapai perdamaian, karena keduanya memiliki rasa tanggung jawab yang sama," kata Syakur kepada jabar.id, Senin (5/1/2025).
Ia mengatakan, sejak setahun terakhir Pemkab Garut telah memperkirakan adanya kemungkinan masalah, yaitu kebutuhan pembangunan jalan yang mendesak di kawasan Cisewu.
Pihaknya mengungkapkan bahwa tahun ini telah menyediakan dana perbaikan jalan di kawasan Kecamatan Cisewu, termasuk wilayah Desa Panggalih.
"Kami telah menyiapkan anggaran 2026 untuk melakukan perbaikan," katanya.
Syakur menjelaskan, keluhan warga mengenai kondisi jalan di wilayah Desa Panggalih disampaikan seseorang melalui media sosial.
Namun, diduga karena metode penyampaiannya dianggap tidak menyenangkan, hal tersebut akhirnya memicu respons yang berlebihan dari pihak keluarga.
"Menurut saya tanggapan dari keluarga (kades) ini terlalu berlebihan," katanya.
Sebelumnya, Holis Muhlisin (31) mendadak menjadi perhatian masyarakat setelah sebuah video yang menunjukkan dirinya diduga mengalami ancaman dari keluarga kepala desa beredar di media sosial.
Kejadian tersebut dipicu oleh tindakan Holis yang sering membagikan kondisi jalan rusak di Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut.
Video dugaan ancaman tersebut diunggah oleh Holis melalui akun Facebook pribadinya dan telah ditonton lebih dari satu juta kali.
Di dalam rekaman tersebut, Holis terlihat mendapatkan perlakuan buruk berupa caci maki dari beberapa anggota keluarga kepala desa.
Beberapa perkataan yang mengandung nada merendahkan terdengar jelas ditujukan kepadanya.
Holis menyatakan, kejadian pemaksaan tersebut terjadi pada 27 Oktober 2025. Kejadian dimulai ketika ia ingin bertemu seseorang di area desanya untuk membahas masalah akun Facebook palsu.
Rapat diadakan di halaman rumah kepala desa di Desa Pasircamat.
"Namun, setelah urusan saya dengan teman mengenai akun Facebook palsu selesai. Tiba-tiba beberapa anggota keluarga kepala desa datang dan mengancam saya," kata Holis kepada jabar.id.
Menurutnya, tindakan intimidasi dilakukan oleh empat individu, yaitu istri kepala desa, anak kepala desa, menantu kepala desa, serta keponakan kepala desa. Ia juga mengakui pernah mengalami kekerasan fisik berupa cekikan di leher dan pukulan pada bagian punggung.
Peristiwa pemaksaan itu, kata Holis, sempat ditangkap oleh temannya yang saat itu masih berada di lokasi. Rekaman tersebut kemudian ia unggah melalui akun Facebook-nya, pada hari Rabu (31/12/2025) dan menyebar secara viral.
"Saya sebagai korban merasa tidak nyaman diperlakukan demikian. Meskipun saya memposting untuk kemajuan desa," katanya.
Upaya verifikasi telah dilakukan Jabar kepada Kepala Desa Panggalih, Wahyu atau dikenal sebagai Ugay terkait kasus dugaan intimidasi tersebut. Kemarin siang, pukul 11.59, Wahyu sempat memberikan tanggapan kepada Jabar dalam panggilan telepon bersama Ketua BPD Desa Panggalih, Agus Suhendar.
Namun, dalam bahasa Sunda ia justru bertanya kembali. "Abdi kudu kumaha, kudu nyarios naon (Saya harus bagaimana, harus berkata apa)?" katanya.
pernah menyarankan untuk merilis pernyataan klarifikasi. Namun, hingga berita ini diterbitkan, Senin (5/1) siang, pihak terkait belum juga mengeluarkan pernyataan klarifikasinya.