Temuan Mortir dan Kisah Perang Kemerdekaan di Batujajar -->

Temuan Mortir dan Kisah Perang Kemerdekaan di Batujajar

3 Jan 2026, Sabtu, Januari 03, 2026
Temuan Mortir dan Kisah Perang Kemerdekaan di Batujajar

SURAT KABAR - PEMIKIRAN RAKYAT -Mortir sering kali ditemukan di kawasan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Peluru yang dikeluarkan dari meriam kecil ini diduga merupakan sisa perang kemerdekaan negara ini. Penemuan tersebut juga menjadi bukti bahwa Batujajar pernah menjadi lokasi pertempuran dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada tahun ini, sebanyak tiga kali Ka­polsek Batujajar AKP Asep Saepuloh, S.H menemukan mortir di wilayah hukumnya. Kejadian terbaru terjadi pada hari Rabu 17 Desember 2025. Pada saat itu, sebuah mortir ditemukan di lahan milik warga bernama Hadi di Blok Sukamaju, RT 05 RW 12, Desa Batujajar Ba­rat, Kecamatan Batujajar. Pemilik tanah kemudian melaporkan penemuan tersebut ke Polsek pada hari Kamis 18 Desember 2025.

Penemuan itu terjadi secara tidak sengaja. Hadi sedang menggali tanah untuk menanam pohon pisang. Tiba-tiba ia menemukan benda asing berbentuk bulat panjang dari logam.

Hadi awalnya mengira benda itu hanya logam bekas. Namun, keraguan muncul dari warga sekitar yang menilai benda tersebut mirip dengan amunisi. Penemuan akhirnya dilaporkan kepada Ketua RT dan selanjutnya disampaikan kepada Bhabinkamtibmas Desa Batujajar Barat. Setelah itu, laporan diteruskan ke piket fungsi Polsek Batujajar.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa benda asing tersebut merupakan amunisi jenis mortir dengan badan logam/besi berkarat. Bentuknya bulat memanjang berujung dengan diameter 60 milimeter, panjang sekitar 20 sentimeter.

Karena dikhawatirkan masih berfungsi dan lokasi penemuan berdekatan dengan permukiman, mortir kemudian diambil alih atau dihancurkan oleh Tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Detasemen Gegana Sat Brimobda Polda Jabar.

Asep Saepuloh menyampaikan, ada kesamaan dalam penemuan mortir tersebut dengan kejadian serupa sebelumnya. "Hampir semua penemuan berada di kawasan Sukamaju," ujar Asep.

Lalu apa penyebabnya sehingga mortir sering ditemukan di Batujajar? Jika menelusuri dokumen atau arsip lama, Batujajar memang salah satu daerah yang penuh ketegangan selama Perang Kemerdekaan.

Pertempuran mortar antara pasukan Belanda dan para pejuang kemerdekaan memang terjadi. Karena posisi pasukan Belanda dan para pejuang hanya dipisahkan oleh Sungai Citarum. Saat itu, Belanda berada di Batujajar. Sedangkan para pejuang berada di sisi lain sungai, yaitu Cililin.

Lihatlah kesaksian dari Soegih Arto, mantan komandan Batalyon 22 Divisi Siliwangi yang bermarkas di Cililin dalam bukunya, Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur) Soegih Arto. Soegih menulis, pasukan Belanda yang berada di Batujajar jarang mengambil risiko menyeberang sungai Citarum untuk menyerang pasukannya di Cililin.

"Dan hanya sekali-sekali melepaskan mortir ke wilayah kami. Saya kira itu hanya sebagai pengingat bahwa mereka masih berada di Batujajar," tulis Soegih.

Namun bukan hanya tentara Negeri Kincir Angin yang melemparkan mortir ke posisi musuh. Para pejuang juga melakukan hal serupa. R.J. Rusady W, salah satu pejuang dari Batalyon 33 Resimen Sukapura pernah menembakkan mortir saat rekan satu satunya ditempatkan sepanjang Citarum wilayah Cililin, Patrol, Cihampelas, Cipatik ketika menghadapi pasukan baret merah Belanda di Batujajar.

"Pernah dalam sebuah pertempuran, untuk memperoleh daya tembak yang maksimal, saya melepaskan sebuah babymortar secara mendatar dari paha. Akibatnya paha saya membengkak selama sebulan," kata Rusady dalam bukunya, Tiada Berita Dari Bandung Timur 1945-1947.

Meskipun tidak melewati Citarum, Belanda ternyata menggunakan pesawat udaranya untuk menyerang Soegih Arto, sebagaimana disebutkan dalam bukunya. Pada saat itu, Soegih bersama Komandan Kompi 2 Letnan Udaka sedang mengendarai mobil menuju Gununghalu. Ketika kendaraan tersebut melintasi jembatan, pesawat Belanda melepaskan tembakan kepada mereka.

Keduanya selamat karena berlindung di bawah jembatan. Namun, kendaraan mereka rusak akibat serangan dari angin tersebut. Pada waktu yang berbeda, giliran para pejuang menyerang markas Belanda di Batujajar.

Dalam sebuah buku berbahasa Belanda yang diterbitkan pada tahun 1915, "Aardrijkskunde van Nederlandsch-Indië voor de hoogste klassen der lagere school dengan banyak pertanyaan dan latihan," Batujajar disebut sebagai tempat pelatihan tembak artileri gunung setiap tahun.

Munculnya fasilitas latihan militer beserta berbagai perlengkapannya di Batujajar diduga berkaitan dengan pemindahan secara bertahap instansi-instansi militer Hindia Belanda ke Bandung antara tahun 1895 hingga 1918.

TerPopuler