
Bengkalispos.com- Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Wamenlu RI) Dino Patti Djalal menyatakan bahwa pendiriannya yang kritis terhadap Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tetap tidak berubah. Ia menegaskan, dirinya masih meragukan pembentukan Board of Peace yang diusulkan oleh Trump tersebut.
"Pandangan saya mengenai Board of Peace tidak berubah sama sekali. Piagam BoP memiliki banyak kejanggalan, tetapi karena Indonesia sudah terlanjur masuk ke dalam BoP, perhatikan tindakan Trump dan rencana Israel untuk menutup mulut Palestina, serta selalu pertahankan opsi untuk keluar dari BoP," ujar Dino Patti Djalal dalam tweet di akun media sosial X, Jumat (6/2).
Ia menekankan perlunya kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik global yang terkait dengan pembentukan BoP. Dino juga menegaskan bahwa pendiriannya telah disampaikan secara langsung kepada Presiden Prabowo.
"Setelah berdiskusi dengan Presiden, posisi ini tetap saya pertahankan, dan dalam beberapa hal ternyata pendirian pemerintah Indonesia juga selaras dengan posisi ini," katanya.
Dino menjelaskan kembali maksud pernyataannya mengenai BoP sebagai satu-satunya pilihan perdamaian. Karena, hingga saat ini belum ada tindakan nyata sebagai upaya perdamaian terhadap Palestina.
"Mengenai pernyataan saya bahwa 'BoP adalah satu-satunya pilihan saat ini', ini merupakan fakta yang terjadi di lapangan. Hingga saat ini, hanya ada 20-point plan dan BoP sebagai satu-satunya kesepakatan utama untuk upaya gencatan senjata, serta didukung oleh Dewan Keamanan PBB. Hanya itulah," jelasnya.
Menurut Dino, belum ada pilihan nyata lain yang muncul dari aktor internasional utama. Ia menekankan, dukungan tersebut bersifat praktis, bukan berarti tanpa kritik atau penilaian terhadap BoP itu sendiri.
"Ini bukan berarti BoP adalah solusi terbaik, dan juga bukan solusi abadi, hanya saja saat ini menjadi satu-satunya usaha untuk menghentikan pertikaian," tegasnya.
Sementara itu, mengenai pendekatan Presiden terhadap BoP, Dino menjelaskan makna realistis yang dimaksud. Karena pemerintah Indonesia memiliki keterbatasan dalam menghadapi geopolitik dunia.
"Terkait pernyataan saya bahwa Presiden mengambil pendekatan yang 'realistis' terkait BoP, ini berarti Presiden menyadari keterbatasan Indonesia dalam terlibat langsung dalam konflik yang sangat rumit," katanya.
"Realistis" juga berarti Presiden menyadari bahwa tidak ada jaminan keberhasilan BoP, bahkan kemungkinan akan gagal," tambahnya.
Selanjutnya, Dino mengakui bahwa dalam kondisi saat ini, terlalu percaya diri bisa mengarah pada kesalahan dalam pengambilan keputusan luar negeri. Ia menekankan, peluang kecil untuk kemerdekaan Palestina perlu diperjuangkan.
"Dalam situasi saat ini, maaf, saya tidak terlalu yakin BoP akan berhasil. Namun dalam Resolusi DK PBB 2803, pada poin 2, terdapat sedikit peluang yang memberikan angin segar bagi kemerdekaan Palestina," ujarnya.