
bengkalispos.com- Di lapangan, Zinedine Zidane dikenal sebagai sosok yang selalu berhubungan dengan gelar juara, kesuksesan, dan ketenangan luar biasa. Namun di rumah, perannya sangat berbeda. Ia menjadi seorang ayah yang justru merasa takut terhadap satu hal: anak-anaknya tumbuh tanpa memiliki nilai-nilai penting.
Meskipun tinggal dalam kekayaan, Zidane dan istrinya, Véronique, sepakat untuk tidak membiarkan kekayaan membentuk kepribadian dari empat putra mereka.
Mantan pemain dan pelatih Real Madrid tersebut memahami dengan jelas bahwa lahir dalam keluarga kaya bukanlah jaminan seseorang tetap rendah hati.
Mengutip Defensa Central, dalam sebuah biografi yang ditulis oleh jurnalis Prancis, Frederic Hermel, muncul kekhawatiran Zidane sejak dua puluh tahun yang lalu.
Anak-anak saya tidak memiliki kehidupan yang sama seperti anak-anak lainnya. Saya khawatir mereka akan menjadi orang-orang yang tidak cerdas. Itu adalah hal yang paling saya takuti.
"Saya tidak menginginkan kemewahan, segala sesuatu yang saya wakili dan semua kejadian di sekitar saya justru menyesatkan mereka. Saya berharap mereka menjadi orang yang baik," kata Zidane kepada Hermel, seperti yang dicatat dalam buku yang diterbitkan pada 2019, ketika ia masih melatih Real Madrid.
Tidak Berlebihan, Meski Mampu
Dengan penghasilan yang pernah mencapai sekitar 20 juta euro setiap tahun, Zidane sebenarnya mampu memberikan segala sesuatu yang diinginkan oleh anak-anaknya. Namun justru di sinilah ia menetapkan batas yang tegas.
Hermel bertanya bagaimana cara mereka agar anak-anak tidak menjadi pemalas. Jawabannya sederhana tetapi penuh makna.
Saya menjauhi keberlebihan. Kondisi hidup mereka, rumah yang luar biasa dengan kolam renang itu, sudah cukup memadai. Perjalanan-perjalanan yang menyenangkan... itu sudah menjadi hadiah yang luar biasa!
"Maka saat Natal, ulang tahun, bersama Véronique, kami hanya melakukan hal-hal yang paling sederhana. Ini bukan tentang memberi mereka kemewahan," katanya.
Zidane tidak pernah berusaha memenuhi semua keinginan. Ia memberikan pendidikan terbaik serta kebutuhan yang layak, namun tanpa melebihi batas. Prinsipnya jelas: kenyamanan bisa hadir, tetapi karakter harus tetap dipertahankan.
Warisan Nilai dari Orang Tua
Pendekatan Zidane dalam mendidik anaknya ternyata dipengaruhi oleh cara ia dibesarkan oleh orang tuanya, Smaïl dan Malika. Rasa rendah hati dan sikap hormat menjadi dasar utama dalam keluarga tersebut.
Hermel menyebutkan bahwa bagi Zidane, membiarkan kemewahan menghilangkan nilai-nilai tersebut sama artinya dengan merendahkan ajaran orang tuanya sendiri. Uang bisa banyak, tetapi prinsip hidup tidak boleh berubah.
Semangat Kerja di Atas Segalanya
Bagi Zidane, mimpi buruk terbesar bukanlah kalah dalam pertandingan final atau kehilangan gelar. Ia justru tidak tahan membayangkan anak-anaknya menjadi malas dan hanya mengandalkan warisan.
Ia menanamkan semangat kerja yang kuat, bahkan dalam hal-hal kecil sehari-hari. Aturan dalam rumah tangga ditetapkan dengan jelas dan konsisten.
Memang hanya hal kecil, tetapi memiliki makna penting: minum teh sore dilakukan di dapur, bukan di ruang tamu depan televisi, dan semua orang wajib membersihkan meja. Pembantu rumah tangga menjaga kenyamanan seluruh keluarga, namun dia bukan pengasuh anak-anak,
Informasi kecil itu menggambarkan pesan penting: tidak ada yang terlalu khusus untuk belajar bertanggung jawab.
Akhirnya, keberhasilan Zidane mungkin tidak hanya dinilai dari gelar Liga Champions atau gelar juara dunia. Dalam berbagai aspek, keberhasilannya dalam membimbing anak-anak dengan semangat kerja keras dan sikap rendah hati bisa menjadi prestasi yang jauh lebih bermakna.