Jangan Asal! Ini Cara Memasak dan Makan Ikan Saat Imlek untuk Rezeki Mengalir -->

Jangan Asal! Ini Cara Memasak dan Makan Ikan Saat Imlek untuk Rezeki Mengalir

2 Feb 2026, Senin, Februari 02, 2026

Bengkalispos.comTahun Baru Imlek merupakan waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Selain uang angpao dan hiasan berwarna merah, makanan menjadi bagian penting dalam perayaan ini.

Nah, salah satu hidangan favorit yang harus ada di meja makan adalah ikan. Namun, apakah kamu tahu bahwa mengonsumsi ikan saat Tahun Baru Imlek tidak boleh dilakukan secara asal?

Ternyata terdapat aturan khusus, mulai dari pemilihan jenis ikan, cara memasak, hingga ketentuan dalam mengonsumsinya agar dianggap mampu membawa keberuntungan atau hoki sepanjang tahun.

Mungkin banyak orang juga penasaran, mengapa ikan bandeng sering menjadi hidangan utama dalam perayaan Imlek di Indonesia, khususnya di Jakarta?

Mengutip dari situs Bobo.id, fenomena ini merupakan hasil percampuran budaya yang menarik. Kebiasaan menyajikan bandeng ternyata berasal dari kebudayaan masyarakat Betawi sejak pertengahan abad ke-19, yaitu sekitar tahun 1850-an.

Dulunya, penduduk Betawi sering menyajikan bandeng besar dalam acara khusus. Karena hidup berdampingan secara harmonis dengan etnis Tionghoa (terutama suku Hokkian dari Tiongkok Selatan), kebiasaan ini saling memengaruhi. Akhirnya, warga Tionghoa di Batavia juga mengadopsi tradisi membeli dan menyajikan bandeng sebagai simbol penghormatan dan kemewahan dalam perayaan Imlek.

Keberadaan ikan tidak hanya menjadi tambahan gizi, tetapi juga penuh makna. Dalam bahasa Tionghoa, ikan dikenal sebagai "Yu" atau "Yoo". Suara kata ini sangat mirip dengan kata yang berarti "kelebihan", "berlimpah", atau "melimpah".

Oleh karena itu, mengonsumsi ikan dianggap sebagai doa agar keluarga mendapatkan rezeki yang melimpah dan selalu tersisa (tidak kekurangan) pada tahun baru.

Penyajian memiliki aturan tersendiri. Ikan harus disajikan utuh mulai dari kepala hingga ekor. Dilarang keras memotong ikan sebelum disajikan. Bentuk utuh ini menggambarkan integritas serta awal dan akhir yang baik di masa depan.

Lantas, bagaimana cara mengolahnya?

Mengutip The Spruce Eats melalui Kompas.com, metode yang paling direkomendasikan adalah dengan cara dikukus. Teknik ini mempertahankan bentuk ikan tetap utuh, berbeda dengan menggoreng yang berpotensi merusak kulit atau daging ikan.

 

Biasanya, ikan diasapi dengan saus khusus yang terdiri dari campuran jahe, bawang putih, kecap asin, dan minyak wijen. Saus lezat ini dioleskan ke seluruh tubuh ikan, baik bagian luar maupun dalam rongga perut.

Setelah itu, ikan direbus hingga matang sempurna dan kulitnya sedikit mengelupas, kemudian didekor dengan taburan daun bawang dan potongan cabai merah agar tampil lebih menarik.

Berikut adalah beberapa variasi dari teks yang diberikan: 1. Selanjutnya, masuk ke bagian paling penting yang sering kali tidak diketahui oleh orang awam, yaitu larangan-larangan. Terdapat upacara khusus saat mengonsumsi ikan pada malam Tahun Baru Imlek. 2. Berikutnya, masuk ke aspek paling krusial yang biasanya tidak disadari oleh masyarakat umum, yakni pantangan. Ada ritual tertentu yang dilakukan saat menyantap ikan di malam Tahun Baru Imlek. 3. Setelah itu, masuk ke bagian yang paling penting dan sering kali diabaikan oleh orang awam, yaitu larangan. Terdapat prosesi khusus ketika mengonsumsi ikan pada malam Tahun Baru Imlek. 4. Selanjutnya, kita masuk ke bagian yang paling penting dan sering kali tidak diketahui oleh orang awam, yaitu pantangan. Ada tata cara khusus dalam mengonsumsi ikan saat malam Tahun Baru Imlek. 5. Berikutnya, masuk ke bagian yang paling esensial dan sering kali tidak disadari oleh orang awam, yaitu larangan. Terdapat ritual khusus saat menyantap ikan di malam Tahun Baru Imlek.

- Pertama, jangan habiskan sekaligus.

Masyarakat Tionghoa menganggap bahwa ikan tidak boleh dimakan habis dalam satu kali sajian. Ikan yang disajikan pada malam Tahun Baru Imlek sebaiknya tersisa sedikit agar dapat dinikmati kembali keesokan harinya (hari H Tahun Baru Imlek).

Filosofinya sangat mendalam, yaitu agar kelimpahan rezeki dari tahun sebelumnya dapat terus berlanjut ke tahun berikutnya tanpa terputus.

- Selanjutnya, jangan mengangkat ikan.

Saat satu sisi daging ikan telah habis, kamu dilarang keras untuk membalikkan ikan agar mengambil daging dari sisi lainnya.

Dalam kepercayaan masyarakat nelayan Tiongkok kuno, membalikkan ikan dikaitkan dengan membalik perahu, yang dianggap sebagai tanda bencana atau nasib buruk. Cara yang tepat untuk mengonsumsi bagian bawah ikan adalah dengan mengangkat tulang punggung atau duri utamanya secara perlahan, lalu memisahkannya. Setelah itu, daging pada bagian bawah dapat diambil.

Membalik ikan dianggap setara dengan "membuang" atau menghancurkan rezeki yang telah diperoleh dengan susah payah. (*)

TerPopuler