JATENG.COM, KAJEN- Tokoh Raden Tumenggung Jayengrana, yang dikenal sebagai Bupati pertama Wiradesa pada abad ke-17, hingga saat ini masih meninggalkan jejak sejarah yang terus hidup dalam masyarakat.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Desa Kauman, Asy’ari Abdullah, saat diwawancarai oleh jateng.com, Selasa (24/2/2026) di area makam Raden Tumenggung Jayengrana di wilayah setempat.
Asy'ari menyampaikan, di masa lalu Wiradesa merupakan sebuah daerah kabupaten yang diperintah langsung oleh Raden Tumenggung Jayengrana.
Kepemimpinan tersebut kemudian dipegang oleh Jayengrana II hingga sekitar tahun 1805, setelah itu wilayah Wiradesa menyatu dengan Kabupaten Pekalongan dan memiliki status sebagai kawedanan.
"Dulunya Wiradesa merupakan wilayah kabupaten yang dipimpin oleh Raden Tumenggung Jayengrana. Setelah masa kepemimpinan Jayengrana II berakhir, daerah ini kemudian masuk ke dalam Kabupaten Pekalongan, dan menjadi Kawedanan Wiradesa yang mencakup kawasan dari Tirto hingga Sragi," jelasnya.
Menurutnya, bukti sejarah berupa naskah yang berkaitan dengan tokoh Jayengrana tidak banyak ditemukan.
Hal ini terjadi karena sedikitnya kegiatan korespondensi yang dilakukan selama masa pemerintahannya, sehingga dokumen tertulis seperti surat-menyurat sangat jarang.
Namun, beberapa benda fisik yang tersisa masih bisa ditemukan hingga saat ini, seperti senjata berupa keris dan tombak yang dianggap sebagai milik Raden Tumenggung Jayengrana.
"Selain benda-benda peninggalan, warisan tak berwujud seperti budaya dan sistem sosial masyarakat masih terasa kuat di kawasan Kauman dan sekitarnya," katanya.
Asy'ari mengatakan, Jayengrana tidak hanya bertindak sebagai pemimpin pemerintahan, tetapi juga sebagai ulama yang menyebarkan ajaran agama Islam di kawasan Kauman.
"Ia tidak hanya menjabat sebagai bupati, tetapi juga dikenal sebagai tokoh agama yang menyebarkan ajaran Islam di kawasan Kauman. Hingga saat ini, Desa Kauman masih dianggap sebagai pusat peradaban Islam di sekitar daerah tersebut," katanya.
Selanjutnya, ia menambahkan bahwa tradisi 'nganter jenang' dalam adat masyarakat Pekalongan saat proses lamaran dianggap sebagai salah satu warisan budaya yang berasal dari masa Jayengrana.
Tradisi ini masih terjaga hingga kini, di mana jenang yang digunakan dalam proses lamaran dibuat secara turun-temurun oleh warga Desa Kauman.
"Tradisi membawa jenang ini telah berlangsung sejak dahulu kala, dan hingga kini masih dilakukan oleh masyarakat. Ini merupakan salah satu jejak budaya yang diduga berasal dari masa pemerintahan beliau," ujarnya.
Di sisi lain, hadirnya Festival Budaya Jayengrono yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun di Desa Kauman, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, merupakan salah satu langkah masyarakat dalam melestarikan adat istiadat sekaligus meningkatkan pengakuan terhadap potensi lokal desa agar lebih dikenal oleh banyak orang.
Ketua BUMDes Kauman Mandiri, Eka Agustiana, menyampaikan bahwa festival yang sering disebut FBD ini pertama kali diadakan pada tahun 2022, dan hingga tahun 2025 telah memasuki penyelenggaraan yang keempat.
Awalnya dari kumpulan teman-teman, karena di Kauman terdapat makam Mbah Jayengrono. Sebelumnya setiap tahun diadakan kegiatan haul, kemudian kami kembangkan menjadi festival agar masyarakat dapat lebih aktif berpartisipasi," katanya.
Ia menjelaskan bahwa Festival Budaya Jayengrono diselenggarakan dekat dengan peringatan haul Jayengrono, biasanya diadakan selama tiga hari pada bulan September sesuai dengan kalender Jawa.
Menurut Eka, acara tersebut bukan hanya sebagai wadah pelestarian budaya, tetapi juga menjadi sarana pemasaran potensi ekonomi desa, khususnya makanan khas yang dimiliki oleh warga Kauman.
Salah satu simbol yang ditampilkan dalam festival tersebut adalah Jenang Lamaran yang selama ini menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat setempat.
Melalui perayaan festival, Jenang Lamaran diharapkan semakin dikenal oleh masyarakat umum dan berpeluang menjadi produk andalan dari desa tersebut.
"Harapan kami Jenang Lamaran dapat dikenal seperti Jenang Kudus. Setelah menjadi terkenal, masyarakat sekitar juga dapat ikut memproduksi sehingga dapat meningkatkan penghasilan," katanya.
Selain memperlihatkan Jenang Lamaran dan Sengkulun, pesta juga dimeriahkan dengan berbagai aktivitas seperti lomba masakan tradisional yang diikuti oleh penduduk dari setiap RT.
Setiap RT memperlihatkan makanan khas yang dimiliki, kemudian dipamerkan di stan yang telah disiapkan oleh panitia.
Eka menuturkan, kehadiran Festival Budaya Jayengrono diharapkan mampu menjadi sarana promosi desa melalui berbagai media, termasuk jejaring sosial, agar potensi budaya dan ekonomi yang terdapat di Desa Kauman dapat terus berkembang pada masa depan. (Dro)