Khutbah Jumat: Etika Bermedsos Saat Ramadan -->

Khutbah Jumat: Etika Bermedsos Saat Ramadan

27 Feb 2026, Jumat, Februari 27, 2026
Khutbah Jumat: Etika Bermedsos Saat Ramadan

NEWS.COM- Khotbah Jumat, 27 Februari 2026, dengan tema "Etika Bersosial Media pada Bulan Ramadan: Menjaga Mulut dan Jejak Digital."

Khotbah Jumat adalah pidato keagamaan yang disampaikan oleh seorang imam sebelum pelaksanaan shalat Jumat.

Di dalam khutbah Jumat yang penuh berkah ini, khatib menyampaikan topik penting yaitu mengenai cara bersikap etis di media sosial selama bulan Ramadan.

Topik ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk selalu menjaga "mulut digital" mereka, baik dalam bentuk tulisan, komentar, emoji, maupun unggahan yang bisa melukai orang lain.

Melansir laman simbi.kemenag.go.id, berikut teks khutbah Jumat 27 Februari 2026:

Etika Media Sosial Selama Bulan Ramadan: Menjaga Ucapan dan Jejak Digital

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya, serta meminta ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan dari buruknya perbuatan kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkan dia, dan siapa yang disesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakutan kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: Tidaklah seseorang mengucapkan perkataan, melainkan di sisi-Nya ada malaikat yang menjaga dan siap.

Jamaah shalat Jumat yang dicintai oleh Allah Swt,

Saya menitipkan kepada diri sendiri dan jemaah untuk meningkatkan rasa takut kepada Allah Swt. Takwa tidak hanya tampak dalam ibadah secara lahir, tetapi terlihat dari cara mengendalikan diri ketika tidak ada yang melihat, termasuk saat kita berselancar di dunia maya.

Salah satu manfaat puasa adalah melatih kesadaran akan pengawasan Allah setiap saat, yang disebut muraqabah - مُرَاقَبَة. Ketika kita sendirian, kita tidak memakan atau minum karena yakin bahwa Allah selalu mengawasi dan melihat segala tindakan manusia. Namun, pertanyaannya adalah apakah kesadaran ini juga muncul ketika kita sedang menggunakan ponsel?

Sering kali kita sangat berhati-hati dalam menyampaikan perkataan di depan umum, dalam pertemuan resmi, atau ketika berhadapan dengan atasan. Namun, saat berada di balik layar, kita merasa leluasa untuk mengucapkan apa saja. Padahal, Allah selalu melihat dan mendengar segala sesuatu.

Belum tahu bahwa Allah melihatnya?

"Tidakkah ia menyadari bahwa sesungguhnya Allah mengawasi (segala tindakannya)?” (Q.S. Al-‘Alaq [96]: 14)

Rasulullah saw memberi peringatan bahwa banyak orang yang berpuasa namun tidak memperoleh apa-apa selain rasa lapar dan haus. Mengapa demikian? Karena mulutnya tidak dijaga. Dalam hadis disebutkan, yaitu;

Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan manfaat selain lapar, dan banyak pula yang shalat malam namun tidak mendapatkan faedah selain kantuk.

"Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa pun dari puasanya selain rasa lapar, dan banyak pula yang shalat malam, namun tidak mendapatkan apa pun dari qiyamnya selain kelelahan." (Sunan Ibn Majah No. 1690)

Di tengah perkembangan teknologi saat ini, ucapan kita bisa berubah menjadi tulisan, komentar, emoji, atau unggahan yang dapat melukai orang lain. Tanpa kita sadari, "ucapan digital" ini berubah menjadi dosa digital yang sering kali kita anggap biasa saja. Dosa-dosa digital yang dianggap remeh ini bisa mengurangi pahala kebaikan yang pernah kita lakukan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

Sesungguhnya orang yang miskin dari ummatku akan datang pada hari kiamat dengan shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga pernah mencaci orang ini, menuduh orang ini, mengambil harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang ini diberi kebaikan-kebaikannya, dan orang ini juga diberi kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya habis sebelum dibayar apa yang menjadi kewajibannya, maka kesalahan-kesalahannya diambil dan dilemparkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.

"Sebenarnya orang yang miskin dari umatku adalah seseorang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun dia juga datang dalam keadaan pernah menghina orang ini, menuduh orang itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang itu, dan memukul orang ini. Maka pahala kebaikannya diberikan kepada mereka (yang dizalimi). Jika pahala kebaikannya habis sebelum selesai membayar kesalahannya, maka dosa-dosanya diambil lalu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka." (H.R. Imam Muslim No. 2581).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Terdapat beberapa bentuk pelanggaran digital yang sering kita anggap biasa, namun di sisi Tuhan sangat besar. Pertama, gosip digital, yaitu membicarakan kelemahan seseorang dalam grup WhatsApp atau kolom komentar. Kedua, fitnah dan berita palsu serta menyebarkan informasi tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut. Ketiga, ucapan permusuhan, yakni menghina tokoh, kelompok, atau sesama pemeluk agama. Keempat, riya' digital, artinya senang menunjukkan ibadah hanya untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Kelima, perdebatan yang tidak bermanfaat, adu pendapat yang mengakibatkan perselisihan.

Pada dasarnya, Ramadan adalah kesempatan untuk membersihkan hati, bukan memperburuk keadaan. Hati yang bersih pasti menjadi petunjuk menuju ketakwaan spiritual dan sosial. Di sisi lain, jika hati kotor, maka akan membawa seseorang ke jurang kegelapan.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Hari ini manusia mengenal konsep jejak digital. Apa yang kita unggah beberapa tahun lalu bisa muncul kembali. Foto, video, tulisan, komentar semuanya tersimpan. Bayangkan suatu hari di akhir zaman, ketika catatan amal dibuka. Bukan hanya ucapan kita, tetapi segalanya tercatat secara lengkap. Jika di dunia jejak digital bisa menjadi bukti di pengadilan, maka di akhirat catatan amal jauh lebih rinci dan sempurna. Allah berfirman:

Dan kitab itu ditempatkan, sehingga kau melihat para pembuat kejahatan merasa takut terhadap apa yang ada di dalamnya, dan mereka berkata, "Celakalah kami, mengapa kitab ini tidak melewatkan sedikit pun atau besar pun, kecuali telah menghitungnya. Dan mereka menemukan apa yang telah mereka lakukan berada di hadapan mereka. Dan Tuhanmu tidak zalim terhadap seorang pun."

Diletakkanlah kitab (catatan amal) bagi setiap orang, kemudian kamu akan melihat orang-orang berdosa merasa takut terhadap apa yang tertulis di dalamnya. Mereka berkata, “Aduh, celaka kami, kitab apa ini, yang tidak melewatkan sedikit pun dan besar pun, kecuali mencatatnya.” Mereka menemukan semua yang telah mereka lakukan tercatat. Tuhanmu tidak menyiksa seseorang pun secara dzalim.” (Q.S. Al-Kahf [18]: 49)

Maka sebelum membagikan sesuatu, renungkanlah: Apakah saya siap melihat hal ini kembali di hadapan Tuhan?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ramadan mengajarkan kita untuk mengurangi respons cepat dan meningkatkan pemikiran mendalam. Oleh karena itu, mari kita ubah cara kita menggunakan media sosial selama bulan Ramadan dengan tiga prinsip:

Pertama, prinsip taqwa. Taqwa berarti menjaga diri agar selalu patuh kepada Allah dan menghindari segala larangan-Nya. Gunakan media sosial dengan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Setiap kata yang ditulis di media sosial tidak lepas dari pengawasan Allah Swt.

Kedua, prinsip manfaat. Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa tanda kebaikan seseorang dalam beragama adalah meninggalkan hal-hal yang tidak memberikan manfaat.

Dari keindahan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.

"Salah satu tanda baiknya agama Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya." (Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi, No. 2317)

Ketiga, prinsip tanggung jawab. Setiap tulisan akan diminta pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di kehidupan akhirat.

Jemaah yang dicintai Allah,

Mari manfaatkan media sosial sebagai tempat untuk mengumpulkan pahala. Bulan suci Ramadan merupakan kesempatan emas dalam menabur kebaikan. Media sosial dapat menjadi sarana mendapatkan pahala dengan memanfaatkan Ramadan sebagai momen untuk menyebarkan ilmu yang benar, mendorong pada tindakan baik, serta menjunjung tinggi persaudaraan sesama muslim, serta memberi semangat untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat.

Namun jika satu unggahan yang bersifat buruk dan menyesatkan memicu orang lain untuk melakukan maksiat, maka dosanya akan terus mengalir sebagaimana disampaikan oleh Allah Swt dalam surah Al-‘Ankabut [29]: 13,

Dan mereka akan memikul beban-beban mereka sendiri, serta beban-beban tambahan bersama beban-beban mereka. Dan mereka akan ditanya pada hari kiamat mengenai apa yang dahulu mereka dusta.

Mereka benar-benar akan menanggung dosa-dosa mereka sendiri serta dosa-dosa orang-orang yang telah mereka tipu bersama dengan dosa-dosa mereka. Pada hari kiamat, mereka pasti akan ditanya mengenai kebohongan-kebohongan yang selalu mereka ciptakan.

Semoga Allah memberkati saya dan kalian dalam Al-Qur'an yang agung, dan semoga Dia memberi manfaat kepada saya dan kalian melalui ayat-ayatnya serta perkataan bijak. Saya menyampaikan kata-kata ini dan memohon ampunan kepada Allah untuk saya, kalian, dan seluruh umat Muslim dari segala dosa, maka mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Yang Pemaaf lagi Maha Pengasih.

Khutbah Kedua

Alhamdulillah atas karunia-Nya dan petunjuk-Nya, kami memuji-Nya karena kami mampu menghindari kebohongan. Kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Muhammad serta kepada keluarganya dan para sahabatnya semuanya. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Ya Allah, ampunilah orang-orang muslim dan muslimah, serta orang-orang beriman dan beriman perempuan yang masih hidup maupun yang sudah tiada. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, dekat, dan Maha Mengabulkan doa. Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa api neraka. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

(news.com/Latifah)

TerPopuler