Latihan Militer Israel yang Paling Besar untuk Hadapi Serangan Rudal Iran -->

Latihan Militer Israel yang Paling Besar untuk Hadapi Serangan Rudal Iran

2 Feb 2026, Senin, Februari 02, 2026

Israel Menggelar Latihan Militer yang Tidak Pernah Terjadi Sebelumnya dalam Menghadapi Serangan Rudal Iran

 

NEWS.COM -Surat kabar Israel, Yediot Aharonot, melaporkan bahwa Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel baru-baru ini menyelesaikan simulasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara tersebut.

Berdasarkan laporan, latihan tersebut melibatkan simulasi penanganan kerusakan yang luas akibat rudal kluster besar yang ditembakkan oleh Iran.

Berdasarkan laporan surat kabar tersebut, para pemimpin militer Israel telah memperbaiki pangkalan Zikim di utara Jalur Gaza dalam beberapa minggu terakhir guna menjalani latihan.

Sebuah satuan bantuan dan penyelamatan dari pasukan cadangan Galilea Barat sedang melakukan latihan menyelamatkan korban yang terjebak di lokasi bencana besar yang dibangun di dekat pangkalan tersebut.

"Latihan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapan menghadapi skenario darurat yang rumit, kebakaran besar, serta serangan siber yang mengganggu proses identifikasi lokasi orang-orang yang terjebak," demikian isi laporan yang dikutip dari Khaberni, Senin (2/2/2026).

Yedioth Ahronothmenjelaskan bahwa pasukan tersebut melakukan latihan dengan skenario yang pernah dialami Israel sebelumnya pada Juni 2025, dalam perang 12 hari melawan Teheran, khususnya ketika rudal cluster Iran jatuh di Rehovot dan Ramat Gan, menyebabkan kerusakan yang luas.

Hujan Rudal Kluster Iran

Pasukan Israel menduga bahwa Iran akan kembali memakai jenis rudal ini dalam putaran berikutnya, demikian menurut surat kabar Israel.

Yedioth Ahronoth menyebutkan bahwa rudal kluster Iran meledak puluhan meter di atas sasaran dan menyebarluaskan proyektil kecil dalam lingkaran yang mencakup beberapa kilometer, selain warhead dari rudal tersebut.

Selama latihan, para prajurit diminta mencari peluru yang belum meledak di sekitar area penghancuran, yang termasuk dalam kategori amunisi yang tidak aktif dan berbahaya.

Surat kabar tersebut merujuk pada komandan sektor Galilea Barat, Kolonel Shay Shemesh, yang menyatakan bahwa pasukan melakukan latihan dengan skenario insiden yang mengakibatkan banyak korban di dalam reruntuhan, serta menerapkan berbagai pelajaran yang diperoleh dari perang melawan Iran pada pertengahan tahun lalu, termasuk menghadapi area kerusakan yang mencakup beberapa jalan.

Lembaga Penyiaran Israel (Israeli Broadcasting Corporation) merujuk pada seorang pejabat militer Israel yang tidak disebutkan identitasnya pada hari Minggu, yang menyatakan bahwa Tel Aviv tidak mampu bertahan bersama kemampuan rudal balistik Iran.

Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militer di kawasan Timur Tengah dengan mengirimkan satuan serangan laut yang dipimpin oleh kapal induk "Abraham Lincoln", setelah Presiden Donald Trump mengancam tindakan militer terhadap Iran akibat protes yang berlangsung di sana pada bulan Desember sebelumnya.

Pengambilan tindakan dan ancaman ini memicu kekhawatiran akan kemungkinan konfrontasi langsung dengan Iran, yang telah beberapa kali mengingatkan bahwa mereka akan merespons dengan serangan rudal terhadap pangkalan, kapal, dan sekutu AS, khususnya Israel, jika mendapat serangan.

Iran Siap Menghadapi Konflik Militer Apapun Jenisnya

Di sisi lain, sebuah laporan yang disampaikan oleh seorang perwira tinggi Angkatan Udara Garda Revolusi Iran kepada Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen menyebutkan bahwa Teheran siap untuk segera merespons setiap serangan yang dilakukan Amerika Serikat.

Anggota parlemen Ebrahim Rezaei, yang merupakan juru bicara komite tersebut, merujuk pada laporan yang menyebutkan bahwa Iran memiliki keunggulan intelijen yang memungkinkan mereka mengawasi pergerakan lawan, serta bahwa semua tindakan telah dilakukan untuk menghadapi skenario konflik militer apa pun.

Ia menunjukkan bahwa kepentingan militer dan ekonomi Amerika di wilayah tersebut berada dalam jangkauan operasional pasukan Iran.

Ia memperingatkan bahwa setiap serangan Amerika dapat membawa Washington ke dalam konflik regional yang akan menjadi "salah satu keuntungan terbesar" bagi Teheran.

Laporan tersebut juga merujuk pada hasil operasi "True Promise 3" selama 12 hari, di mana Iran menyatakan berhasil melampaui sistem pertahanan rudal lawan lebih dari 50 persen.

Rezaei mengatakan bahwa dalam kondisi perang, menyerang kepentingan lawan akan menghancurkan sekitar separuh kemampuan mereka pada tahap awal pertemuan.

Hal ini terungkap dalam rapat komite yang membahas perkembangan situasi regional, penempatan pasukan militer, serta kondisi keamanan di sekitar Iran.

TerPopuler