Masjid Taqwa Sekayu, Saksi Bisu Perjuangan Wali di Semarang -->

Masjid Taqwa Sekayu, Saksi Bisu Perjuangan Wali di Semarang

23 Feb 2026, Senin, Februari 23, 2026

JATENG.COM, SEMARANG— Pada pertemuan warga Kampung Sekayu, Semarang Tengah yang berada di Jalan Sekayu Masjid Nomor 328, RT05 RW01 Sekayu, Semarang Tengah terdapat Masjid Taqwa Sekayu yang menyimpan sejarah para wali di Kota Semarang.

Bukan hanya sebagai tempat ibadah, wilayah Sekayu pada masa lalu pernah menjadi pusat pertahanan dan distribusi logistik dari akhir era Majapahit hingga munculnya Kesultanan Demak.

Ketua Dewan Takmir Masjid Taqwa Sekayu, Achmad Arief, menyampaikan bahwa sejak awal daerah ini telah berada di bawah penguasaan Kerajaan Majapahit sebagai wilayah pelabuhan penting.

"Sejak zaman Majapahit, Pelabuhan Tanjung Mas telah dikuasai dan diketahui oleh bangsa-bangsa asing. Portugis, Belanda, Inggris, India, hingga Tiongkok datang ke sini untuk berdagang, khususnya rempah-rempah," ujar Achmad Arief, Senin (23/2/2026).

Persaingan antar bangsa asing, menurutnya, memunculkan kekhawatiran para wali. Terutama mengenai siapa yang menguasai jalur perdagangan dan keamanan wilayah pesisir.

Strategi Para Wali

Keadaan tersebut mendorong para pemimpin dengan Sunan Kudus sebagai salah satu tokoh tua untuk membentuk sistem pertahanan.

Sunan Kudus dikenal tidak hanya sebagai ahli agama, tetapi juga sebagai pedagang dan strategis, bahkan menjadi penasihat kerajaan Majapahit.

"Pertahanan Majapahit pada masa itu berada di darat. Para wali berpikir, pelabuhan juga perlu dijaga. Oleh karena itu, Semarang ditetapkan sebagai wilayah pengawasan," katanya.

Perjanjian para pemimpin terjadi pada masa akhir kerajaan Majapahit, ketika raja terakhirnya memiliki hubungan keluarga dengan Raden Patah.

Keadaan ini menyebabkan Islam dan Hindu hidup berdampingan pada masa transisi.

Salah satu tokoh yang berpengaruh signifikan pada tahap awal ini adalah Sunan Gunung Jati, yang mengirim muridnya, Kiai Kamal, dari Cirebon ke Sekayu.

"Pada awalnya di sini belum terdapat masjid. Hanya menjadi tempat istirahat. Sholat bisa dilakukan di mana saja. Kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan," katanya.

Asal-Usul Nama Sekayu

Achmad Arief mengatakan, kondisi geografis Sekayu pada masa itu sangat berbeda dibanding saat ini. Wilayah di belakang masjid yang kini penuh dengan bangunan dahulu merupakan laut dan sungai.

"Dahulu bagian belakang masjid merupakan laut. Ke arah kanan adalah bekas alur Sungai Riban. Jika nanti kawasan ini dikembangkan menjadi wisata air, pengunjung dapat berperahu dari sekitar Jalan Pemuda hingga ke sini," katanya.

Lokasi yang strategis menjadi alasan Sekayu dipilih sebagai pusat pengumpulan kayu untuk pembangunan kerajaan Islam pertama di Jawa.

Nama Sekayu, menurut Achmad Arief, berasal dari perannya sebagai pusat pengumpulan kayu.

Bahan diantar dari berbagai wilayah Ambarawa dan Ungaran di sebelah selatan, Kendal–Weleri di sebelah barat, Grobogan dan Kedungjati di sebelah timur, hingga daerah Solo.

"Kayu-kayu ini dikumpulkan di sini, kemudian dibawa oleh para santri menggunakan perahu bambu melewati sungai hingga tiba di Morodemak. Dari sana, kayu-kayu tersebut diangkut ke Demak untuk digunakan dalam membangun kerajaan Islam," katanya.

Menurutnya, Demak dipilih sebagai pusat kerajaan karena pertimbangan keamanan.

Jika terjadi serangan dari laut, kapal musuh akan tersangkut sebelum mampu memasuki pusat kekuasaan.

Masjid Taqwa Sekayu, menurut Achmad Arief, dibangun pada tahun 1413. Informasi ini telah melalui tahap penelitian dan pengamatan.

"Ini telah diteliti. Pada tahun 2010, pejabat dari Direktorat Jenderal Kementerian Agama, tim cagar budaya, hingga media nasional datang ke sini. Semua kami tunjukkan," katanya.

Masjid ini dianggap lebih tua dibandingkan Masjid Agung Demak, serta diakui sebagai salah satu masjid paling tua di Jawa Tengah.

"Jalannya bukanlah simbol biasa. Karena dahulu ini pusat pertahanan dan perjuangan," jelasnya.

Peninggalan yang Masih Asli

Beberapa benda bersejarah masih tetap terjaga hingga saat ini, seperti soko guru dari pendopo Majapahit, mahkota di puncak atap, mihrab, pintu kayu tebal dengan engsel kuno, serta sumur yang sudah lama ada.

"Soko pernah sempat dibuka. Namun banyak orang dari luar kota datang pada malam hari, melakukan zikir di sana. Akhirnya kami tutup untuk menjaga ketertiban," katanya.

Masjid ini telah mengalami enam kali perbaikan, namun elemen utama tetap dipertahankan keasliannya.

Di sekitar masjid terdapat makam yang diperkirakan merupakan tempat peristirahatan Kiai Kamal.

Pengaturan makam dilakukan dengan memperhatikan aspek keagamaan dan desain arsitektur.

"Masjid tidak diperbolehkan berada tepat di atas kuburan. Oleh karena itu, dipindahkan dengan cara yang sangat hati-hati, di malam hari, dan hanya diketahui oleh beberapa orang," katanya.

Sejarah Masjid Taqwa Sekayu, menurut pengakuan Achmad Arief, terbentuk dari tradisi lisan kisah para ulama yang kemudian diperkuat melalui penelitian akademis. (Rad)

TerPopuler