Mencegah Kekacauan: Pelajaran Peradaban dari Orang Baduy -->

Mencegah Kekacauan: Pelajaran Peradaban dari Orang Baduy

23 Feb 2026, Senin, Februari 23, 2026

bengkalispos.com.CO.ID, olehYayan Sopyan, Dosen Ilmu Sosial dan Antropologi di Fakultas Syariah serta Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Boaventura de Sousa Santos dalam Epistemologi Selatan: Keadilan Melawan Pembunuhan Pengetahuanmengingatkan bahwa dunia kontemporer sering terlalu mengandalkan satu bentuk pengetahuan: pengetahuan Barat. pola pikir ini kemudian menjadi standar tunggal perkembangan, sementara pengetahuan lokal dianggap ketinggalan zaman, tidak rasional, bahkan harus ditinggalkan. tulisan ini tidak bermaksud membahas seluruh gagasan utama Santos, namun berusaha memahami satu konsep penting—subsistensi—melalui gambaran kehidupan urang Kanekes atau masyarakat Baduy.

Santos menyebut adanya epistemisida, yaitu penghancuran terencana terhadap pengetahuan tradisional akibat dominasi sains modern, hukum pemerintah, dan sistem ekonomi kapitalis. Kolonialisme, sepanjang sejarahnya, tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga merusak cara masyarakat memahami ruang hidup, politik, dan budaya mereka sendiri. Ingatan bersama terputus, hubungan dengan leluhur melemah, serta cara manusia berinteraksi dengan alam dianggap tidak sah. Dalam bentuk yang lebih halus, pola ini masih berlangsung hingga kini: pengetahuan yang tidak sesuai dengan logika pasar dianggap tidak efektif, sehingga secara perlahan dikesampingkan.

Dampaknya sangat besar. Ketika bahasa daerah menghilang atau pengobatan tradisional ditinggalkan, manusia kehilangan metode lain untuk memahami kehidupan. Dunia menjadi seragam, namun pada saat yang sama rentan. Oleh karena itu, Santos mengemukakan konsep keadilan kognitif: pengakuan bahwa pengetahuan lokal bukanlah hambatan bagi kemajuan, melainkan pilihan penting bagi masa depan peradaban.

Pemikiran ini terasa dekat dengan kritik yang sering diungkapkan dalam pidato-pidato Kang Dedi Mulyadi (KDM) mengenai krisis identitas akibat gaya hidup konsumtif. Konsumerisme membuat manusia hanya menjadi pembeli, bukan lagi pengelola kehidupan. Ketergantungan semakin meningkat, sedangkan kemandirian semakin melemah. Dalam konteks budaya Sunda, sering ditekankan bahwa alam adalah amanat, bukan warisan yang bisa dieksploitasi secara bebas. Filosofi hidup seperti cageur, bageur, pinter, dan tur singer menekankan keseimbangan: sehat jasmani, baik perilaku, cerdas pikiran, serta sadar akan batas-batas alam.

Di sinilah kehidupan masyarakat Baduy menjadi contoh nyata. Mereka menjalani sistem ekonomi subsisten—menghasilkan cukup untuk kebutuhan hidup, bukan untuk diperjualbelikan. Di lahan huma mereka menanam padi gogo, talas, pisang, serta tanaman pangan lainnya terutama untuk keperluan sendiri. Padi tidak dianggap sebagai barang dagangan, melainkan sebagai amanat leluhur. Ia disimpan di leuit sebagai persediaan kehidupan dan simbol kelangsungan generasi.

Kemandirian menjadi dasar utama. Pakaian dibuat sendiri, rumah dibangun dari bahan alami, obat-obatan diperoleh dari tumbuhan di hutan. Ketergantungan terhadap teknologi modern dan pasar dibatasi karena dianggap dapat mengganggu keseimbangan kehidupan. Tujuan bekerja bukan untuk memperbesar laba, tetapi menjaga kelangsungan hidup komunitas.

Skala produksi mereka terbatas dan alat yang digunakan sederhana— seperti pacul, bedog, parang, dan tugal, tanpa menggunakan pupuk kimia, mesin, atau sistem irigasi buatan. Aturan adat (pikukuh karuhun) melarang pemanfaatan berlebihan terhadap lingkungan. Bagi masyarakat Baduy, alam bukanlah objek ekonomi, tetapi ruang tempat hidup bersama. Mengganggu alam berarti melanggar aturan kosmik.

Pengetahuan mereka disampaikan secara turun-temurun: membaca musim melalui pergerakan bintang, menentukan waktu tanam berdasarkan tanda-tanda alam, serta menjaga hutan sebagai sumber kehidupan. Pengetahuan ekologis ini juga berperan sebagai aturan sosial. Dengan demikian, subsistensi bukan hanya cara untuk bertahan hidup, tetapi sistem nilai yang mengatur hubungan antara manusia, alam, dan leluhur.

Oleh karena itu, ekonomi subsisten Baduy tidak boleh dianggap sebagai kemunduran. Justru, ini merupakan strategi sadar untuk menjaga stabilitas sosial: tidak ada persaingan ekonomi yang berlebihan, ketimpangan yang rendah, dan solidaritas masyarakat yang kuat. Di tengah dunia yang menghadapi krisis lingkungan dan krisis makna, kehidupan Baduy menunjukkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti mempercepat produksi—terkadang justru berarti memperlambatnya.

Dari masyarakat Baduy kita dapat belajar bahwa masa depan tidak hanya memerlukan inovasi teknologi, tetapi juga keberanian untuk mengakui kembali pengetahuan tradisional. Kehidupan sederhana bukanlah kesedihan akan masa lalu, melainkan alternatif lain bagi peradaban yang lebih seimbang. Wallahu a’lam.

TerPopuler