
bengkalispos.com.CO.ID, WASHINGTON -- Militer Amerika Serikat disebut sedang mempersiapkan kemungkinan perang berkepanjangan terhadap Iran selama beberapa minggu jika Presiden Donald Trump nanti memberikan perintah serangan. Informasi ini diungkapkan oleh dua pejabat AS yang dikutipReuters, Jumat (13/2/2026).
Jika serangan dilakukan, hal itu akan memicu konflik yang jauh lebih parah dibandingkan dengan peristiwa sebelumnya antara Amerika Serikat dan Iran. Rencana perang yang disusun oleh Pentagon kali ini lebih rumit, menurut pejabat yang diwawancarai.Reuters.
Menurut pejabat tersebut, dalam rencana perang yang berkepanjangan, militer Amerika Serikat mungkin akan melakukan serangan udara terhadap pusat keamanan dan pemerintahan Iran, bukan hanya infrastruktur nuklir seperti yang dilakukan pada bulan Juni tahun lalu. Sementara itu, menurut para ahli, risiko perang bagi Angkatan Bersenjata AS saat ini jauh lebih tinggi karena Iran memiliki persenjataan besar berupa rudal. Serangan balasan dari Iran kemungkinan akan memicu konflik di kawasan.
Setelah serangan awal, Amerika Serikat mengira Iran akan segera membalas, yang kemudian akan berlanjut menjadi pertukaran serangan antara AS dan Iran selama beberapa minggu. Berdasarkan laporan tersebut, Gedung Putih dan Pentagon menolak memberikan konfirmasi.
Selain itu, Trump telah beberapa kali mengancam akan kembali meluncurkan serangan udara terhadap Iran. Pada hari Kamis (12/2/2026), ia menegaskan bahwa opsi dan solusi diplomatik akan "sangat traumatis, sangat traumatis."
Trump mengakui "sulit mencapai sebuah perjanjian" dengan Iran.
Pekan lalu, perwakilan Amerika Serikat dan Iran melakukan pembicaraan di Oman. Selama proses diplomasi mengenai program nuklir Iran tersebut, Departemen Pertahanan AS mengirimkan armada tambahan ke kawasan Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah memberi peringatan bahwa jika wilayah Iran diserang, mereka akan melakukan balasan dengan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Artinya, Iran akan meluncurkan serangan bom terhadap negara-negara Arab yang selama ini menjadi basis pasukan AS.