
bengkalispos.comMenua bukan hanya sekadar proses biologis—ia merupakan perjalanan psikologis yang mendalam.
Beberapa orang memasuki masa tua dengan rasa pahit, penuh penyesalan, dan ketakutan. Namun terdapat juga yang menua dengan tenang, penuh kepercayaan diri, dan memiliki harga diri.
Berdasarkan teori perkembangan yang dikemukakan oleh Erik Erikson, tahap akhir dalam kehidupan manusia ditandai dengan konflik antara integritas dan keputusasaan.
Orang-orang yang mencapai keterbukaan hati mampu menerima kehidupannya sebagaimana adanya, termasuk segala kegagalan dan keberhasilan.
Dikutip dari Geediting pada Rabu (18/2), individu yang menua dengan harga diri biasanya menyadari beberapa kebenaran psikologis yang sering kali ditolak atau dihindari oleh kebanyakan orang sepanjang hidup mereka.
Berikut delapan hal tersebut.
1. Tidak Semua Orang Akan Merasa Suka Kepada Anda — dan Ini Bukan Masalah
Sejak masih muda, banyak orang berusaha keras agar diterima oleh orang lain. Mereka menyesuaikan diri, membuat semua pihak senang, bahkan rela mengorbankan prinsip pribadi.
Namun, psikologi mengungkapkan bahwa keinginan berlebihan untuk diterima secara sosial sering kali berasal dari ketidakpercayaan diri.
Konsep penerimaan diri dalam psikologi humanistik yang diperkenalkan oleh Carl Rogers menekankan bahwa menerima diri sendiri merupakan dasar dari kesehatan mental.
Seseorang yang menua dengan harga diri menyadari bahwa tidak mungkin membuat semua orang senang. Mereka lebih memilih keterbukaan daripada ketenaran.
2. Kegagalan Merupakan Pembelajaran Terbaik
Banyak orang merasa takut akan kegagalan. Mereka menghindari pengambilan risiko, menunda harapan mereka, atau berhenti berusaha.
Namun, penelitian mengenai pola pikir pertumbuhan oleh Carol Dweck menunjukkan bahwa orang yang melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar cenderung berkembang lebih jauh.
Orang-orang yang menua dengan bijak memandang kegagalan sebagai bagian wajar dari perjalanan hidup. Mereka tidak merasa malu akan kesalahan masa lalu—mereka mengambil pelajaran darinya.
3. Kebahagiaan Tidak Terikat pada Hasil Luar Negeri
Masyarakat sering kali memperkenalkan anggapan bahwa kebahagiaan berasal dari harta, posisi, atau tingkat sosial.
Namun, penelitian panjang yang dilakukan oleh Harvard Study of Adult Development menunjukkan bahwa faktor utama yang memengaruhi kebahagiaan jangka panjang adalah kualitas hubungan, bukan kekayaan atau popularitas.
Orang yang menua dengan harga diri menyadari bahwa hubungan emosional lebih bernilai daripada penghargaan umum.
4. Perasaan Tidak Perlu Dihambat, Namun Harus Dipahami
Banyak tradisi mengajarkan untuk menekan perasaan sedih, marah, atau takut. Namun, psikologi kontemporer menekankan pentingnya pengelolaan emosi, bukan penekanan.
Konsep kecerdasan emosional yang dikenalkan oleh Daniel Goleman menyatakan bahwa kemampuan untuk mengenali dan mengendalikan perasaan berpengaruh signifikan terhadap kesuksesan seseorang.
Orang yang menua dengan anggun tidak menyangkal emosi mereka. Mereka mengelolanya secara sadar.
5. Waktu Lebih Berharga Dibandingkan Uang
Sepanjang masa hidup, banyak orang mengganti waktu dengan uang—terkadang tanpa batas. Mereka mengorbankan kesehatan serta hubungan untuk kesuksesan karier.
Teori Selectivity Emosional Sosial yang dikemukakan oleh Laura Carstensen menjelaskan bahwa ketika seseorang menyadari bahwa masa hidupnya terbatas, maka ia cenderung lebih memilih aktivitas dan hubungan yang bernilai serta bermakna.
Orang yang menua dengan harga diri lebih memahami hal ini sejak awal: waktu merupakan sumber daya terpenting.
6. Kontrol Itu Terbatas
Manusia biasanya menginginkan kendali atas segala sesuatu—hasil, orang lain, bahkan masa depan. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, rasa stres muncul.
Psikologi positif yang dikemukakan oleh Martin Seligman membedakan antara hal-hal yang bisa kita atur dan yang tidak. Menerima batasan kemampuan mengontrol justru meningkatkan kesejahteraan.
Seseorang yang menua dengan tenang memahami kapan harus berjuang dan kapan harus melepaskan.
7. Kepribadian Tidak Selalu Terkait dengan Peran
Banyak orang merasa sepenuhnya terkait dengan pekerjaan atau posisi mereka: "Saya adalah jabatan saya."
Saat mereka pensiun atau kehilangan posisi tersebut, mereka merasa kehilangan tujuan.
Konsep pengembangan diri dalam hierarki kebutuhan Abraham Maslow menekankan bahwa harga diri tidak hanya tergantung pada pencapaian luar, tetapi juga pada perkembangan internal.
Seseorang yang menua dengan harga diri menyadari bahwa mereka bukan hanya sekadar pekerjaan atau gelar.
8. Kehidupan Tidak Perlu Sempurna Untuk Tetap Berarti
Standar yang tinggi sering dianggap sebagai hal positif. Namun, dalam banyak situasi, hal ini justru menyebabkan rasa cemas dan ketidakpuasan yang terus-menerus.
Pendekatan logoterapi yang dikembangkan oleh Viktor Frankl menekankan bahwa makna hidup masih bisa ditemukan meskipun berada dalam kondisi penderitaan.
Seseorang yang menua dengan harga diri menerima kekurangan dalam kehidupan. Mereka tidak menantikan situasi sempurna untuk merasa puas.
Penutup: Integritas sebagai Puncak Kematangan
Pada akhirnya, menua dengan harga diri bukanlah tentang tidak memiliki kerutan atau tetap berkarya secara finansial. Hal itu lebih berkaitan dengan penerimaan, kedewasaan emosional, serta keberanian menghadapi kenyataan hidup tanpa harapan palsu.
Seperti yang dijelaskan oleh Erik Erikson, mereka yang mencapai rasa utuh melihat kehidupan mereka sebagai satu kesatuan yang utuh—bukan sekadar daftar kesalahan.