Pangkalan Militer Terkuat di Dunia, Mengapa KKB Papua Sulit Dikalahkan? -->

Pangkalan Militer Terkuat di Dunia, Mengapa KKB Papua Sulit Dikalahkan?

17 Feb 2026, Selasa, Februari 17, 2026

TULISANIni terinspirasi oleh kematian Kapten Egon beserta kopilotnya, Baskoro. Banyak komentar netizen yang meragukan keberadaan KKB. Kami memiliki banyak tentara, mengapa tidak mampu mengalahkan kelompok kecil ini? Saya perlu melakukan riset untuk menulis ini. Dengarkan ceritanya sambil minum Koptagul, wak!

Indonesia merasa bangga. Memang layak untuk bangga. Pada tahun 2026, kekuatan militer Indonesia berada di peringkat ke-13 dunia dengan Indeks Kekuatan sebesar 0,2582. Jumlah personel aktif sekitar 404.500 pada tahun 2023. Modernisasi sedang berlangsung. Pesawat tanpa awak diterbangkan. Operasi dilakukan. Satuan Tugas Damai Cartenz, Operasi Habema, patroli intensif di daerah pegunungan. Secara angka dan logika militer konvensional, ini adalah negara besar.

Namun kemudian muncul pertanyaan yang menarik, bahkan bagi para pembaca yang baru menyadari adanya konflik berkepanjangan di bagian timur Indonesia. Jika tentara kita berada di peringkat 13 dunia, mengapa konflik bersenjata di Papua belum juga selesai?

Mari kita lihat kembali arsip sejarahnya. Persoalan ini tidak muncul tiba-tiba. Akar konflik ini berawal dari tahun 1962, ketika Papua diserahkan melalui Perjanjian New York. Pada tahun 1969 dilakukan "Act of Free Choice". Nama yang terdengar demokratis tersebut pada kenyataannya hanya melibatkan 1.026 perwakilan yang dipilih untuk menentukan nasib jutaan orang Papua. Bukan satu orang satu suara. Sejak saat itu, bagi sebagian masyarakat Papua, luka sejarah ini tidak pernah benar-benar pulih.

Pada tahun 1963, Organisasi Papua Merdeka (OPM) didirikan. Awalnya mengandung campuran idealisme, spiritualitas cargoism, dan tuntutan identitas. Namun seiring berjalannya waktu, pergerakan tersebut berubah menjadi perlawanan bersenjata. Saat ini pemerintah menyebut mereka sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), sedangkan mereka sendiri mengidentifikasi diri sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Berapa jumlah mereka? Perkiraan tahun 2024 berkisar antara 1.200 hingga 1.438 orang.

Bandingkan dengan 404.500 personel aktif TNI. Secara matematis, seharusnya pertarungan ini tidak seimbang. Namun kenyataan di lapangan jauh lebih rumit daripada sekadar perhitungan jumlah.

Sejak tahun 2018, tingkat konflik semakin memburuk. Pada tahun 2021, TPNPB mengumumkan "perang" terhadap Indonesia. Serangan terhadap petugas dan proyek pembangunan semakin meningkat. Pada April 2025, 17 penambang emas dibunuh dengan tuduhan sebagai mata-mata militer. Pemerintah telah menetapkan mereka sebagai teroris sejak tahun 2021.

Kemudian pada 11 Februari 2026, dunia kembali memperhatikan. Pesawat Smart Air Cessna Grand Caravan ditembak di Lapangan Terbang Korowai Batu, Boven Digoel, Papua Selatan. Pilot Kapten Enggon Erawan dan kopilot Kapten Baskoro Adi Anggoro dieksekusi. Tiga belas penumpang melarikan diri ke hutan. Diduga pelaku berasal dari Batalyon Kanibal dan Batalyon Semut Merah yang berada di bawah pimpinan Elkius Kobak, mantan prajurit TNI yang kini memimpin kelompok bersenjata.

Bagaimana sebuah kelompok yang terdiri dari ribuan anggota dapat tetap bertahan?

Pertama: medan. Pegunungan Papua bukan hanya sebuah tempat, melainkan benteng alami. Hutan yang lebat, lembah yang curam, serta akses yang terbatas. Ini bukan pertempuran di kota. Ini perang gerilya.

Kedua: ketidakseimbangan konflik. TNI merupakan kekuatan yang bersifat konvensional. KKB/TPNPB beroperasi dalam kelompok-kelompok kecil, melakukan serangan cepat dan langsung menghilang. Mereka memperoleh senjata melalui perampasan, pembelian lintas perbatasan, bahkan dugaan penjualan ilegal oleh oknum aparat.

Ketiga: aspek sosial-politik. Sejak tahun 2018, sebanyak 80.000 hingga 100.000 penduduk mengungsi akibat perang. Pada tahun 2025, tercatat 132 korban jiwa dalam 85 kasus kekerasan, dengan 77 di antaranya merupakan warga sipil. Tahun 2024 mencatat 44 korban sipil (menurun dari 63 pada 2023). Di sisi pihak keamanan, 39 prajurit dan 17 anggota polisi tewas antara tahun 2023 hingga 2025. Sementara itu, 272 anggota TPNPB gugur selama periode 2021 hingga 2025.

Sejak tahun 1963, diperkirakan jumlah korban jiwa di kalangan penduduk asli Papua mencapai antara 100.000 hingga 300.000 orang. Angka-angka ini menunjukkan bahwa konflik tersebut bukan hanya sekadar tindakan militer. Melainkan sebuah isu yang melibatkan sejarah, identitas, demografi, dan ekonomi.

Papua memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tambang Grasberg yang dimiliki oleh Freeport-McMoRan, Blok Wabu dengan perkiraan 8,1 juta ons emas, serta proyek MIFEE di Merauke. Dari sudut pandang negara, pembangunan dan pendapatan devisa. Dari sudut pandang kelompok separatis, ini dianggap sebagai kolonialisme internal.

Pada bulan Juni 2022, Papua dibagi menjadi lima provinsi, yaitu Papua (pusat), Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Selatan, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan, sehingga berjumlah enam. Pemerintah menyebutnya sebagai percepatan pembangunan. Majelis Rakyat Papua menyebutnya sebagai strategi "bagi dan kuasai".

Kemudian muncul dugaan masyarakat, apakah perselisihan ini secara tidak langsung mendukung kebutuhan perluasan militer? Ada rencana penambahan 750.000 anggota hingga tahun 2029, sehingga jumlah keseluruhan bisa mencapai 1,2 juta. Anggaran TNI disebut hanya sekitar 30% berasal dari pemerintah, sementara sisanya berasal dari bisnis internal. Tidak ada bukti konspirasi bahwa perselisihan "dipertahankan", tetapi pertanyaan tersebut terus beredar di ruang publik.

Maka mengapa KKB belum "dikalahkan"? Karena ini bukan pertempuran biasa. Ini adalah konflik tidak seimbang yang berakar pada sejarah panjang, identitas kolektif, ketidaksetaraan ekonomi, dan luka politik. Militer bisa unggul dalam peringkat global. Namun konflik yang didasarkan pada sejarah dan persepsi ketidakadilan tidak dapat diselesaikan hanya dengan keunggulan militer.

Jadi, peringkat 13 dunia adalah angka. Papua adalah kisah yang belum selesai.

Penulis: Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

TerPopuler