Pengunjung Merasa Nyaman di Joglo Makam Mbah Sholeh Darat, Dimas Sering Datang Berdoa -->

Pengunjung Merasa Nyaman di Joglo Makam Mbah Sholeh Darat, Dimas Sering Datang Berdoa

25 Feb 2026, Rabu, Februari 25, 2026
Pengunjung Merasa Nyaman di Joglo Makam Mbah Sholeh Darat, Dimas Sering Datang Berdoa

JATENG.COM,  SEMARANG -Saat siang berubah menjadi sore, hujan baru saja berhenti, yaitu hari Kamis. Tanah di kawasan TPU Bergota, Randusari, Kecamatan Semarang Selatan masih basah.

Aroma tanah basah tercium di antara barisan makam. Hujan yang bercampur angin sore itu meninggalkan langit yang masih gelap, menunjukkan bahwa hujan masih saja datang tiba-tiba. Namun, hal tersebut tidak menghalangi para peziarah untuk berkunjung ke makam Kiai Sholeh Darat.

Dimas Bayu Prabowo baru saja selesai melakukan ziarah. Langkahnya percaya diri, matanya terlihat familiar dengan lokasi tersebut.

"Saya biasanya mengunjungi makam Mbah Sholeh Darat setiap minggu, yaitu pada hari Kamis," ujar Dimas yang sedang berziarah sendirian, Kamis (19/02/2026).

Dimas menyatakan, meskipun sekarang memasuki awal bulan Ramadan, ia tetap melanjutkan kebiasaannya untuk mengunjungi makam Kyai Sholeh Darat.

Ia mengakui selalu merasa tenang setiap kali selesai berdoa di makam tokoh ulama besar itu.

"Intinya setelah dari sini saya merasa lebih tenang, lebih nyaman. Terasa aktivitas saya jadi lebih ringan," katanya.

Pergi ke makamnya, menurutnya, dilakukan sebagai bentuk doa untuk sang ulama.

Menurutnya, sebagai salah satu ulama besar di Semarang, Kiai Sholeh Darat dikenal luas sebagai guru dari banyak tokoh penting dan penyebar ajaran Islam di Jawa.

Tokohnya dihormati tidak hanya karena ilmunya, tetapi juga karena perannya dalam menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat.

"Saya datang untuk berdoa bagi beliau, karena beliau adalah Waliyullah 'Wali Allah', semoga mendapatkan karamah," katanya.

Pada awal bulan Ramadan seperti saat ini, pengunjung memang tidak sebanyak hari-hari sebelumnya khususnya menjelang bulan Ramadan.

Sumiati, salah satu pengurus makam, mengatakan, peningkatan jumlah pengunjung biasanya terjadi sejak bulan Ruwah atau Syakban.

Ritual nyadran yang dilakukan oleh masyarakat Jawa menjadi kesempatan untuk memohon doa kepada leluhur serta melakukan kunjungan ke makam tokoh ulama terkenal.

"Banyak orang yang berkunjung ke Mbah Sholeh saat bulan Ruwah. Terlebih dengan kondisi makam yang kini telah diperbaiki oleh pemerintah: ada jalan yang lebar, hal ini semakin mempercepat kenyamanan para peziarah," ujarnya Sumiati.

Meski tidak seramai saat tradisi nyadran atau menjelang Ramadan, lanjutnya, arus peziarah tetap mengalir setiap harinya.

"Maka tidak ada hari khusus yang harus bersama-sama (untuk berziarah). Jadi setiap hari, setiap minggu, bila ada kesempatan libur, maka pergi ke makam," kata Sumiati.

Menurutnya, hingga saat ini, para pengunjung tidak hanya berasal dari Kota Semarang dan sekitarnya, tetapi juga dari berbagai wilayah di luar kota bahkan luar provinsi.

Ia mengatakan, rombongan dari Jawa Timur seperti Kediri, Lamongan, Surabaya, dan Pacitan sering datang secara bergantian.

Pengunjung juga datang dari Jawa Barat, misalnya dari Indramayu dan Cirebon.

Sementara dari Jawa Tengah, menurutnya hampir setiap hari datang rombongan dari Kendal, Kaliwungu, Kudus, hingga Brebes.

"Alhamdulillah, tidak ada aturan, tapi mereka bisa terbentuk. Jadi, misalnya, tiba-tiba minggu ini ada rombongan dari mana saja: dari Jawa Timur. Nah, keesokan harinya atau setelah itu muncul lagi dari Kediri, Lamongan, lalu dari Surabaya, dan lain sebagainya," katanya.

Tidak hanya warga biasa, beberapa pejabat juga pernah melakukan ziarah ke makam yang terletak di TPU Bergota.

Banyak pejabat yang hadir, Alhamdulillah. Terlebih jika memasuki masa pemilu, katanya.

Menurut Sumiati, nama besar Kiai Sholeh Darat memang memiliki dampak yang luas di Nusantara.

Tokoh ulama yang lahir di Kedung Jumbleng, Mayong, Jepara ini terkenal sebagai pendidik para ulama besar.

Ia adalah tokoh yang menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa dengan menggunakan aksara Arab Pegon pada masa penjajahan Belanda.

Metode tersebut menjadi cara berdakwah agar ajaran Islam tetap bisa disampaikan meskipun kegiatan pendidikan dan pengajian pada masa itu terbatasi oleh pemerintah kolonial.

"Pada masa itu, saat penjajahan Belanda, sekolah dilarang dan pengajian juga dilarang. Bagaimana Mbah Sholeh Darat bisa menyebarkan agama kepada masyarakat tanpa dihentikan oleh pihak Belanda? Ia melakukan terjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa menggunakan tulisan Arab pegon, dan ini berhasil," katanya.

Selain terkenal sebagai penerjemah Al-Qur'an, Kiai Soleh Darat juga aktif menulis kitab, di mana belasan karyanya telah ditemukan.

Dampaknya semakin signifikan karena beberapa tokoh penting pernah menimba ilmu darinya.

Di antaranya ialah KH Hasyim Asy'ari, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama, dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Tokoh pembebasan wanita Raden Ajeng Kartini diduga kuat merupakan salah satu muridnya.

Figur intelektual

Sekretaris Komunitas Pecinta Sholeh Darat (Kopisoda), Mochamad Ichwan mengungkapkan, sosok Sholeh Darat bukan hanya seorang ulama abad ke-19, tetapi juga tokoh intelektual yang pemikirannya berkontribusi dalam membentuk pandangan Kartini mengenai pendidikan, pencerahan, serta peran wanita.

Menurut Ichwan, dampak tersebut memang tidak selalu tercantum secara jelas dalam dokumen sejarah.

Dalam surat-suratnya, Kartini lebih sering menyebut "Romo Kiai" tanpa menyebut nama. Namun, beberapa penelitian menunjukkan hubungan yang sangat erat antara keduanya.

Selain hidup pada masa yang sama, yaitu Sholeh Darat meninggal pada tahun 1903 dan Kartini setahun kemudian pada 1904, keduanya juga berada dalam lingkungan sosial yang saling tumpang tindih di wilayah pesisir Jawa, khususnya Jepara dan Semarang.

Sholeh Darat terkenal dengan kebiasaannya memberikan pengajian kepada kalangan elit, termasuk di ruang-ruang pertemuan kabupaten, seperti Demak dan Jepara.

Ichwan menceritakan, salah satu peristiwa yang sering disebut adalah ketika Kartini akhirnya memahami makna Surah Al-Fatihah. Sebelumnya, ia pernah meragukan mengapa Al-Qur'an hanya diajarkan untuk dibaca, tanpa diberikan penjelasan artinya.

"Kartini ketika masih kecil belajar membaca Al-Qur'an dan bertanya kepada ustaz di desa, 'Pak, mungkin diberi tahu artinya Al-Qur'an itu apa?' Namun pada saat itu, 'yang penting bisa membaca untuk mendapatkan pahala'. Nah, ketika masih kecil, Kartini menyebut guru ngajinya sebagai Pak Ustaz. Tapi setelah ia mengetahui makna Al-Fatihah, kemudian ia memanggil kiai. Diduga pasti orang tua yang berpengalaman. Kami hingga saat ini masih sepakat bahwa itu adalah Mbah Sholeh Darat," jelasnya.

Di berbagai suratnya, Kartini sering menyebutkan gagasan tentang "keluar dari kegelapan menuju cahaya", yang selaras dengan makna Surah Al-Baqarah ayat 257.

Pemahaman itu dianggap diperolehnya melalui pengajian sang kiai.

"Maka pada masa itu Kartini sering menulis surat dengan bahasa Belanda: Door Duisternis tot Licht. Itu berasal dari ayat Al-Qur'an 'Orang-orang yang beriman diarahkan oleh Allah dari kegelapan menuju cahaya'. Ternyata setelah semua kalimat itu diterjemahkan kembali menjadi 'setelah gelap muncullah terang'," jelasnya.

Ichwan menjelaskan bahwa Sholeh Darat memang terkenal mengambil langkah yang berbeda pada zamannya.

Saat pendidikan agama dikaitkan dengan pesantren dan bahasa Arab, ia justru menulis kitab-kitabnya menggunakan bahasa Jawa.

Paling sedikit 15 karya telah dikenali. Beberapa di antaranya berkaitan dengan fiqih, sufisme, serta tafsir Al-Qur'an.

Karya besar Faidh al-Rahman dianggap sebagai salah satu tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Jawa yang pertama di Nusantara. Buku ini ditulis pada 5 Rajab 1309H/1891M. Kitab ini terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah hingga Ibrahim.

Pada masa itu, jelasnya, pemerintah kolonial Belanda melarang orang untuk menerjemahkan Al-Qur'an, dan para ulama juga melarangnya. Mbah Sholeh Darat melanggar larangan tersebut.

Karena permintaan Kartini dan ajakan untuk berdakwah, Mbah Sholeh Darat menerjemahkan dengan menggunakan huruf Arab Pegon agar tidak dicurigai oleh penjajah.

Tindakan ini dianggap sebagai langkah yang membangkitkan perubahan besar. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat umum, ajaran agama menjadi lebih terbuka dan mencakup berbagai kalangan.

Dulunya, orang yang ingin belajar agama harus mengikuti pesantren, tinggal di asrama, dan memahami bahasa Arab. Mbah Soleh tidak perlu mondok, tidak masalah, yang penting dia mengulang aku, 'mengaji bersamaku' dengan bahasa Jawa pun bisa," katanya.

Bagi Ichwan, pola ini sesuai dengan semangat Kartini dalam membuka kesempatan pendidikan bagi perempuan. Selain melalui tafsir, pengaruh tersebut juga terlihat dalam kitab Majmu’at Syari’at al-Kafiyat li al-Awam. Dalam kitab ini, dibahas masalah fiqih tetapi dengan penjelasan mengenai hakikat dan ma'rifat yang harus dicari setelah seseorang memahami syariat.

"Nah menurut Profesor Sri Suhandjati Sukri, feminisme Kartini dipengaruhi oleh kitab ini. Perempuan harus diajarkan membatik, menjahit, dan diajarkan membaca, meskipun tidak bisa menulis. Luar biasa masa lalu," jelasnya.

Di akhir abad ke-19, ide-ide semacam ini dianggap maju. Ketika wanita sering kali dibatasi dalam lingkup rumah tangga, Sholeh Darat justru menekankan peran pentingnya keterampilan dan literasi sebagai bekal untuk menjadi mandiri.

"Zaman dulu kebanyakan perempuan hanya bertugas memasak, mencuci, dan merapikan. Saat Mbah Sholeh, kitab ini sangat progresif. Perempuan harus diajarkan membatik dan menjahit. Artinya adalah kemandirian. Itu dianggap progresif pada masa itu," katanya.

Selain gagasan pendidikan dan perempuan, Sholeh Darat juga dikenal keras dalam pandangan terhadap penjajahan. Dalam beberapa tulisan yang ditulisnya, ia memperingatkan umat agar tidak mengikuti kolonialisme. Semangat menentang penjajahan dan rasa cinta tanah air itulah yang diyakini menjadi inspirasi bagi para muridnya.

Ternyata setelah kita membuka kitab-kitabnya serta kutipan-kutipannya, Mbah Sholeh Darat mengajarkan sesuatu yang diteladani oleh muridnya. Misalnya, tentang mengajarkan sikap anti penjajahan. Mbah Hasyim Asy'ari juga demikian, dalam kitab-kitabnya Mbah Hasyim juga menunjukkan sikap anti penjajah. Ia mencintai tanah air dan persatuan," tambahnya.(Idayatul Rohmah)

TerPopuler