JATENG.COM, SEMARANG -Aroma kopi yang menggugah selera memenuhi hidung ketika langkah kaki tiba di toko milik Saka Bayu Praditya, seorang barista asal Kabupaten Semarang.
Pria berusia 33 tahun ini, saat diwawancara oleh Jateng, sedang membuat kopi Americano pesanan pelanggannya.
Siapa sangka, Saka yang sekarang ahli dalam meracik kopi dulu merupakan awak kapal perikanan migran atau pekerja kapal yang berbendera Tiongkok dan Korea Selatan.
Ia pernah berkeliaran ke berbagai lautan dan negara akibat pekerjaannya itu.
Namun, profesi Saka kini berada di tengah dunia perkotaan yang telah ia tekuni selama dua tahun terakhir.
"Saat menjadi AKP Migran, saya menarik tali tambang kapal, sekarang fokus menggerakkan tangan dalam proses menuang kopi," katanya saat diwawancara Jateng, beberapa waktu lalu.
Saka menceritakan, awalnya ia menjadi ABK kapal asing karena melihat banyak tetangganya berhasil bekerja sebagai pekerja kapal perikanan. Ia pun tertarik ikut bekerja di atas kapal, meskipun sama sekali tidak memiliki pengalaman.
Singkatnya, ia bekerja di kapal berbendera Tiongkok antara tahun 2016 hingga 2018.
Setelah kembali dari Tiongkok, ia membuka usaha Warmindo di alun-alun Ambarawa, namun mengalami kegagalan total.
Kegagalan tersebut memicu semangatnya untuk kembali mencoba nasib di laut. Akhirnya, ia bekerja di kapal yang memiliki bendera Korea Selatan.
"Berangkat ke Korea melalui sistem skema G To G (Government to Government), saya pergi pada tahun 2022 dan kembali pada tahun 2024," katanya.
Setelah bekerja di kapal Korea, semangat wirausaha Saka tetap terus berkobar.
Akhirnya ia berani membuka usaha kopi. Usaha ini sebenarnya sudah lama menjadi rencananya, terutama saat berada di Korea.
Alasannya sederhana, selama bekerja di sana, kepala tukangnya di Korea selalu memintanya untuk menyiapkan kopi. Karena terbiasa mengekstraksi kopi dengan metode pouring di Korea, ia merasa memiliki kemampuan yang cukup untuk menjadi seorang barista.
"Kepala tukang selalu mengatakan, kopi yang saya buat lezat, jadi merasa tertantang untuk meningkatkan kemampuan sebagai seorang barista," katanya.
Setelah kembali dari Korea, ia kemudian mengikuti pelatihan barista menggunakan dana yang telah disisihkan dari hasil kerjanya di Korea. Setelah itu, ia langsung membuka toko kopi.
"Pada awalnya membuka usaha di ruko, namun karena masa kontrak berakhir, kemudian membuka kafe kopi di rumah," kata warga Kupang Dukuh, Kelurahan Kupang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.
Merek kopi yang sedang dikembangkan oleh Saka adalah Majapahit. Nama merek kopi ini juga tidak terlepas dari Korea Selatan, tempat ia terinspirasi untuk menjadi seorang barista.
"Maja dalam bahasa Korea berarti benar, sedangkan pahit dalam bahasa Indonesia. Kemudian digabung menjadi Majapahit, atau benar-benar pahit," katanya sambil tersenyum.
Susah Cari Kerja
Persaingan Saka dengan dunia kopi juga mencerminkan situasi pasar kerja saat ini.
Bagi saka, membuka toko merupakan pilihan terakhir setelah mencari pekerjaan di Indonesia sangat sulit.
Terlebih lagi menghadapi masalah batasan usia pencari kerja. Belum lagi ia adalah mantan AKP, yang memiliki keterampilan terbatas setelah pulang dari berlayar.
Jika ingin melamar pekerjaan, sulit di usia seperti saya sekarang. Sekali lagi, kesempatan kerja yang saya peroleh berada di laut, padahal bekerja di laut sangat berbahaya, yaitu risiko kematian,
Karena menyadari bahaya tersebut, Saka akhirnya memutuskan bekerja di darat sebagai barista.
Ia menyadari perbedaan pendapatan yang sangat besar antara bak bumi dan langit.
Namun, ia kini setidaknya merasa lebih aman jauh dari ancaman kematian yang selalu mengintai kapan saja.
"Ya, meskipun penghasilannya biasa saja, setidaknya risikonya sedikit. Saya lebih menikmati pekerjaan ini," katanya.
Alasan lain yang mendorong Saka untuk terlibat dalam dunia perkopian adalah ingin memperkenalkan lebih dalam mengenai kopi robusta khas lokal dari Gunung Kelir serta Kopi Bandungan, Kabupaten Semarang.
"Saya juga ingin menyajikan kopi bir Majapahit yang merupakan campuran dari hasil fermentasi nira dan kopi," katanya.
Sebagai langkah memperkenalkan produk tersebut, Saka menghadiri berbagai acara lokal dan luar kota guna mempromosikan kopi khas Semarang. Berbagai acara yang diikuti antara lain acara musik, rock, serta acara pemerintahan dan acara terkait awak kapal perikanan.
Namun, Saka mengakui, tantangan dalam dunia kopi saat ini semakin berat. Ia berharap, persaingan di bidang kopi lebih sehat dan menitikberatkan pada kualitas, bukan harga.
"Kami juga berharap ada peningkatan pelatihan manajemen dan keterampilan karyawan agar produksi kopi menjadi lebih profesional," katanya.
Dalam menjalani usahanya, Saka bergabung dengan Jangkar Karat Indonesia, serikat pekerja bekas kapal migran, khususnya mantan ABK migran yang benderanya Korea Selatan dan berada di Tegal.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Jangkar Karat Indonesia, Paryanto Ulsan menyatakan, perhatian pemerintah terhadap mantan AKP migran masih sangat sedikit.
Mereka ketika masih bekerja di kapal dianggap sebagai pahlawan devisa, namun setelah tidak lagi bekerja di kapal, jarang mendapat perhatian dari pemerintah.
"Ya Jangkar Karat berfungsi sebagai tempat bagi AKP migran, bukan hanya dari Korea Selatan, tetapi juga dari negara-negara lainnya dengan harapan agar wadah ini mendapatkan perhatian dari pemerintah," jelasnya. (Iwan Arifianto)