Mabes TNI turun ke Balikpapan cegah karhutla, warga diminta tak bakar lahan

admin ·
Mabes TNI turun ke Balikpapan cegah karhutla, warga diminta tak bakar lahan
Ringkasan Berita:
  • Mabes TNI turun langsung mengedukasi warga Kelurahan Sepinggan, Balikpapan Selatan, terkait pencegahan karhutla.
  • Masyarakat diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan titik api.
  • BPBD Balikpapan mencatat 37 kejadian karhutla dengan total 16,3 hektare area semak belukar terdampak hingga akhir Agustus 2026.

KALTIM.CO, BALIKPAPAN – Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.

Markas Besar TNI mengerahkan Tim Penyuluh untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya dan pencegahan karhutla.

‎Tim Penyuluh Mabes TNI tersebut terdiri atas Staf Ahli Mabes TNI dan Mabes Angkatan serta sejumlah Perwira Siswa yang tengah mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI.

‎Dalam rangkaian kegiatan di Balikpapan, tim terlebih dahulu melaksanakan audiensi dengan Dandim 0905/Balikpapan, Kolonel Inf Denny Salurerung.

Sebelum menjadi Dandim  0905/Balikpapan, Kolonel Inf Denny Salurerung merupakan Komandan Detasemen Intelijen Kodam (Dandeninteldam) VI/Mulawarman.

‎Audiensi tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi terkini wilayah Balikpapan, termasuk potensi kerawanan karhutla serta langkah-langkah yang telah dilakukan dalam upaya pencegahan dan penanganannya.

Secara geografis, wilayah Balikpapan berada di pesisir tenggara Pulau Kalimantan.

Sekitar 85 persen wilayahnya merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian antara 0 hingga lebih dari 100 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Sebagian besar tanahnya berupa podsolik merah-kuning dan pasir kuarsa yang memiliki sifat sangat rapuh dan mudah mengalami erosi.

‎Selanjutnya, Tim Penyuluh Mabes TNI turun langsung ke masyarakat dengan memberikan penyuluhan di Kelurahan Sepinggan, Kecamatan Balikpapan Selatan.

Untuk menuju ke lokasi tersebut, dari pusat kota memerlukan waktu tempuh sekira 23 menit berkendara dengan kondisi lalu lintas normal.

‎Salah satu anggota Tim Penyuluh, Kolonel Laut (P) Topan Agung Yuwono, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman karhutla.

‎Menurutnya, pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan kebakaran.

‎"Yang paling utama adalah bagaimana kita memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa karhutla ini bisa dicegah. Jangan sampai masyarakat membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, karena api yang awalnya kecil bisa dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan," kavegetasi kepada kaltim.co, Selasa (1/9/2026). 

‎Ia menuturkan, edukasi kepada masyarakat menjadi penting karena warga merupakan pihak yang paling dekat dengan lingkungan dan dapat menjadi bagian pertama dalam mendeteksi munculnya potensi kebakaran.

‎"Kalau masyarakat melihat ada asap atau titik api, segera laporkan kepada aparat terdekat. Jangan menunggu api membesar. Semakin cepat diketahui dan ditangani, semakin besar peluang kebakaran bisa kita cegah agar tidak meluas," ujar perwira menengah TNI Angkatan Laut yang pernah menjabat sebagai Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Balikpapan itu.

Topan juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan, terutama di tengah kondisi cuaca yang relatif panas dan kering yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran lahan.

Alumni SMA Taruna Nusantara menegaskan, penanganan karhutla membutuhkan sinergi antara TNI, pemerintah daerah, aparat terkait dan masyarakat.

‎"Ini bukan hanya pekerjaan TNI atau aparat saja. Masyarakat mempunyai peran yang sangat penting. Kalau semua peduli dan saling mengingatkan, potensi terjadinya karhutla dapat kita tekan," katanya.

‎Dalam kegiatan penyuluhan tersebut, warga juga diberikan pemahaman mengenai berbagai dampak yang dapat ditimbulkan akibat karhutla, mulai dari gangguan kesehatan akibat asap, kerusakan lingkungan hingga terganggunya aktivitas masyarakat.

‎Tim Penyuluh Mabes TNI yang diterjunkan ke Balikpapan terdiri dari Kolonel Inf Akhmad Juni Toa, Kolonel Inf Ary Sutrisno, Kolonel Laut (P) Topan Agung Yuwono, dan Kolonel Pnb Dodik Supriyanto.

‎Melalui kegiatan tersebut, TNI berharap kesadaran masyarakat dalam mencegah karhutla semakin meningkat.

Diketahui, hingga akhir Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan mencatat total 37 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan akumulasi area semak belukar yang terdampak mencapai 16,3 hektare. 

Sebab itu, sosialisasi dan penyuluhan juga akan terus dilakukan kepada berbagai lapisan masyarakat sebagai langkah antisipasi agar kebakaran hutan dan lahan tidak kembali terjadi.

‎Upaya pencegahan sejak dini dinilai menjadi langkah penting, mengingat penanganan kebakaran akan jauh lebih sulit apabila api telah meluas dan memasuki kawasan permukiman maupun wilayah vegetasi. (*)