Perjuangan Dalang Ki Cahyo Kuntadi, Lestarikan Seni Jawa dengan Konsistensi -->

Perjuangan Dalang Ki Cahyo Kuntadi, Lestarikan Seni Jawa dengan Konsistensi

1 Feb 2026, Minggu, Februari 01, 2026
Ringkasan Berita:
  • Pemanggul wayang kulit Ki Cahyo Kuntadi terus berupaya menjaga kelestarian seni tradisional Jawa.
  • Ia tetap mempertahankan wayang kulit di tengah perkembangan modern.
  • Usahanya dilakukan agar seni tradisional tetap ada dan diketahui oleh kalangan muda.

TRENDS.COM- Dalang wayang kulit Ki Cahyo Kuntadi tetap menunjukkan dedikasinya dalam melestarikan seni tradisional Jawa. - Ki Cahyo Kuntadi, dalang wayang kulit, terus mempertahankan komitmennya untuk menjaga kelangsungan seni tradisional Jawa. - Komitmen Ki Cahyo Kuntadi sebagai dalang wayang kulit dalam menjaga keberlanjutan seni tradisional Jawa terus terlihat.

Di tengah derasnya arus perkembangan modern, ia tetap setia menjaga keberadaan wayang kulit agar tidak terkikis oleh waktu dan tetap dikenal oleh kalangan muda.

Bagi Cahyo, seni pedang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga panduan hidup yang penuh dengan nilai etika dan filsafat.

Oleh karena itu, sampai saat ini dia terus berupaya menjaga tradisi wayang sambil menyesuaikannya dengan perkembangan jaman.

Kebiasaan Cahyo Kuntadi terhadap dunia pertanian berkembang sejak usia muda.

Lingkungan keluarga menjadi faktor utama yang memengaruhi ketertarikannya, mengingat ayahnya, Ki Sukron Suwondo, dan kakeknya juga sama-sama bekerja sebagai dalang.

Sejak kecil hingga menjadi dewasa, kehidupan Cahyo selalu terkait dengan dunia wayang.

"Karakter seseorang dibentuk oleh lingkungan. Ayah saya adalah dalang, kakek saya juga dalang. Sejak lahir hingga dewasa, dunia saya adalah dunia wayang," kata pria yang juga menjabat sebagai Dosen Program Studi Pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, saat diwawancarai news di Sanggar Madhangkara, Kamis (8/1/2026).

Ia menegaskan bahwa pilihannya menjadi dalang bukan karena dorongan atau paksaan dari orang tua, melainkan tumbuh dari kecintaan yang berawal sebagai hobi.

Pada masa kecilnya, ketika belum ada gawai maupun permainan digital, hiburan yang akrab dengannya hanyalah televisi.

Tayangan wayang di TVRI menjadi tontonan favorit sekaligus sarana belajar yang membentuk minatnya terhadap seni pedalangan.

Dari kegemaran tersebut, Cahyo belajar dengan penuh kesenangan. Pria kelahiran Blitar, Jawa Timur ini meyakini bahwa sesuatu yang dipelajari dengan rasa cinta akan lebih mudah dijalani dibandingkan jika dilakukan karena keterpaksaan.

Menurut Cahyo, wayang merupakan bentuk seni yang sangat utuh karena memadukan berbagai cabang seni, mulai dari sastra, rupa, tari, musik, hingga drama.

Kombinasi inilah yang membuat pertunjukan wayang penuh makna dan memiliki nilai yang tinggi.

Namun, ia mengakui bahwa memasuki dunia olahraga atletik bukanlah hal yang mudah.

Ilmu pertanian dianggap sangat luas dan rumit, sehingga memerlukan kesabaran, ketelitian, serta tekad kuat dalam proses pembelajarannya.

Tidak semua individu mampu bertahan karena terdapat berbagai hal yang perlu dikuasai, mulai dari teknik dalang hingga pemahaman akan cerita dan filosofi wayang.

"Ilmu dalang memang kompleks dan luar biasa. Tidak semua orang mampu menjadi dalang karena materi yang dipelajari sangat banyak," katanya saat diwawancarai di sanggar seni miliknya, Madhangkara, yang terletak di Desa Sawahan, Kelurahan Jaten, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Pengetahuan (seni pertunjukan) tidak pernah habis, semakin kita kejar, semakin jauh jaraknya, semakin kita naik seperti gunung yang semakin tinggi, semakin kita terjun dalam. Maka tidak pernah habis.

Saat kita terus-menerus belajar, maka semakin bertambah rasa penasaran.

Karena memang sangat luas sekali," tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa perjalanan seorang dalang melalui berbagai tahapan penting, mulai dari masa 'payu' atau diterima oleh masyarakat, kemudian 'laris', hingga tahap paling sulit, yaitu mempertahankan kelangsungan hidupnya.

"Setelah payu, tantangannya laris. Namun yang paling berat adalah menjaga keberadaan," tambahnya.

Menurut Cahyo, dalang yang sudah terkenal tidak boleh terburu-buru merasa puas.

Berbeda dengan warisan sejarah seperti candi yang perlu dipertahankan keasliannya, wayang justru perlu terus mengalami perkembangan agar tetap diminati oleh penonton.

“Kita tidak boleh hanya merasa puas, tetapi juga harus terus belajar, mendengarkan, mengamati, dan memahami situasi yang sedang berlangsung, meskipun wayang adalah seni tradisional, namun selalu berkembang. Hal ini yang menjadikan wayang tetap hidup,” kata Cahyo.

Berdasarkan pengamatannya, antusiasme kalangan muda terhadap seni wayang pada masa kini menunjukkan dua sisi.

Di satu sisi, masih terdapat pemuda yang peduli dan tertarik pada dunia kesenian, baik melalui komunitas penggemar wayang maupun jalur akademis seperti penelitian dan studi budaya.

"Di kalangan pelajar, banyak mahasiswa yang melakukan penelitian dan menulis skripsi atau tesis mengenai wayang. Itu merupakan hal yang menyenangkan," kata Cahyo.

Namun di sisi lain, banyak pemuda yang mulai menjauhi pertunjukan wayang akibat kesulitan dalam memahami bahasa, durasi pertunjukan yang terlalu lama, serta kurangnya pemahaman terhadap tokoh dan alur cerita.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Cahyo melakukan berbagai inovasi agar wayang lebih mudah dipahami oleh kalangan muda.

Salah satunya adalah dengan memakai bahasa Indonesia dalam pertunjukan tertentu, terutama ketika tampil di luar Jawa atau di depan penonton umum.

Ia sering memberikan ringkasan cerita di awal pertunjukan agar alur lakon lebih mudah dipahami.

Selain itu, suami dari penyanyi terkenal Sukesi Rahayu juga memanfaatkan teknologi digital dengan menyelenggarakan pertunjukan wayang secara live streaming di berbagai situs, seperti YouTube dan TikTok.

"Jangan sampai kita terkikis oleh perubahan jaman, tetapi bagaimana kita mampu memanfaatkan media sebagai alat promosi bagi seni kita," tegas Cahyo.

Meskipun bersikap terbuka terhadap perubahan, ia menekankan bahwa setiap perbaikan tetap harus berlandaskan prinsip dan nilai etika yang berlaku.

"Aturan pakem bertujuan agar kita tidak melampaui batas. Selama pesan moral dapat disampaikan dan tidak bertentangan dengan etika serta agama, inovasi tetap diperbolehkan," katanya.

(Trends.com/news.com)

Jangan lewatkan berita-berita menarik lainnya dari Trends.com yang tersedia di Google News, Threads, dan Facebook.

TerPopuler