Kisah Dr Imam Syafii, dari Tukang Bersih ke Pemilik 4 Akademi Sepak Bola -->

Kisah Dr Imam Syafii, dari Tukang Bersih ke Pemilik 4 Akademi Sepak Bola

26 Jan 2026, Senin, Januari 26, 2026

BANGKALAN, Bengkalispos.com- Nama Guru Imam Syafii cukup dikenal di kalangan pemain sepak bola muda.

Dengan tangan dinginnya, ia mampu mengantarkan 11 muridnya menjadi pemain tim nasional (timnas).

Lahir pada 24 Januari 1966, pria ini besar di Desa Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Sejak kecil, ia senang bermain sepak bola di lingkungan kampungnya.

Saat masih bersekolah, ia menghabiskan masa di Bangkalan. Ia bersekolah di SDN Jaddih 1, kemudian melanjutkan ke SMPN 2 Bangkalan dan melanjutkan pendidikannya di SMAN 2 Bangkalan.

"Pada masa SMP dan SMA, saya sering berjalan kaki ke sekolah dari rumah ke kota. Jadi saya menyimpan seragam sekolah saya kepada teman, agar tidak basah terkena keringat," kenangnya.

Cuaca yang panas saat pulang sekolah membuatnya merasa lelah untuk berjalan kaki. Ia memutuskan naik 'gandol' truk gamping yang melintas menuju arah rumahnya.

"Ya, pulangnya naik truk. Jadi semua baju putihnya kena debu dari batu gamping itu," katanya.

Setelah menyelesaikan SMA, Prof Imam berani meminta kepada orang tuanya untuk melanjutkan studi. Ayahnya yang bekerja sebagai tukang ledeng pada masa itu hanya mampu membantunya mendaftar kuliah.

"Saya menempuh pendidikan di IKIP Surabaya dengan mengambil jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga. Pada masa itu, orang tua hanya mampu membiayai saya untuk mendaftar kuliah saja," katanya.

Perjalanan yang berat dimulai olehnya. Agar bisa terus bertahan di kampusnya, ia belajar dengan tekun dan memperoleh beasiswa Supersemar. Namun, untuk kebutuhan hidupnya di Kota Surabaya, ia harus bekerja.

Salah satu pekerjaan yang ia lakukan adalah menjadi tukang kebersihan di Pasar Genteng, Surabaya. Dari sana ia mampu memperoleh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Alhamdulillah, pada saat itu saya bertemu dengan kepala pasar yang sangat baik. Jadi saya juga diberi tempat tinggal di sana asalkan bersedia membersihkan lingkungannya," katanya.

Ketekuhannya dalam terus belajar dan menyelesaikan studinya tidak tanpa alasan. Prof Imam juga berkeinginan memastikan delapan adiknya dapat memperoleh pendidikan yang sama.

"Jika saat itu saya mampu menyelesaikan pendidikan hingga tingkat S1, maka saya harus membantu kedelapan adik saya agar semua bisa menjadi sarjana," katanya.

Anak pertama dari pasangan Abd Fattah dan Sumiati tidak hanya berfokus pada belajar dan bekerja.

Rasa cintanya terhadap dunia sepak bola terus berkembang hingga ia mengikuti pertandingan internal Persebaya.

Ia pernah juga melakukan magang di kantor Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Jatim. Setelah menyelesaikan pendidikan S1, pada usia 24 tahun ia ditunjuk menjadi Ketua IV PSSI Jatim.

Karier di bidang sepak bola mulai berkembang dan meningkat. Ia bergabung dengan berbagai organisasi sepak bola serta menjabat posisi penting.

Ia juga terlibat dalam kepengurusan PSSI pusat dari tahun 2005 hingga 2009 selama kepemimpinan Nurdin Halid.

"Saya memutuskan untuk terjun dalam pelatihan anak usia dini setelah merasa bosan karena terlalu lama berada di organisasi. Karena selama ini, ilmu yang saya miliki tidak terpakai," katanya.

Ketekunan dalam melatih pemain sepak bola muda mendapat perhatian dari Real Madrid Foundation di Spanyol. Ia kemudian ditunjuk sebagai Person in Charge (PIC) Real Madrid Foundation di Sidoarjo.

"Saya tinggal di sana selama 5 tahun. Saya tidak memperpanjang kontrak tersebut. Setelah itu, saya mengganti nama organisasi itu menjadi Indonesia Soccer Academy dan berhasil melahirkan pemain nasional serta internasional, termasuk Marselino Ferdinan," katanya.

Karier di bidang pelatihan sepak bola semakin menanjak. Bahkan, dalam jangka 10 tahun, ia mampu menghasilkan 11 pemain yang masuk ke dalam tim nasional.

"Dimulai dari Imam Faudji hingga Hugo Samir. Selain itu juga terdapat Marcelino Ferdinand, Brylian Aldama, Marcel Januar Putra, Arsa Ramadhan Ahmad, Januarius Toa Meka, Chrystna Bhagascara dan yang lainnya," katanya.

Prof Imam tidak hanya memperluas cakupan aktivitasnya di dunia pelatihan sepak bola. Ia juga melanjutkan studinya di Universitas Airlangga Surabaya dalam Program Magister Kesehatan Masyarakat.

Kemudian ia juga menyelesaikan Program Doktoral di Universitas Negeri Surabaya.

Ketekunannya juga menjadikannya sebagai akademisi di Universitas Negeri Surabaya. Ia pernah ditugaskan sebagai dekan di IKIP Mataram selama empat tahun.

"Di sana pula saya mendirikan Mataram Soccer Academy yang menjadi awal mula bangkitnya sepak bola NTB," tambahnya.

Setelah berhasil mendirikan di NTB, ia melanjutkan dengan membuka Bangkalan Soccer Academy (BSA), kemudian Surabaya Soccer Academy serta Probolinggo Football Academy.

Kepasifannya dalam pelatihan sepak bola untuk anak-anak membawanya pada pencapaian gelar guru besar. Ia kini menjabat sebagai Guru Besar di bidang Pelatihan Sepak Bola Usia Dini di Unesa.

Banyak orang bertanya, mengapa saya yang sudah menjadi profesor masih ingin mengajar anak-anak bermain bola, karena memang dari sana. Jadi saya tidak akan meninggalkannya," katanya.

Bahkan selama masa pandemi Covid-19, ia tetap memberikan pelatihan kepada murid-muridnya menggunakan metode panggilan video dari rumah masing-masing. Tindakan ini dilakukannya agar aktivitas para siswanya tidak terhenti.

"Staf pelatih juga tidak saya PHK pada saat itu. Jadi saya harus tetap kreatif dalam berpikir agar mereka semua tetap produktif," tambahnya.

Dengan kesabaran dan dedikasinya dalam melatih sepak bola, ia sering kali pergi ke luar negeri untuk mendampingi murid-muridnya bertanding mulai dari tingkat ASEAN hingga Amerika.

Tidak hanya membawa murid-muridnya bertanding di luar negeri, ia juga menerima undangan untuk mengikuti pelatihan kepelatihan di Bangkok dan Chiang Mai.

"Mereka melihat sikap anak-anak kami, seperti Marselino Ferdinan dan yang lainnya. Mereka menilai sikap anak-anak ini baik, akhirnya saya diundang ke sana," katanya.

Ia juga mengusung adanya sikap berjabat tangan antar dua tim di lapangan. Akhirnya, hal tersebut tetap diterapkan hingga kini.

Pada usia 60 tahun, ia tetap berkomitmen untuk terus menyebarkan ilmu pengetahuannya kepada ratusan siswa di empat akademi sepak bola yang dimilikinya serta menjadi dosen utama di Unesa.

"Masih 10 tahun lagi di Unesa," tutupnya.

TerPopuler