Tantangan Ketua BEM UGM untuk Prabowo, jika Presiden ingin mendengar -->

Tantangan Ketua BEM UGM untuk Prabowo, jika Presiden ingin mendengar

23 Feb 2026, Senin, Februari 23, 2026
Ringkasan Berita:Presiden Prabowo DItantang Debat  
  • Ketua BEM Universitas Gadjah Mada Tiyo Ardianto mengajak Presiden Prabowo Subianto berdebat terbuka
  • Tiyo menegaskan bahwa dirinya lebih suka berkomunikasi langsung dengan Presiden Prabowo tanpa melalui perantara.
  • Tiyo bertanya sampai kapan presiden akan terus mengandalkan orang-orang di sekitarnya tanpa melakukan pemeriksaan langsung
  • Argumen bahwa Indonesia dalam keadaan baik-baik saja, menurut Toyo, harus diuji melalui kondisi nyata di lapangan.
 

-MEDAN.com - Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, yang sempat viral karena menyampaikan kritik terhadap pemerintah, kini mengajak Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan debat.

Diketahui sebelumnya, Tiyo Ardianto pernah mendapat ancaman penculikan setelah mengkritik MBG (Makan Bergizi Gratis).

MBG disebut sebagai tempat terjadinya korupsi.

Tidak hanya Tiyo, ibunya juga pernah mendapatkan ancaman pemaksaan.

Mengenai kritiknya, Tiyo menyampaikan bahwa selama ini presiden terlalu percaya diri dengan data dan kebijakan yang disampaikan tanpa memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memverifikasi pernyataan-pernyataan tersebut.

Melalui program podcast di berbagai saluran (dua di antaranya adalah @forumkeadilanTV, dan @abrahamsamadspeakup), kritik tersebut sebenarnya disampaikan dalam kerangka fungsi kontrol sosial mahasiswa.

Seperti yang dilaporkan Kompas.com (19/2), Tiyo akhirnya menjadi korban intimidasi digital yang semakin meluas.

Ia mendapatkan pesan ancaman, tuduhan yang tidak jujur, serta serangan terhadap reputasinya.

Ibunya dilaporkan mendapatkan pesan yang mengancam dan menimbulkan rasa takut.

 

Sekarang, Tiyo Ardianto kembali menyampaikan pendapat kritisnya mengenai situasi sosial yang dianggap belum sepenuhnya terlihat dalam laporan resmi pemerintah.

Kali ini, pesan tersebut dia sampaikan secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

Pernyataan itu diungkapkan dalam sebuah percakapan di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, sebuah wadah diskusi yang membahas topik-topik nasional secara terbuka.

Ogah Pertemuan Tertutup

Pada kesempatan tersebut, Tiyo menegaskan bahwa dirinya lebih suka berkomunikasi langsung dengan presiden tanpa melalui perantara.

Ia berpendapat bahwa tidak semua orang yang berada dalam lingkaran kekuasaan bisa diandalkan untuk menyampaikan fakta di lapangan secara lengkap.

Menurutnya, terdapat perbedaan antara laporan administratif dengan pengalaman masyarakat sebenarnya.

Oleh karena itu, ia mengatakan tidak tertarik menghadiri pertemuan rahasia dengan pemimpin negara.

Jika Bapak Presiden Ingin Mendengar . . .

Sebaliknya, Tiyo mengajak agar dialog dilakukan secara terbuka di kampus UGM.

Ia berharap mahasiswa diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan berdebat secara langsung dengan presiden mengenai data serta kebijakan yang diyakini oleh pemerintah.

Jika Bapak Presiden ingin mendengarkan suara kami, silakan datang ke UGM. Kami siapkan ruang terbuka untuk berdiskusi dengan mahasiswa.

Silakan sampaikan apa saja yang Bapak yakini mengenai data Bapak, maka para mahasiswa akan membantahnya," tegasnya.

Bagi dia, forum terbuka lebih menggambarkan kejelasan dan memberikan peluang bagi masyarakat khususnya mahasiswa untuk memverifikasi pernyataan serta narasi yang beredar.

Harus Dicoba Indonesia dalam Kondisi Sempurna

Tiyo juga menyoroti pendekatan pengambilan keputusan yang dianggap terlalu mengandalkan data dan laporan administratif.

Ia menekankan bahwa keadaan masyarakat tidak dapat disederhanakan hanya menjadi angka-angka statistik.

Menurut pandangannya, realitas sosial perlu diamati secara langsung dengan bertemu masyarakat, bukan hanya melalui laporan tertulis yang telah diolah dan disusun.

Argumen bahwa Indonesia dalam keadaan baik-baik saja, menurutnya, harus diuji melalui kondisi nyata di lapangan.

Tiyo: Sampai Kapan Ayah Dipermainkan

Pesan utama yang ingin ia sampaikan adalah pertanyaan mendalam kepada Presiden Prabowo mengenai seberapa jauh informasi yang diterima benar-benar mencerminkan kenyataan.

Tiyo bertanya sampai kapan presiden akan terus mengandalkan orang-orang di sekitarnya tanpa secara langsung memastikan kondisi rakyat.

"Maka sesungguhnya, Ayah akan terus ditipu oleh orang-orang Ayah sampai kapan?" ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan sikap bahwa dialog yang terbuka dan pengujian data secara langsung merupakan bagian dari usaha untuk mempertahankan ruang demokrasi tetap berfungsi.

Permintaan Maaf atas Ketidaknyamanan

Pada kesempatan itu, ia secara terang-terangan menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang timbul akibat pernyataannya, sambil menjelaskan latar belakang kritik yang dimaksudkannya.

Pernyataan yang paling menarik perhatian publik adalah saat Tiyo menyebut presiden dengan kata "bodoh".

Ia mengakui bahwa pemilihan kata-kata tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan kecemasan di kalangan sebagian masyarakat.

"Presiden kami, jika saya mengungkapkannya dengan bahasa yang jelas, adalah orang yang tidak cerdas. Mungkin ada beberapa orang yang merasa tidak nyaman dengan ucapan ini, dan ya, saya meminta maaf atas ketidaknyamanan itu," katanya.

Permintaan maaf disampaikan bukan untuk menghilangkan kritik, tetapi sebagai wujud tanggung jawab terhadap dampak kata-kata yang digunakan dalam ruang umum.

Bukan Serangan Personal

Meskipun meminta maaf, Tiyo menegaskan bahwa kata "bodoh" bukan dimaksudkan sebagai serangan pribadi.

Ia menjelaskan bahwa istilah tersebut merupakan bentuk pengkritikan terhadap apa yang menurutnya merupakan kegagalan dalam pengelolaan kebijakan negara.

"Ketidaktahuan yang dimaksud di sini adalah ketidakmampuan yang tersembunyi," jelas Tiyo.

Menurutnya, kritik tersebut muncul dari kecemasan yang mendalam mengenai arah kebijakan yang dinilai tidak menyentuh isu paling pokok dalam masyarakat.

Kritik terhadap Program MBG Berubah Menjadi Tempat Korupsi

Tiyo menegaskan kembali pengritikan BEM UGM terhadap program MBG.

“Ketika isu nasional kita adalah ketidaktahuan dan akses pendidikan yang terbatas, justru solusinya dikurangi menjadi MBG (Makan Bergizi Gratis) yang sebenarnya tidak bernutrisi dan juga tidak gratis. Bahkan justru menjadi tempat korupsi yang sangat parah, sehingga lebih pantas disebut sebagai 'pencuri dengan topeng gizi'," kritiknya.

Ia juga menyoroti perbedaan anggaran.

“Seorang anak di Ngada, NTT, yang memutuskan untuk bunuh diri hanya karena gagal membeli pena dan buku seharga Rp 10.000. Luar biasa kontras dan tragis saya kira, ketika kekuasaan hari ini menggelontorkan luar biasa banyak uang untuk MBG, Rp 1,2 triliun setiap hari atau Rp 335 triliun setiap tahun, sambil merampas anggaran pendidikan Rp 223 triliun,” ujarnya.

Terkait polemik diksi “Presiden Bodoh”, ia pun angkat bicara.

"Pasti, ketika kita membicarakan presiden, ini bukan tentang seseorang secara pribadi, melainkan tentang infrastruktur kekuasaan. Oleh karena itu, ketika kami menyebut 'presiden bodoh', tentu bukan berbicara tentang tingkat kecerdasan seseorang bernama Prabowo Subianto, atau fungsi kognitif Prabowo Subianto yang umumnya sudah sangat tua. Tidak. Kami fokus pada adanya infrastruktur kekuasaan yang tidak kompeten, infrastruktur kekuasaan yang tidak menghargai ilmu pengetahuan. Itulah yang ingin kami sampaikan melalui istilah 'presiden bodoh'," jelasnya.

Tiyo juga menyebutkan tanggapan pemerintah, khususnya Menteri HAM Natalius Pigai.

"Maaf, Mas/Pak Natalius Pigai, saya tidak perlu tahu siapa pelaku teror. Yang dibutuhkan masyarakat adalah jaminan bahwa negara hadir saat menghadapi ancaman teror. Negara tidak boleh menjadi teror itu sendiri. Tidak boleh seperti orang yang berusaha membantah bahwa mereka tidak melakukan teror. Justru yang terjadi adalah rasa was-was dari rezim, seolah-olah kita mengira mereka yang melakukan hal itu," tegasnya.

Ia menyelesaikan dengan sikap keras.

Saya menyadari bahwa hingga saat ini, negara, melalui seluruh lembaganya, tidak hadir dalam teror yang dialami tidak hanya saya, tetapi juga orang tua serta lebih dari 20 pengurus BEM UGM. Serangkaian ancaman yang kami alami ini bagi kami merupakan wujud dari ketakutan rezim saat ini.

Namun, ia memastikan langkah mereka tidak akan mundur.

"Secara prinsip, saya menyampaikan kepada publik bahwa BEM UGM akan mengatasi teror ini dengan cara yang tidak takut, tidak mundur, dan tetap memperhatikan isu publik sebagai sesuatu yang selalu harus diawasi. Oleh karena itu, ke depannya, tidak akan ada perbedaan dari BEM UGM, siapa pun ketuanya nanti. Bahwa kemudian muncul rasa solidaritas yang lebih dan kewaspadaan yang lebih tinggi, itulah cara kami belajar. Namun jangan berpikir bahwa karena teror ini kami akan berhenti," tutupnya.

Profil Tiyo Ardianto

Tyo Ardianto merupakan mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada yang masuk pada tahun 2021.

Ia menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) pada tahun 2025.

Tiyo lahir dan tinggal di Kudus, Jawa Tengah.

Ia bukan lulusan sekolah menengah negeri maupun swasta biasa, melainkan lulusan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah di Kudus sebelum melanjutkan pendidikannya ke UGM.

Selama memimpin BEM UGM, Tiyo Ardianto terkenal sebagai tokoh yang mandiri.

Dia sering terlibat dalam berbagai aktivitas mahasiswa.

Ia terkenal dengan sikap kritis terhadap kekuasaan dan politik yang bersifat praktis.

Oleh karena itu, Tiyo Ardianto terpilih menjadi Ketua BEM UGM.

Di Musyawarah Nasional XVIII Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan yang berlangsung di Padang, Tiyo Ardianto mengambil tindakan keras.

Ketua BEM UGM mengambil keputusan untuk mundur dari BEM SI.

Alasannya, karena dia kecewa melihat Musyawarah Nasional yang justru dihadiri oleh pejabat politik dan negara.

Tiyo mengkritik hubungan BEM SI dengan pihak berkuasa yang dianggap tidak sesuai dengan nilai perjuangan mahasiswa yang seharusnya berada di luar pengaruh kekuasaan.

Dalam pernyataannya, Tiyo menekankan bahwa BEM KM UGM tetap berkomitmen pada gerakan rakyat tanpa campur tangan dari siapa pun dan menjaga kemandirian tanpa terlibat dalam struktur yang memiliki kepentingan politik.

Ia juga mengecam keributan yang terjadi dalam musyawarah nasional tersebut.

Termasuk kejadian bentrokan yang menyebabkan beberapa mahasiswa mengalami luka, serta menegaskan bahwa tidak ada posisi yang pantas diperebutkan dengan cara kekerasan yang merusak persatuan gerakan.

Tiyo giat dalam memperkuat komunikasi antar kampus dan berkomitmen agar pergerakan mahasiswa semakin menyatu dengan rakyat secara mandiri, tanpa adanya arahan yang berisiko mengkooptasi atau menghilangkan kemandirian pergerakan.

 

(*/-Medan.com)

Sumber: kompas.com/ trends.com

Baca berita MEDAN lainnya di Google News

Ikuti pula informasi lainnya melalui Facebook, Instagram, Twitter, dan Channel WA

Berita terkini yang menyebar di Medan

TerPopuler