
Bengkalispos.com- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam terkait meningkatnya kasus keracunan makanan pada anak sekolah dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai wilayah.
Program MBG pada dasarnya memiliki tujuan mulia dalam meningkatkan gizi dan kesehatan anak Indonesia, namun kejadian keracunan ini terus terulang yang justru menimbulkan ancaman berbahaya bagi keselamatan anak-anak.
Bahkan, terdapat balita dan perempuan hamil yang juga mengalami dampaknya, sehingga kelompok yang rentan ini sebaiknya turut menjadi prioritas utama.
Dalam surat terbuka kepada Badan Gizi Nasional, IDAI menyatakan bahwa:
1. Keselamatan anak dan kelompok yang rentan menjadi fokus utama. Anak-anak, bayi, serta ibu hamil termasuk dalam kelompok rentan yang perlu dijaga dari bahaya keracunan makanan.
2. Keselamatan pangan perlu menjadi prioritas utama. Proses pengadaan, pengolahan, penyimpanan, hingga pendistribusian makanan harus mematuhi standar keamanan pangan (food safety) guna menghindari terjadinya kontaminasi.
3. Kualitas gizi dan keseimbangan makanan harus dipastikan. Menu MBG sebaiknya dibuat oleh ahli gizi anak dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi yang diperlukan untuk mendukung perkembangan optimal anak.
4. Pengawasan perlu diperkuat. Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beserta seluruh komponennya harus memiliki sertifikasi dan secara terus-menerus diawasi serta dievaluasi oleh Badan Gizi Nasional.
5. Prosedur penanggulangan dan mekanisme pengaduan kasus keracunan harus tersedia dalam program MBG. Perlu disusun prosedur penanggulangan keracunan yang melibatkan pemerintah, sekolah, dokter spesialis anak, petugas kesehatan, serta masyarakat. Penguatan sistem pengaduan masyarakat sangat penting untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada.
Di sisi lain, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subs Kardio(K) menyatakan bahwa satu anak yang keracunan saja sudah menjadi masalah, apalagi jika kejadian ini terjadi pada ribuan anak di Indonesia. Diperlukan peninjauan menyeluruh terhadap program tersebut dan memastikan bahwa program yang sedang berjalan tepat sasaran, khususnya di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) di Indonesia.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, DR Dr Hikari AMbara Sjakti, SpA, SubsHemaOnk(K), menyampaikan bahwa IDAI siap bekerja sama dan berkolaborasi dengan pemerintah, sekolah, serta masyarakat guna memastikan program MBG benar-benar memberikan manfaat kesehatan, gizi, dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia.