
Akun Instagram @cia_curl membagikan momen seorang anak yang sedang belajar mengendarai skateboard. Meski sering jatuh berulang kali, semangatnya tidak pernah pudar. Ia terus bangkit dan berusaha kembali.
Empat minggu penuh usaha dan latihan tanpa henti akhirnya membuahkan hasil. Saat yang sangat membanggakan tiba ketika ia berhasil mendarat dengan sempurna di atas papan skateboard. Ya Moms, ini merupakan sebuah pencapaian, buah dari ketekunan dan semangatnya.
Komentar Psikolog Mengenai Semangat Tidak Menyerah pada Anak
Ibu-ibu, cerita ini tidak hanya mengisahkan keberhasilan dalam menguasai skateboard, tetapi juga tentang nilai penting yang harus dimiliki setiap anak, yaitu semangat pantang menyerah.
Menurut psikolog klinis anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, sikap pantang menyerah tidak muncul secara alami. Sikap ini terbentuk melalui pengalaman sehari-hari yang dialami anak bersama lingkungannya serta peran penting orang tua dalam mengajarkan nilai tersebut sedini mungkin.
"Sikap pantang menyerah tidak muncul secara alami, melainkan dibentuk melalui pengalaman sehari-hari anak bersama lingkungannya," kata Vera kepada Bengkalispos.comMOM, Selasa (16/9).

Cara Orang Tua Membentuk Kepribadian Kuat pada Anak
1. Memberikan Contoh yang Konsisten
Anak mempelajari banyak hal, khususnya dengan meniru tindakan orang di sekitarnya, terutama orang tua. Ketika orang tua menunjukkan komitmen yang tetap dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, anak akan melihat dan meniru perilaku tersebut. Oleh karena itu, menjadi contoh yang baik sangat penting dalam membentuk mental anak yang kuat.
2. Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil Akhir
Selain itu, Vera juga menekankan pentingnya memperhatikan upaya yang dilakukan oleh anak, bukan hanya hasil akhirnya. Kalimat sederhana seperti, “Ibu bangga melihat kamu rajin berlatih,” bisa menjadi dorongan besar bagi anak untuk terus berusaha dan tidak mudah menyerah.

3. Membantu Anak Menghadapi Tantangan Secara Mandiri
Banyak orang tua ingin segera membantu ketika anak mengalami kesulitan. Namun, memberi anak kesempatan untuk mencoba menyelesaikan masalah sendiri dengan bantuan yang cukup justru dapat sangat menguntungkan.
"Dengan demikian, anak memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari proses pembelajaran dan belajar untuk mengandalkan diri sendiri," katanya.
4. Mengajarkan Manajemen Emosi
Ketika menghadapi kegagalan atau kesulitan, anak mungkin merasa marah atau sedih. Mengajarkan cara sederhana untuk menenangkan diri, seperti menghirup napas dalam atau berhenti sejenak, sangat penting agar anak tidak mudah menyerah akibat emosi negatif yang muncul. Benar, Ibu, pengelolaan emosi merupakan keterampilan yang perlu dilatih sejak dini.

Hal yang tidak kalah penting adalah orang tua perlu memberikan kesempatan sukses kepada anak, sehingga anak lebih percaya diri.
"Setiap keberhasilan akan meningkatkan rasa percaya diri anak, membuatnya merasa mampu menghadapi tantangan berikutnya," tegas Vera.