
Aku teringat saat dulu ikut dalam proses pemilihan reporter baru, ada satu pertanyaan yang selalu kusampaikan kepada calon peserta, yaitu "Apakah suka membaca buku?" dan "Buku apa yang kamu sukai?". Bagi sebagian orang, pertanyaan ini mungkin terdengar biasa saja, bahkan tidak penting. Namun bagiku, itu justru pertanyaan paling esensial untuk menilai kemampuan seseorang. Pengalaman sebagai wartawan mengajarkanku bahwa orang yang senang membaca buku biasanya memiliki kemampuan berbicara dan menulis yang lebih baik. Kosakata mereka lebih beragam, wawasan mereka lebih luas, serta argumen yang mereka susun lebih kuat.
Itulah sebabnya membaca buku bagi saya bukan hanya hobi atau cara mengisi waktu senggang, tetapi dasar untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kemudian muncul pertanyaan ini secara alami, "jika membaca buku dapat membuat seseorang biasa memiliki wawasan yang luas, seberapa dekat pejabat kita dengan buku?"
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar seperti pertanyaan retoris, namun menjadi penting ketika kita melihat kehidupan sehari-hari para pejabat kita. Di media sosial, kita sering melihat pameran kemewahan, mulai dari jam tangan mahal, mobil mewah, hingga gaya hidup yang berlebihan. Namun coba kita perhatikan, seberapa sering mereka menunjukkan buku? Hampir tidak pernah. Ironisnya, karena gagasan besar yang dibutuhkan untuk memimpin bangsa justru lahir dari bacaan. Dari buku-buku sejarah, kita bisa belajar tentang kejayaan dan kejatuhan peradaban. Dari buku filsafat, kita belajar menimbang nilai moral dan etika. Dari buku ekonomi, kita memahami arah pembangunan. Dan dari buku sastra, kita dapat mengembangkan rasa empati terhadap sesama.
Namun, ketika para pejabat jauh dari buku, kebijakan yang mereka buat cenderung bersifat reaktif, dangkal, dan hanya berdampak sementara. Mereka lebih fokus pada memperbaiki masalah yang ada daripada merancang jalur panjang pembangunan. Padahal, bangsa sebesar Indonesia tidak dapat dijalankan hanya berdasarkan insting sesaat atau mengikuti arus politik semata. Dibutuhkan visi jangka panjang yang hanya bisa muncul dari pemikiran mendalam, dan pemikiran mendalam hanya mungkin timbul dari kebiasaan membaca.
Melatih Kepemimpinan Melalui Membaca Buku Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kaitan membaca buku dengan kepemimpinan? Bukankah seorang pemimpin sejati harus berada di lapangan langsung, bukan hanya sekadar membaca? Pertanyaan ini wajar, namun mari kita pikirkan lebih dalam. Seorang pemimpin yang hanya mengandalkan pengalaman tanpa pengetahuan bisa terjebak dalam kesalahan yang sama berulang kali. Di sisi lain, pemimpin yang rutin membaca mampu menggabungkan pengalaman nyata dengan wawasan luas dari para tokoh hebat dunia.
Contoh Soekarno. Ia dikenal sebagai seorang pembicara hebat serta pemimpin dengan visi yang luas. Dari manakah ia memperoleh semuanya itu? Dari buku. Ia membaca secara mendalam karya-karya Karl Marx, Lenin hingga Thomas Jefferson. Ia juga menyerap pemikiran filsafat Islam dan Hindu. Dari penggabungan itulah muncul gagasan besar seperti Pancasila. Soekarno juga demikian. Ia dianggap sebagai seorang pecinta buku sejati, bahkan saat dibuang ke Digul ia tetap tekun membaca. Baginya, buku adalah teman sekaligus guru yang setia.
Bandingkan dengan beberapa pejabat kita saat ini. Banyak di antara mereka tampak bingung ketika diminta menjelaskan alasan di balik kebijakan yang diambil. Ada yang hanya mengucapkan kata-kata tanpa makna saat berbicara di depan umum, ada yang merespons dengan emosi daripada menggunakan logika. Ketika ditanya oleh wartawan, bukannya memberikan penjelasan yang masuk akal, malah menyampaikan kalimat singkat yang lebih mirip candaan. Semua itu menunjukkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan.
Jika membaca satu buku saja sulit, bagaimana mungkin mereka mampu mengelola kerumitan sebuah negara selama lima tahun masa jabatan? Apakah kebijakan yang dihasilkan benar-benar memihak rakyat, atau hanya sekadar tanggapan spontan terhadap tekanan situasi?
Kurangnya Kemampuan Literasi, Kebijakan Indonesia sendiri sering dikaitkan dengan tingkat literasi yang rendah. UNESCO pernah merilis data yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya sebesar 0,001 persen. Artinya, dari seribu orang, hanya satu orang yang benar-benar menyukai membaca. Jika masyarakat umum saja memiliki minat baca yang rendah, bagaimana dengan pejabat publik yang seharusnya menjadi contoh yang baik?
Kebijakan publik yang baik muncul dari pemikiran mendalam dan pengetahuan yang luas. Jika para pejabat tidak membaca, mereka kehilangan dasar penting dalam mengambil keputusan. Akibatnya, kebijakan sering kali bersifat sementara dan tidak memadai. Hari ini muncul aturan baru, esok sudah diubah lagi. Hari ini menyatakan A, besok berubah menjadi B. Masyarakat menjadi bingung karena kebijakan yang berubah-ubah tanpa arahan yang jelas.
Mari kita amati kejadian di lapangan. Pada saat terjadi krisis, sering kali pejabat kita hanya mengandalkan rapat mendadak, mendengarkan laporan singkat, lalu membuat keputusan secara terburu-buru. Bandingkan dengan negara-negara lain, di mana para pemimpinnya rutin membaca laporan, mempelajari dokumen-dokumen, bahkan memahami teori-teori mengenai krisis yang pernah terjadi sebelumnya. Mereka memiliki sumber referensi yang beragam, sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih matang.
Seorang pejabat yang tidak terbiasa membaca buku akan kekurangan kreativitas dalam merancang kebijakan. Mereka hanya berada dalam lingkaran sempit, tanpa mampu memikirkan opsi baru. Padahal, tugas seorang pemimpin adalah menciptakan jalur, bukan hanya mengikuti arus.
Selain memperluas wawasan, membaca buku juga mengembangkan rasa empati. Melalui buku, kita mampu memasuki kehidupan orang lain, merasakan penderitaan mereka, serta memahami perasaan mereka. Hal ini sangat penting bagi pejabat publik. Bagaimana mungkin mereka dapat menyusun kebijakan yang pro terhadap rakyat kecil jika tidak bisa merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat?
Sastra, contohnya, memberikan pelajaran penting mengenai empati. Membaca novel Pramoedya Ananta Toer membuat kita merasakan pahitnya perjuangan melawan penjajahan. Membaca kisah Tere Liye membuat kita ikut larut dalam konflik keluarga dan kehidupan sehari-hari. Semua hal tersebut melatih ketajaman hati.
Bayangkan seorang pejabat yang hanya sibuk menghadapi laporan birokrasi, tanpa pernah membaca karya sastra atau sejarah. Ia mungkin mengerti angka-angka tersebut, tetapi tidak merasakan penderitaan yang tersembunyi di baliknya. Ia mungkin berkata, "Kemiskinan turun dua persen," tanpa menyadari bahwa di balik angka itu terdapat jutaan keluarga yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan makan mereka.
Buku mengajarkan kita untuk memandang manusia sebagai manusia, bukan hanya sekadar angka. Hanya melalui empati, kebijakan dapat benar-benar menyentuh kehidupan rakyat.
Membaca sebagai Bentuk Rendah Hati Terdapat satu sifat penting yang sering terabaikan oleh para pejabat kita, yaitu kerendahan hati dalam terus belajar. Membaca buku merupakan pengakuan bahwa pengetahuan kita terbatas. Bahwa selalu ada orang lain yang lebih dulu berpikir, menulis, dan melakukan penelitian mengenai sesuatu. Dengan membaca, para pejabat bersedia menerima pandangan baru, bukan merasa dirinya paling benar.
Sayangnya, banyak tokoh kita justru terjebak dalam kesombongan. Mereka mengira dirinya cukup cerdas hanya karena menjabat posisi tertentu. Mereka lebih senang tampil di depan kamera daripada duduk tenang membaca buku. Padahal, sebuah bangsa yang besar tidak lahir dari pemimpin yang merasa paling tahu, tetapi dari pemimpin yang selalu bersedia belajar.
Kemurahan hati ini juga akan terlihat dari cara pejabat berkomunikasi. Pejabat yang rajin membaca biasanya memiliki pilihan kata yang lebih sopan, argumen yang lebih terstruktur, serta cara menyampaikan pendapat yang lebih tenang. Mereka tidak mudah terpancing emosi karena terbiasa mempertimbangkan pikiran orang lain melalui tulisan.
Pertanyaan terakhir yang sering muncul, buku apa saja yang sebaiknya dibaca oleh pejabat kita? Jawabannya beragam. Jika ingin mempelajari kepemimpinan, mereka dapat membaca Leaders Eat Last karya Simon Sinek atau Good to Great karya Jim Collins. Jika ingin meningkatkan kemampuan berbicara, ada Talk Like TED karya Carmine Gallo. Jika ingin memahami kebijakan publik, bisa membaca Public Policy karya Michael E. Kraft dan Scott R. Furlong.
Namun pada kenyataannya, tidak ada batasan. Pejabat sebaiknya membaca berbagai jenis buku, mulai dari sejarah, filsafat, ekonomi, psikologi hingga sastra. Semakin banyak yang dibaca, semakin luas perspektifnya. Dengan kosakata yang melimpah, pengetahuan yang mendalam, serta empati yang terlatih, pejabat dapat benar-benar menjalankan tugas negara dengan baik.
Mungkin saat ini sulit untuk berharap bahwa pejabat kita yang terbiasa hidup tanpa membaca tiba-tiba menjadi seseorang yang sangat menyukai buku. Namun, kita dapat berharap pada generasi yang baru. Anak muda yang sekarang sedang berkembang, yang nanti akan mengisi posisi-posisi penting, semoga memiliki hubungan yang lebih dekat dengan buku.
Di sinilah peran masyarakat, sekolah, keluarga, serta media. Kita harus mengembalikan kebiasaan membaca sebagai hal yang menarik. Bukan hanya memperlihatkan gadget atau liburan mewah, tetapi juga menunjukkan buku yang sedang dibaca. Kita perlu menjadikan diskusi tentang buku sebagai hal yang biasa di ruang publik. Jika netizen bisa ramai berdebat tentang drama Korea atau film Hollywood, mengapa tidak bisa pula ramai membahas isi sebuah buku?
Generasi muda yang terbiasa dengan membaca akan berkembang dengan wawasan yang lebih luas. Dan ketika mereka nanti menjadi pejabat, kita dapat berharap kebijakan yang dihasilkan akan lebih cerdas.
Pada akhirnya, membaca buku bukanlah tentang gaya atau penampilan. Membaca buku merupakan tanggung jawab moral. Pejabat yang rutin membaca menunjukkan bahwa ia serius dalam mengasah pikirannya demi kepentingan negara. Sebaliknya, pejabat yang tidak dekat dengan buku hanya akan menghasilkan kebijakan yang asal, reaktif, dan kurang memiliki visi.
Mungkin saatnya kita mengganti cara menilai seorang pejabat. Bukan hanya melihat isi garasi mobil mereka, tetapi juga isi rak bukunya. Bukan hanya melihat pakaian yang mereka pakai, tetapi juga apa yang mereka baca. Karena dari buku, muncul kebijakan yang mampu mengubah nasib jutaan rakyat.