PR JABAR- Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui kelompok pengabdian masyarakat dari Laboratorium Etnografi Desain, turut berperan dalam membangun potensi pariwisata Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga.
Bantuan yang diberikan oleh Tim Pengabdian Masyarakat FSRD ITB berfokus pada penguatan ruang pendidikan museum, dokumentasi budaya, serta menarik wisata baru bagi desa yang memiliki kekayaan seni tradisi dan potensi alam.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat dari FSRD ITB, Meirina Triharini mengatakan, Desa Kedungbenda memiliki sumber daya pertanian, peternakan, serta kekayaan budaya lainnya.
Dimulai dari pedalangan, macapat, ebeg, hingga lengger. Bahkan, berbagai sanggar seni dan kegiatan masyarakat ini telah lama menjadi bagian penting dari identitas desa.
Di sisi lain, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Kedungbenda juga cukup giat mengembangkan paket wisata budaya, wisata Sungai Klawing, serta kunjungan ke situs purbakala.
Kami pasti melibatkan alat desa, Pokdarwis, komunitas lokal, dan pelaku budaya setempat dalam setiap tahap penelitian, seperti FGD dan workshop. Tujuannya adalah agar hasilnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat," ujar Meirina, pada Kamis, 27 November 2025.
Mengungkap Tantangan yang Dihadapi Wilayah Pedesaan
Pengembangan yang dilakukan oleh Tim Pengabdian Masyarakat FSRD ITB ini, dilakukan berdasarkan temuan lapangan terkait kondisi ruang, kebutuhan masyarakat, serta potensi desa wisata yang sedang berkembang di Kedungbenda.
Berdasarkan penelitian tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat akhirnya menemukan tantangan yang dialami desa. Di antaranya, fasilitas pameran yang terbatas, keterkaitan antar-informasi budaya, serta adanya kebutuhan ruang interpretasi yang mampu memperkaya pengalaman wisata.
Tim FSRD ITB kemudian merancang sistem tampilan museum berbentuk knockdown yang bertujuan untuk memperkuat ruang pendidikan dan interpretasi budaya Pokdarwis Desa Kedungbenda.
Desain tersebut, menurut Meirina, dirancang agar bisa dipasang dan dilepas dengan cepat, fleksibel, serta mudah digunakan oleh warga desa. "Selain struktur tampilan, tim peneliti juga mengembangkan desain grafis, keterangan, poster, dan sistem tanda sebagai elemen utama yang membantu pengunjung memahami konteks sejarah, budaya, serta keunikan Kedungbenda," katanya.
Selanjutnya dijelaskan oleh Meirina, hasil akhir berupa prototipe lengkap pop-up display, mulai dari panel, tata letak, grafis, hingga perangkat pendukung diserahkan kepada masyarakat dan pemerintah desa.
Meningkatkan Literasi Budaya
Tindakan ini diharapkan menjadi dasar yang baru bagi Desa Kedungbenda dalam memperkuat inisiatif pariwisata desa, menyediakan media pembelajaran bagi masyarakat dan pengunjung, serta menjadi alat dokumentasi budaya yang berkelanjutan.
"Sistem knockdown dipilih karena memungkinkan efisiensi penyimpanan, mobilitas yang tinggi, serta kemampuan untuk menyesuaikan tema pameran sesuai dengan momentum kegiatan desa," katanya.
"Kami berharap hasil penelitian dan karya yang diciptakan dapat meningkatkan pemahaman budaya, memperpanjang masa kunjungan wisatawan, serta membuka kesempatan kerja sama lanjutan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan promosi desa wisata," tambah Meirina.
Selain Meirina Triharini, anggota Tim Pengabdian Masyarakat FSRD ITB terdiri dari Arianti Ayu Puspita, Prananda Luffiansyah Malasan, R. Raditya Ardianto T, Khalisa Nur Azizah, Roly Salley Anwary S. Mereka menjalani penelitian selama lima tahun sejak tahun 2020.
Kegiatan ini juga merupakan salah satu penerapan proyek museum benda (https://museumbenda.id/). Meirina berharap hasil yang telah dicapai dapat diterapkan di desa-desa lain di Indonesia yang memiliki berbagai karakteristik budaya unik yang sangat beragam.