
Suara Flores -Setidaknya 3.000 desa wisata dari berbagai penjuru Indonesia bersaing setiap tahun untuk mendapatkan program pendampingan resmi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Namun, hanya 50 desa terpilih yang akan mendapatkan pendampingan secara menyeluruh dari pemerintah pusat.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegara I Kemenparekraf, Dedi Ahmad Kurnia, mengatakan proses seleksi dilakukan secara ketat melalui tahapan kurasi.
Desa-desa yang lolos akan mendapatkan pendampingan mulai dari pengelolaan destinasi, strategi pemasaran, hingga integrasi ke platform agen perjalanan daring (online travel agent/OTA).
"Keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh potensi alam atau budaya semata, tetapi juga oleh kemampuan promosi dan kolaborasi antar pemangku kepentingan," kata Dedi saat mengunjungi Desa Kronggen, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Sabtu, 29 November 2025.
Ia menambahkan, kolaborasi menjadi kunci utama dalam mengembangkan potensi yang sudah ada.
"Potensinya sudah ada, tinggal bagaimana pengelolaan dan pemasarannya diperkuat," katanya.
Dalam kunjungannya ke Desa Kronggen, Dedi menilai desa yang terletak di perbatasan Kabupaten Grobogan ini memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi desa wisata unggulan. Menurutnya, Kronggen telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam mengembangkan sektor pariwisata lokal.
"Desa seperti Kronggen bisa memanfaatkan program pendampingan ini untuk meningkatkan profesionalisme pengelolaan, memperluas jangkauan promosi, dan memperkuat daya saing di tingkat nasional," katanya.
Kepala Desa Kronggen, Hardijono, menyebut desanya memiliki kekayaan wisata yang cukup lengkap. Selain wisata alam seperti Sendang Goa Sinawah, Kronggen juga memiliki potensi budaya melalui kegiatan seperti kirab budaya dan Pasar Jaten.
"Meskipun berada di wilayah paling ujung dan berbatasan dengan kabupaten lain, kami telah ditetapkan sebagai desa rintisan wisata oleh Bupati Grobogan. Lokasi wisata utama berada di Dusun Sinawah," kata Hardijono.
Namun, ia mengakui bahwa pengembangan desa wisata masih membutuhkan banyak penataan.
"Seperti anak kecil yang masih perlu dipandu. Kami berharap ada dukungan dari pemerintah pusat untuk mempercepat pengembangan desa kami," katanya.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Budaya, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Grobogan, Wahono, menilai potensi wisata Kronggen sangat menjanjikan. Ia menekankan pentingnya promosi digital untuk memperkenalkan potensi desa ke khalayak luas.
"Potensi yang ada harus diunggah ke media sosial. Dokumentasinya juga harus lebih baik, jangan manual lagi," kata Wahono.
Ia juga mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mempromosikan kegiatan budaya yang diadakan di desa.
"Hampir semua warga sudah memiliki perangkat genggam. Tinggal bagaimana kita mengajak mereka untuk ikut memviralkan kegiatan yang ada, agar dikenal tidak hanya oleh warga lokal, tetapi juga masyarakat dari luar daerah," katanya.***