Tokoh Achmad Amiruddin yang Dihindari -->

Tokoh Achmad Amiruddin yang Dihindari

28 Nov 2025, Jumat, November 28, 2025

Ujung Pandang, suatu hari pada bulan Maret 1974, Rektor Universitas Hasanuddin Achmad Amiruddin mengajak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Syarif Thayeb meninjau kampus Unhas Baraya dengan mengemudikan sendiri jeep "Land Rover". Di suatu titik, mobil terperosok masuk ke dalam lubang kubangan. Mesin pun mati. Ketika Amiruddin berusaha menghidupkan kembali, menteri menghalangi, lalu berkata: "Pindahkan saja kampus ini". Ucapan yang membuat Amiruddin agak terkejut.

Tujuh tahun kemudian, kampus baru Unhas diresmikan, berdiri megah dan asri di Tamalanrea. Kampus yang menjadi candra dimuka bagi penempaan calon-calon pemimpin di Sulawesi Selatan.

Demikianlah kisah menarik yang ditulis dalam bab "Memindahkan Kampus Unhas", dalam buku biografi A. Amiruddin Nakhoda dari Timur.

****

Untuk generasi saya dan sebelumnya, sosok Amiruddin adalah pemimpin ideal yang sangat dikagumi karena prestasinya yang luar biasa. Nilai-nilai yang ia tanam dan jejak-jejak yang ia bangun masih terasa dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas hingga saat ini.

Waktu kecil saya mengenal Amiruddin sebagai Gubernur Sulawesi Selatan karena hampir setiap hari membaca surat kabar dan menonton berita TVRI daerah. Kemudian ia menjabat Wakil Ketua MPR-RI 1992-1997, posisi yang sangat strategis pada masa itu.

Pada suatu waktu tahun 2000, ayah mengunjungiku yang sedang menempuh semester awal kuliah di Jogja. Ayah membawa buku ini, mungkin ia belum selesai membacanya di Makassar. Pada saat itu saya mulai membaca sebagian besar buku ini dan menyelesaikannya ketika mudik lebaran di Makassar.

Dari otobiografi ini kita dapat memahami lebih dalam sosok Amiruddin secara utuh, dari masa kecil, karakter dan kepribadian, perjuangan menempuh pendidikan hingga PhD, keputusan dan kebijakan penting yang diambil saat menjadi pejabat publik.

Biografi Amiruddin terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama tentang masa kecil, menempuh pendidikan di Makassar, kuliah di ITB, dan meraih gelar akademik PhD di Kentucky Amerika. Pada bagian kedua tentang periode Amiruddin memimpin Unhas yang fenomenal pada tahun 1973 hingga tahun 1982. Pada bagian ketiga dikisahkan saat Amiruddin menjabat Gubernur Sulawesi Selatan dua periode, lalu Wakil Ketua MPR, dan masa pensiunnya.

Mungkin karena sama-sama berprofesi sebagai dosen, saya paling tertarik pada bagian kedua ketika Amiruddin menjabat Rektor Unhas, pada masa saya belum lahir. Diceritakan bagaimana Amiruddin membangun Unhas menjadi kampus yang dihormati tingkat nasional. Kebijakannya sangat monumental.

Amiruddin membangun perumahan dosen yang layak huni, mengirim ratusan dosen muda melanjutkan studi S2 dan S3 di universitas terkemuka di Pulau Jawa bahkan luar negeri sebagai persiapan SDM yang unggul. Dan yang tidak kalah spektakuler, membangun kampus baru Unhas yang megah seperti yang ditulis pada pembuka tulisan ini.

Ayah saya adalah civitas Unhas, baik saat masih menjadi mahasiswa yang lulus pada tahun 1976, dan kemudian diangkat sebagai dosen sejak 1978. Rasanya dosen-dosen seangkatan ayah sangat mengagumi dan terinspirasi oleh Amiruddin. Banyak yang menyebut Amiruddin sebagai Rektor Unhas terbaik sepanjang sejarah. Setiap pelaksanaan pemilihan rektor, civitas akademik Unhas merindukan sosok kepemimpinan Amiruddin.

Tokoh ilmuwan dan pendidik yang sederhana, integritas diri, berdedikasi, dan memiliki visi jauh ke depan. Warisan Amiruddin abadi.

Achmad Amiruddin (1932 - 2014).

TerPopuler