Ketika ABRI Berjuang Mengatasi Sisa PKI di Blitar Selatan -->

Ketika ABRI Berjuang Mengatasi Sisa PKI di Blitar Selatan

1 Des 2025, Senin, Desember 01, 2025

Dibutuhkan waktu beberapa bulan bagi ABRI, khususnya Angkatan Darat, untuk mengatasi sisa-sisa PKI di Blitar Selatan pada tahun 1968.

---

Bengkalispos.com hadir di channel WhatsApp, ikuti dan dapatkan berita terkini kami di sini.

---

Bengkalispos.comOnline.com -Peristiwa Gerakan 30 September 1965 menyebabkan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) kebingungan dan terpaksa bersembunyi. Mereka dikejar terutama oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), khususnya Angkatan Darat (AD).

Salah satu tempat persembunyian anggota PKI yang terakhir kali "dihapuskan" berada di Blitar Selatan, Jawa Timur. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun bagi ABRI untuk mengatasi "orang-orang terakhir" ini.

Puncak dari operasi penumpasan itu dikenal sebagai Operasi Trisula yang terjadi pada 1968.

Setelah peristiwa G30S, pemerintah Orde Baru terus melakukan penangkapan terhadap individu yang diduga berhubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).Bekas anggota PKI yang berhasil menghindar dari pengejaran militer kemudian melarikan diri ke berbagai wilayah.

Terdapat beberapa tempat di Banten Selatan, begitu pula di Blitar Selatan.Tokoh-tokoh PKI yang tersembunyi di Blitar Selatan antara lain adalah Rewang, Oloan Hutapea, Ruslan Widjajasastra, Munir, dan sebagainya.Oloan Hutapea ditetapkan sebagai Ketua Departemen Organisasi PKI baru di Blitar Selatan.

Sementara itu, Ketua PKI di Blitar Selatan dijabat oleh Ruslan Widjajasastra.Sementara Rewang diberi tanggung jawab sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda dan anggota Pleno PKI. Munir dia sendiri menjabat sebagai Ketua Departemen Perjuangan Bersenjata PKI Blitar Selatan.

Mereka memperkuat semangat di Blitar Selatan melalui berbagai kegiatan. Di antaranyaadalah menyiapkan Perang Rakyat dengan mengadakan pelatihan Kursus Kilat Perang Rakyat (KKPR).

Pelatihan KKPR itu dapat terlaksana berkat bantuan mantan Dandim Pandeglang, Letnan Kolonel Pratomo. Mereka juga disampaikan materi mengenai pembangunan kembali PKI oleh Oloan Hutapea dan materi Materialisme Dialektika Historis oleh Ruslan Widjajasastra.Sementara itu, Munir menyampaikan materi mengenai Thesis Perang Rakyat.

Terdapat informasi yang menyebutkan bahwa sisa-sisa kelompok PKI melakukan aksi teror terhadap warga masyarakat.Seperti pencurian, penganiayaan, dan pembunuhan yang bertujuan untuk memperoleh senjata.

Sebagai respons, pada 18 Mei 1968, Panglima Kodam VIII/Brawijaya Mayjen TNI M. Yasin mengangkat Komando Satuan Tugas (Satgas) Trisula yang dipimpin oleh Kolonel Witarmin.Pada pelaksanaan Operasi Trisula, Kodam Brawijaya mengirimkan Batalion Infanteri 531/Para, Batalion Infanteri 511, Batalion Infanteri 513, Batalion Infanteri 521, serta Batalion Infanteri 527.

Terdapat pula Kodim 0808 Blitar, Kodim 0807 Tulungagung, Kodim 0818 Malang serta beberapa Koramil.Batalyon Pasukan Khusus Angkatan Darat (BPKAD) serta TNI AU juga turun tangan dalam mendukung pelaksanaan operasi tersebut.

Untuk mendukung operasi tersebut, Komandan Komando Wilayah Udara (Kowilu) IV, Komodor Udara Suwoto Sukendar menerbitkan Surat Perintah pada 6 Juni 1968 mengenai pembentukan Satuan Tugas Operasi Udara (Satgas Opsud) Elang yang dipimpin oleh Mayor Udara Sugiantoro.

Kepala Udara Sugiantoro didampingi oleh pasukan yang dipimpin oleh Komandan Kompi LU Wim Mustamu, Wadan Ki SMU J. Rantijo, Dan Ton I SMU Jumari, Dan Ton II SMU Sjamsuri, serta Dan Tom III SMU Sugimin.Kekuatan Satgasud Elang terdiri dari 2 pesawat pengebom B-26 Invader, 3 pesawat P-51 Mustang, beberapa pesawat C-130 Hercules, 3 pesawat Harvard, helikopter Mi-4 serta Kompi Kopasgat.

Operasi Trisula secara resmi dimulai pada 1 Juni 1968 dan dilaksanakan di wilayah Blitar Selatan. PelaksanaanPertama kali dilakukan di Suruhwadang, Maron, dan Ngeni, yang merupakan pusat aktivitas PKI di Blitar Selatan.

Pada operasi pertama, sekitar 4.000 orang ditangkap dan ditemukan delapan anggota Gerilya Desa serta dua anggota Detasemen Gerilya PKI Gaya Baru di Blitar Selatan. Operasigabungan yang sangat kuat menyebabkan banyak anggota PKI Blitar Selatan akhirnya menyerah.

Namun ada juga yang masih menentang meskipun berada dalam posisi sulit.Beberapa hari bergerak ke arah selatan, TNI berhasil mengungkap wilayah yang dikuasai PKI hingga mencapai daerah pegunungan.

Di lokasi tembak menembak yang terjadi di kawasan Gunung Asem Panggungrejo, Oloan Hutapea berhasil tewas.Kemudian Soerachman juga tewas di area hutan Desa Maron.

Pada pertengahan bulan Juli 1968, TNI berhasil menangkap Rewang di Sumberjati, serta Kademangan dan Ruslan Widjajasastra di Kaligrenjeng.Pada bulan yang sama, pemimpin Departemen Bersenjata PKI Blitar Selatan, Munir, berhasil ditangkap di Jembangan.

Operasi Trisula yang dijalankan selama sekitar dua bulan berhasil menghancurkan pos-pos pertahanan dan proyek basis PKI, serta menangkap tokoh-tokohnya baik hidup maupun mati.

Letnan Jenderal M. Yasin dalam konferensi pers yang diadakan pada 9 Agustus 1968 di Malang menyampaikan bahwa tahanan PKI dari operasi tersebut berjumlah 850 orang.Sementara senjata yang berhasil diambil sebanyak 37 buah dan empat buah granat.

Upacara penutupan Operasi Trisula diadakan pada 7 September 1968 di Blitar yang dipimpin oleh Mayjen M. Yasin dan dihadiri oleh Panglima Kostrad Mayjen Kemal Idris.Orang-orang yang ditangkap dan masih hidup mendapatkan pembinaan dari TNI dengan tujuan memperkuat semangat rakyat terhadap pengaruh PKI.

Itulah cara ABRI selama beberapa bulan dalam membasmi anggota PKI terakhir di Blitar Selatan.

TerPopuler