Kronologi Bentrok TNI dan Warga Aceh Terkait Bendera GAM -->

Kronologi Bentrok TNI dan Warga Aceh Terkait Bendera GAM

27 Des 2025, Sabtu, Desember 27, 2025

TENTARA Nasional Indonesia(TNI) mendapat perhatian setelah melakukan pembubaran dan penangkapan terhadap sekelompok masyarakat yang sedang berkonvoi sambil mengibarkan bendera dengan atribut bintang khas Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Saat itu, sekelompok pemuda yang sedang berkonvoi melewati Desa Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh, pada hari Kamis siang, 25 Desember 2025.

Beberapa pemuda berkonvoi sambil membawa bantuan yang akan disampaikan ke daerah yang terkena bencana Aceh Tamiang. Namun, pasukan gabungan TNI dan Polisi yang sedang melakukan pemeriksaan lalu lintas menghentikan rombongan tersebut.

TNI meminta rombongan tersebut melepas semua atribut yang berkaitan dengan GAM. Namun, warga menolak permintaan tersebut. Pada saat itulah terjadi ketegangan. Personel TNI diduga melakukan kekerasan. Aksi kekerasan tersebut terekam dalam video dan diunggah oleh akun Instagram @acehspeakup dan @acehworldtimes pada Jumat, 26 Desember 2025.

Di dalam video tersebut, tentara berpakaian loreng memukul para demonstran menggunakan tangan, ujung senapan panjang, gagang senapan panjang, serta menendang mereka di samping truk konvoi pada malam hari. Tampilan video lainnya menunjukkan beberapa orang berpakaian loreng hijau yang menghakimi seseorang dengan menendangnya berulang kali hingga jatuh, kemudian terlihat pula beberapa orang berpakaian cokelat dengan rompi bertuliskan polisi di sekitar barisan kendaraan yang sedang berhenti.

Seorang korban mengalami luka sobek di kepala akibat bentakan senjata meskipun ia mengakui tidak membawa bendera bulan bintang. Korban yang merupakan warga Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, menceritakan kejadian tersebut terjadi saat dirinya sedang bersama rombongan relawan dari berbagai daerah dalam perjalanan menuju Kabupaten Aceh Tamiang untuk menyerahkan bantuan bagi para korban banjir.

Ketua Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Aceh Azharul Husna menyatakan bahwa pukulan terjadi saat konvoi tiba di depan kantor Bupati Aceh Utara. "Kemudian terjadi tindakan represif dari TNI," ujar Husna saat dihubungi pada Jumat, 26 Desember 2025.

Husna menyatakan bahwa pembubaran ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Pekan lalu juga pernah terjadi pemeriksaan terhadap truk yang membawa bantuan dengan atribut GAM. “Yang kami sesali adalah kekerasan. Ketika ada kekecewaan, bukan kekerasan yang diharapkan terjadi. Seharusnya diselesaikan dengan cara yang manusiawi,” ujarnya.

Kronologi Versi TNI

Kepala Penerangan Kodam Iskandar Muda, Kolonel Infanteri Teuku Mustafa Kamal, menjelaskan bahwa pihaknya awalnya menerima informasi tentang adanya rombongan konvoi sekitar pukul 10.10 WIB yang membawa bendera bulan bintang yang dipasang di atas kayu. Mereka mengibarkan bendera tersebut sambil menggoyang-goyangkannya dan berseru 'merdeka' saat pengendara lain melintas.

Komandan Resor Militer 011/Lilawangsa, Kolonel Infanteri Ali Imran bekerja sama dengan Polres Lhokseumawe dan tiba di lokasi bersama anggota Korem serta Kodim 0103/Aceh Utara. Ketika tiba di tempat sekitar pukul 11.10 WIB, aparat meminta massa untuk menghentikan aksi dan menyerahkan bendera, tetapi permintaan tersebut ditolak.

Menurut Mustafa Kamal, aparat kemudian melakukan pembubaran dan mengamankan bendera bulan bintang. Pada saat pemeriksaan berlangsung, terjadi perselisihan antara petugas dengan massa. Petugas menangkap seorang warga yang membawa senjata tajam.

Dalam keterangannya terpisah, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Freddy Ardianzah menyampaikan penyesalan terhadap narasi dan video yang beredar dan menyalahkan institusi TNI. “TNI merasa kecewa dengan beredarnya video atau konten yang mengandung informasi yang tidak benar dan merusak reputasi TNI. Data tersebut tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan serta bisa menyesatkan masyarakat,” ujar Freddy.

Freddy menyebutkan bahwa operasi pemeriksaan berlangsung mulai siang hari tanggal 25 Desember hingga dini hari tanggal 26 Desember. Razia bersama dengan Polri dilakukan guna mencegah konvoi mantan anggota GAM dan mengantisipasi penyebaran bendera bulan bintang yang dipasang pada tiang bambu serta diikat di kendaraan roda empat. “Jumlah peserta konvoi sekitar 600 orang yang menuju Kabupaten Aceh Tamiang,” ujar Freddy.

Pada saat pembubaran terjadi bentrokan antara petugas keamanan dan massa konvoi di Lhokseumawe. Freddy menyatakan ada tindakan provokatif dari massa terhadap petugas keamanan yang sedang melakukan pemeriksaan dengan mendorong hingga memukul petugas tersebut.

Akhirnya, Kapolres Kota Lhokseumawe dan Dandim 0103 juga menjadi korban pukulan dari massa. “Setelah dilakukan pendekatan dengan cara persuasif serta mediasi, diperoleh kesepakatan damai antara massa konvoi dan aparat gabungan.”

Freddy menyatakan TNI bersama pemerintah daerah dan aparat akan terus menempuh pendekatan dialog, persuasif, serta humanis guna mengurangi kemungkinan konflik, menjaga ketenangan keamanan, serta memastikan masyarakat Aceh dapat berkonsentrasi pada pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi setelah bencana.

Dani Aswara dan Eka Yudha berperan dalam penyusunan artikel ini.

TerPopuler