
JAKARTA.COM - Petugas Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air kaget ketika menemukan jenazah perempuan di aliran Kali Pesanggrahan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Minggu (25/1/2026).
Jenazah perempuan tersebut ditemukan terjepit dalam tumpukan sampah di aliran Kali Pesanggrahan sekitar pukul 10.00 WIB.
Mengungkapkan, korban telah meninggalkan rumahnya selama tiga hari.
Jakarta.com merangkum lima hal penting terkait penemuan jenazah perempuan di Kali Pesanggrahan:
1. Petugas Badan Air Menemukan
Petugas Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air, Feri Hartono adalah orang yang pertama kali menemukan jasad tersebut.
Feri mengatakan, penemuan terjadi ketika ia akan memulai aktivitas sehari-hari membersihkan sampah di sungai tersebut.
"Pertama kali ingin bekerja, biasanya membersihkan sungai," kata Feri dilansir dari Kompas.com.
Feri membersihkan sampah yang tertahan di sekat kubus apung sebagai alat penahan sampah di Kali Pesanggrahan.
Namun, ketika turun mendekati sungai, ia melihat sepasang kaki muncul dari balik tumpukan sampah.
"Awalnya hanya melihat kakinya, tidak melihat tubuhnya," kata Feri.
2. Jasad Tertutup Sampah
Feri menjelaskan bahwa posisi tubuh korban sepenuhnya tertutup oleh tumpukan sampah di aliran kali, sehingga hanya bagian kaki yang terlihat jelas.
"Tidak (terbuka), hanya kakinya. Lihat kakinya, tubuhnya berada di bawah sampah," katanya.
Saat terlihat, kata Feri, kondisi jenazah tersebut sudah berwarna putih pucat.
Ia mengaku terkejut dan sempat merasa takut saat menyadari yang dilihatnya adalah bagian tubuh manusia.
Ia lantas langsung bertindak sendirian dan memilih melaporkan temuannya itu kepada rekannya dan Komandan Regu.
Setelah temannya tiba dan memverifikasi bahwa temuan tersebut memang merupakan jasad manusia, mereka langsung melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.
3. Identitas Korban
Putra (36), seorang warga mengungkapkan bahwa sempat muncul kecurigaan bahwa jenazah yang ditemukan adalah sosok perempuan yang dilaporkan hilang oleh keluarganya.
"Kemarin sepertinya sudah ada keluarganya, karena katanya orang yang hilang, lalu ditemukan di sini, jadi mungkin dia, tapi saya tidak tahu dengan pasti," kata Putra.
Putra mengatakan, warga sempat menerima sebuah pengumuman tentang seseorang yang hilang dengan ciri-ciri yang serupa.
"Menurut orang-orang, mereka mirip, tetapi katanya dia (orang yang hilang) menderita penyakit epilepsi. Keluarganya langsung dibawa oleh polisi," katanya.
Kepala Sektor Kebon Jeruk, Kompol Nur Aqsha membenarkan bahwa jenazah yang ditemukan telah berhasil diidentifikasi.
"Alhamdulillah, jenazah tersebut telah diketahui identitasnya. Jenazah dengan inisial N, seorang perempuan berusia 38 tahun," kata Aqsha saat dihubungi, Minggu.
Kepala Unit Reskrim Polsek Kebon Jeruk AKP Ganda Jaya Sibaranu memastikan bahwa korban dengan inisial N (38), seorang warga Kembangan, Jakarta Barat.
Kejelasan ini diperoleh setelah polisi melakukan identifikasi dan keluarga korban mengunjungi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
"Anggota keluarganya telah tiba, baik suami maupun saudara kandungnya," ujar Ganda dilansir dari Kompas.com, Minggu.
4. Hilang Tiga Hari
Berdasarkan keterangan dari keluarga, diketahui bahwa korban telah pergi dari rumah sejak tiga hari lalu, yaitu pada hari Jumat (23/1/2026).
Setelah meninggalkan rumah, korban tidak pernah kembali dan akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal di aliran kali.
"Menurut keterangan keluarga, dia pergi dari rumah tiga hari yang lalu, yaitu hari Jumat. Sampai sekarang belum kembali. Pada saat itu, dia ditemukan di tempat tersebut, di sungai itu, di kali itu," kata Ganda.
5. Suami Bikin Poster
Meski korban telah hilang selama tiga hari, Ganda mengatakan pihaknya belum menerima laporan kehilangan di Polsek Kebon Jeruk.
Ia hanya mengetahui keberadaan poster orang hilang yang diunggah oleh suaminya di media sosial.
"Di tempat kami tidak ada laporan tentang orang hilang. Karena mereka warga Kembangan. Mungkin di Polsek Kembangan, kami tidak tahu apakah dia melaporkan kehilangan di Kembangan, kami belum mengetahui hal itu," jelasnya.
Mengenai penyebab pasti kematian korban, Ganda belum mampu memberikan kesimpulan secara medis. Hal ini dikarenakan keluarga korban disebut menolak dilakukannya autopsi terhadap jenazah tersebut.
Namun, berdasarkan data yang diperoleh dari pihak keluarga, diketahui bahwa korban memiliki riwayat gangguan epilepsi.
Berdasarkan pertimbangan tersebut serta penolakan dari pihak keluarga, jenazah selanjutnya diserahkan kepada keluarga untuk dikuburkan.
BERITA TERKAIT
Baca berita lain dari Jakarta.com melalui Google News atau langsung di halaman Indeks Berita.