Ahli Militer Israel: Strategi Kelompok Bersenjata Gagal, Hamas Masih Kuasai Gaza -->

Ahli Militer Israel: Strategi Kelompok Bersenjata Gagal, Hamas Masih Kuasai Gaza

30 Jan 2026, Jumat, Januari 30, 2026
Ringkasan Berita:
  • Ahli militer Israel mengakui bahwa strategi negara mereka yang memanfaatkan kelompok kriminal untuk menguasai Gaza telah gagal.
  • Keberadaan kelompok-kelompok yang awalnya bertindak sebagai agen ini justru menjadi beban tambahan bagi militer Israel.
  • Hamas menguasai sepenuhnya di tengah tidak adanya strategi pasca-perang yang konsisten.
 

NEWS.COM -Seorang ahli militer Israel mengakui bahwa usaha negaranya memanfaatkan kelompok kriminal untuk memperkuat penguasaan atas Jalur Gaza telah gagal.

Di sisi lain, gerakan kemerdekaan Palestina, Hamas, terus memperkuat kekuatan militer mereka dan mempertahankan pengaruhnya di seluruh wilayah tersebut.

Penilaian itu diungkapkan oleh Avi Issacharoff, seorang analis militer dan mantan ketua subkomite Komite Luar Negeri dan Keamanan Knesset, dalam sebuah artikel yang rinci yang diterbitkan oleh surat kabar Israel,Yedioth Ahronoth.

Di dalam tulisannya yang berjudul "Awal Fase Kedua: Kegagalan Beruntun," Issacharoff menyatakan bahwa pemerintah Israel tidak mampu menyusun strategi yang memadai untuk Gaza setelah konflik berakhir.

Kegagalan ini menyisakan celah administratif dan keamanan yang berisiko.

Ia mengingatkan bahwa kegagalan ini telah memungkinkan Hamas tetap berada sebagai kekuatan pengendali di Jalur Gaza, sekaligus memperbarui krisis yang sudah lama berlangsung dan meningkatkan ancaman di masa depan.

Gagasan Fragmentasi yang Tidak Efektif

Menurut Issacharoff, pihak berwenang Israel sengaja mengabaikan opsi-opsi yang realistis dalam mengatur Gaza setelah konflik, dan lebih memilih mengandalkan gagasan-gagasan yang tidak efektif dan bersifat sementara.

Salah satu gagasan fragmentasi adalah usaha untuk memanfaatkan kelompok kriminal—terutama kelompok yang dikenal sebagai "Abu Shabab"—sebagai kekuatan pihak ketiga Israel dalam mendistribusikan bantuan kemanusiaan dan menciptakan pengaruh lokal.

Tindakan-tindakan ini, menurutnya, segera mengalami kegagalan.

Issacharoff menekankan bahwa pendekatan ini menunjukkan kurangnya perencanaan strategis dan memberikan beban tambahan kepada tentara Israel serta lembaga keamanan negara Yahudi tersebut.

Sebaliknya, hal tersebut justru menyebabkan Gaza mengalami kekosongan pemerintahan dan keamanan setelah operasi militer besar-besaran berakhir.

Ia menambahkan, alternatif yang layak—seperti melibatkan Otoritas Palestina dalam mengelola Gaza baik di tingkat administrasi maupun keamanan—tidak pernah dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh.

Pertimbangan politik, menurutnya, menghalangi para pengambil keputusan Israel dalam memilih opsi tersebut, sehingga Hamas tetap menjadi kekuatan utama di lapangan.

Issacharoff mengingatkan bahwa terus-menerus mengabaikan kerangka kerja pasca-perang yang realistis hanya akan memperkuat posisi Hamas dan menyebabkan Israel menghadapi tantangan politik serta keamanan yang semakin berat.

Hamas dan Gerakan Perlawanan Memperkuat Kekuatan Militer

Ia memberi peringatan bahwa jalur yang sedang diambil saat ini meniru kegagalan masa lalu dan meningkatkan kemungkinan bahwa peningkatan konflik di masa depan akan jauh lebih berbahaya.

"Peluang-peluang itu tidak dimanfaatkan saat kondisi tetap tidak berubah," tulis Issacharoff.

Ia menekankan bahwa perencanaan strategis pasca-perang yang serius bukanlah pilihan, melainkan keharusan, dan menunda tindakan lebih lanjut hanya akan memperparah ketidakstabilan di Gaza serta seluruh wilayah tersebut.

Stasiun televisi Israel Channel 12 mengulang penilaian tersebut, melaporkan bahwa tahap kedua rencana Gaza mencakup penyitaan senjata Hamas dan Gerakan Jihad Islam (PIJ).

Namun, saluran tersebut menyebutkan bahwa kenyataan di lapangan membuat tujuan ini semakin tidak masuk akal.

Berdasarkan laporan tersebut, baik Hamas maupun Jihad Islam sebagian besar telah memulihkan kemampuan perang mereka meskipun mengalami kerugian yang signifikan selama konflik.

Hamas, menurut laporan tersebut, telah memulihkan sebagian besar sistem perintah dan pengendaliannya serta terus melakukan penyesuaian terhadap senjata roketnya, meskipun sebagian besar senjata mereka rusak selama konflik.

Meskipun Hamas mungkin belum kembali ke kekuatan seperti sebelum perang, laporan tersebut menyatakan bahwa mereka tetap dapat beroperasi secara penuh dan memengaruhi seluruh wilayah Jalur Gaza—sekali lagi menunjukkan ketidakberhasilan strategi Israel setelah konflik.

(oln/pc/QNN/YA)

TerPopuler