Anies Soroti Diplomasi Indonesia di Dunia -->

Anies Soroti Diplomasi Indonesia di Dunia

22 Jan 2026, Kamis, Januari 22, 2026

Mantan Gubernur Jakarta dan kandidat presiden dalam pemilu 2024,AniesBaswedan menyerukan Indonesia untuk mengambil posisi yang jelas dan lebih aktif dalam menjalankan diplomasi di tingkat global. Anies menegaskan bahwa kondisi dunia saat ini sangat dinamis, di mana negara-negara besar sering kali secara terbuka melanggar aturan-aturan internasional.

Oleh karena itu, menurut Anies, Indonesia perlu mengambil sikap yang keras dan tidak terpengaruh oleh arus. "Diplomasi perlu bersifat aktif, tidak bisa hanya bersikap netral yang pasif. Membangun jembatan, bukan sekadar mengikuti arus., kata Anies melalui akun media sosial X miliknya, pada Rabu, 21 Januari 2026.

Dalam tweetnya, Anies awalnya mengomentari pidato Perdana Menteri Kanada Mark Carney dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos. Menurut Anies, PM Carney secara terbuka mengakui bahwa dunia yang selama ini dianggap berdasarkan hukum dan keteraturan ternyata penuh dengan kepura-puraan.

Pura-pura yang dimaksud adalah ketika negara-negara besar sering kali mengabaikan aturan yang telah disepakati bersama. Mulai dari aturan perdagangan yang tidak adil, hingga penegakan hukum internasional yang lebih ketat atau lebih longgar tergantung pada siapa pelaku dan siapa korban.PM Carney menyebutnya sebagai "tinggal dalam kebohongan", bahwa mereka semua hidup dalam ketidakjujuran yang selama ini mereka jaga bersama-sama.," kata Anies.

Menurut mantan menteri pendidikan ini, ajakan Perdana Menteri Carney kepada negara-negara Global South untuk bersatu menghadapi kekuatan besar sebaiknya diapresiasi. Global South merupakan istilah geopoliitik yang merujuk pada kelompok negara berkembang di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Oseania yang secara historis mengalami penjajahan ekonomi dan politik oleh negara-negara maju atau Global North.

Menurut Anies, jika negara-negara berkembang hanya melakukan negosiasi secara terpisah, maka negara-negara seperti Indonesia akan selalu berada dalam posisi yang lemah saat bernegosiasi.Kita justru saling menekan, bersaing untuk menjadi yang paling patuh. Jelas hal itu tidak dapat disebut sebagai kedaulatan, tutur Anies.

Ia kemudian menjelaskan bahwa aliansi yang dibentuk oleh negara-negara menengah dalam menghadapi negara-negara besar tidak perlu selalu sama. Aliansi yang dibentuk dapat bersifat fleksibel. "Perbedaan isu bisa mengarah pada perbedaan mitra, tidak wajib bersikap setia buta terhadap satu kutub, sambil tetap memperkuat perekonomian dalam negeri.," katanya.

Dalam konteks ini, Anies memandang bahwa Indonesia sebenarnya memiliki peran penting. Kanada, misalnya, telah menyampaikan pendiriannya dari posisi Barat, sehingga Indonesia dapat mulai menjalankan peran sebagai jembatan antara negara-negara Barat menengah tersebut dengan negara-negara Asia yang lama merasakan ketidakadilan dalam tatanan dunia.Kami memiliki legitimasi di kedua pihak," kata dia.

Di tengah dunia yang semakin terpecah, Anies percaya bahwa negara-negara menengah memiliki peluang untuk menciptakan tatanan baru yang lebih adil. "Ketentuannya ialah harus berani bertindak bersama-sama."

TerPopuler