KORAN-PIKIRAN RAKYAT –BMKG melaporkan, bibit siklon tropis 98S menghilang pada 29 Januari 2026 pukul 7.00. Sebelumnya, bibit siklon tropis 98S teramati berkembang di sebelah tenggara Pulau Christmas sejak Rabu 28 Januari 2026 pukul 1.00. Pada saat itu, bibit siklon tropis tersebut menyebabkan dampak tidak langsung berupa kenaikan kecepatan angin serta kemungkinan hujan di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.Meskipun bibit siklon tropis 98S telah hilang dan tidak lagi memengaruhi cuaca di beberapa daerah di Indonesia, BMKG mengingatkan para pengambil kebijakan dan masyarakat Jawa Barat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, mengingat saat ini masih memasuki musim hujan.
Berdasarkan prediksi kondisi global, regional, dan probabilitas model, BMKG memperkirakan bahwa secara umum cuaca di Jawa Barat berpotensi hujan dengan intensitas ringan. Di beberapa wilayah di Jawa Barat, terdapat kemungkinan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada sore dan malam hari.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Teguh Rahayu memberikan informasi mengenai perubahan cuaca Jawa Barat pada periode 29 Januari hingga 4 Februari 2026. Ada beberapa faktor yang memengaruhi perkembangan awan-awan hujan.
"Anomali suhu permukaan laut di wilayah Jawa Barat masih tergolong hangat, dan masih memberikan kontribusi terhadap perkembangan awan-awan hujan secara lokal. Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO), yaitu fenomena iklim, di kawasan NINO 3.4 mencapai angka -0,79, yang memengaruhi peningkatan pola konvektif di sejumlah wilayah Indonesia. Teramati pula perubahan arah angin serta konvergensi yang berdampak pada pertumbuhan awan-awan hujan di Jawa Barat," kata Teguh Rahayu, Kamis 29 Januari 2026.
Rahayu mengatakan, kelembapan udara di wilayah Bandung berkisar antara 50%-90% atau lembap pada lapisan 850 mb dan 700 mb. Hal ini merupakan pengaruh lokal yang memperkuat kemungkinan terbentuknya awan konvektif.
"Secara umum, diperkirakan kondisi cuaca di Bandung Raya berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada masa 29 Januari hingga 4 Februari 2026. Sementara itu, suhu udara berkisar antara 20 hingga 29 derajat celsius," kata Rahayu.
Mereka juga mengimbau warga yang tinggal di daerah perbukitan untuk selalu waspada terhadap risiko tanah longsor, khususnya saat hujan berlangsung dalam waktu yang lama. Bersamaan dengan itu, pihaknya meminta warga untuk secara rutin memeriksa informasi cuaca dari BMKG.
Sementara itu, Rahayu juga menyampaikan bahwa BMKG terus melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) guna memaksimalkan upaya pencarian korban longsor di Kecamatan Cisarua, Bandung Barat. Setiap hari, OMC dilakukan paling sedikit tiga kali.
"Penyelenggaraan OMC dilakukan sesuai dengan keperluan, jika diperlukan kembali OMC (lebih dari 3 kali) dapat dilakukan," ujar Rahayu.
Menurutnya, potensi perkembangan awan di lokasi longsor tergolong sangat besar karena saat ini memasuki puncak musim hujan. BMKG memprediksi hujan akan terus turun hingga seminggu ke depan.
Peringatan
Di kesempatan terpisah, Bupati Bandung Dadang Supriatna mengeluarkan Surat Edaran Nomor 400.9.9/002/0197/BPBD mengenai Peringatan Cuaca Ekstrem di Kabupaten Bandung. Dalam surat tersebut, disampaikan ajakan kepada seluruh pihak untuk bersama-sama memperkuat kewaspadaan dalam menghadapi kondisi cuaca yang bisa berupa hujan ringan hingga lebat.
"Masyarakat tetap tenang dan dapat melanjutkan aktivitas sehari-hari, namun tetap waspada serta terus mengikuti perkembangan informasi cuaca terbaru melalui situs resmi BMKG," katanya.
Kepala daerah menyatakan, penerbitan surat edaran merupakan bagian dari langkah pencegahan. Surat edaran tersebut ditujukan kepada seluruh pemerintah kecamatan, desa maupun kelurahan di Kabupaten Bandung, serta masyarakat sebagai dasar dalam melakukan penanganan dini.
Berdasarkan analisis terbaru mengenai dinamika atmosfer oleh BMKG, kami menyarankan masyarakat untuk selalu waspada terhadap kemungkinan bencana banjir, tanah longsor, atau angin kencang. Petugas kecamatan serta desa dan kelurahan harus rutin memantau wilayah masing-masing. Segera berkoordinasi jika terjadi situasi darurat akibat cuaca ekstrem," kata Dadang.