Bukan Hanya Fitur, Ini Prinsip Subaru dalam Membuat Mobil -->

Bukan Hanya Fitur, Ini Prinsip Subaru dalam Membuat Mobil

26 Jan 2026, Senin, Januari 26, 2026

Di tengah perkembangan industri otomotif Indonesia yang semakin penuh dengan persaingan fitur dan teknologi instan, Subaru menegaskan memilih pendekatan yang berbeda. Merek asal Jepang ini menjadikan manusia sebagai fokus utama dalam pengembangan produk, dengan keselamatan, kenyamanan, dan ketahanan sebagai nilai utama yang terus dipertahankan.

Pendekatan ini bukan hanya sebuah strategi pemasaran, tetapi merupakan prinsip dasar yang telah ada sejak awal pengembangan Subaru. Setiap model dirancang dengan mempertimbangkan kebiasaan manusia, gaya berkendara, serta rasa aman yang konsisten dalam jangka panjang.

Manajer Umum Eksekutif Subaru Indonesia, Adrian Quintano, menyatakan bahwa filosofi Subaru sejak awal telah berawal dari manusia, bukan hanya berbasis teknologi.

"Yang dimulai di Subaru, fokusnya adalah pada manusia. Mulai dari kebiasaan manusia, sehingga ketika orang membawa Subaru, mereka merasa lebih nyaman," kata Andrian saat mengunjungi kantor Bengkalispos.com baru-baru ini.

Filosofi yang berfokus pada manusia diwujudkan dalam detail-detail yang mungkin tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi terasa langsung saat digunakan. Mulai dari posisi berkendara, visibilitas, hingga sifat kendaraan yang tetap nyaman meskipun memiliki DNA SUV.

"Maka hal-hal kecil yang dipikirkan oleh orang Jepang memang bertujuan untuk kenyamanan manusia," tambahnya.

Untuk Subaru, kendaraan bukanlah barang yang dibuat untuk masa pakai singkat. Setiap mobil ditawarkan sebagai investasi jangka panjang bagi penggunanya, baik dari segi kenyamanan maupun ketahanan.

Ketika seseorang membeli mobil, itu bagi kitaaimingselama 25 tahun, 110 tahun," katanya.

Pendekatan jangka panjang terlihat dari tingkat kepuasan pelanggan Subaru di pasar internasional. Data menunjukkan angka pembelian ulang yang tinggi, khususnya di pasar Amerika Serikat.

"Meskipun kita melihat di Amerika, orang yang melakukan pembelian ulang terhadap Subaru lebih dari 62 persen. Artinya dari 10 orang yang membeli, 6 orang di antaranya paling tidak sekali lagi membeli," katanya.

Berdasarkan pendapat Adrian, pola kesetiaan yang serupa mulai terlihat di Indonesia. Konsumen yang telah merasakan pengalaman menggunakan Subaru cenderung memilih merek yang sama kembali.

OnceKami sudah mencoba Subaru, pasti akan membeli lagi. Banyak orang yang awalnya membeli satu unit, kemudian kembali membeli," katanya.

Selain human-centric dan durability, sikap memilih dalam menghadapi teknologi juga menjadivaluepenting Subaru. Merek ini menegaskan bahwa mereka tidak akan menerapkan teknologi yang belum teruji keamanannya dan tidak sesuai dengan kebutuhan manusia.

"Dan ketika teknologi tersebut belum terbukti, itu tidak akan diwujudkan oleh Subaru," tegasnya.

Oleh karena itu, Subaru tidak tergesa-gesa mengikuti arus elektrifikasi jika dianggap belum sesuai dengan kebutuhan pasar dan berisiko mengganggu pengalaman berkendara.

"Maka kita memang memilih teknologi yang tradisional, yang kita yakini dapat digunakan dalam jangka panjang," katanya.

Di sisi lain, General Manajer Pemasaran, Hubungan Masyarakat, dan CRM Subaru Indonesia, Irhan Farhan, menganggap tantangan yang dihadapi Subaru di Indonesia bukan terletak pada produknya, melainkan pada pemahaman masyarakat terhadap nilai merek.

"Yang saya tahu Subaru hanya berlari saja," kata Irhan di kesempatan yang sama.

Meskipun demikian, menurut Irhan, keunggulan Subaru justru berada pada dasar teknologi yang fokus pada keselamatan dan kenyamanan, bukan hanya penampilan yang canggih.

"Dengan teknologi Subaru yang terdapat pada model kita, seperti mesin Boxer, sistem penggerak simetris, platform global, dan I-side, kita akan memberikan nilai atau manfaat bagi keamanan dan kenyamanan pelanggan," jelasnya.

Bahkan dalam proses pengembangan produk, Subaru diketahui tidak ragu mengorbankan peluang bisnis untuk mempertahankan aspek keselamatan dan ciri khas berkendara.

"Jadi memang saya pernah bertanya, mengapa model ini tidak memiliki versi hybrid? Oh, setelah dicoba ternyata mengganggu pengendalian dan keamanannya," katanya.

Menurut Irhan, nilai Subaru tidak terletak pada kemewahan atau fitur yang berlebihan, tetapi pada perasaan aman dan ketenangan saat menggunakannya.

"Lebih bernilai dibandingkan fitur-fitur yang canggih itu. Ini sebenarnya menunjukkan bahwa teknologinya bisa diandalkan dengan moto sport itu," tegasnya.

Nilai-nilai tersebut juga menjadi alasan Subaru tetap mempertahankan jiwa motorsport sebagai bukti kehandalan dan ketahanan teknologi.

Di Indonesia, peningkatan nilai merek Subaru didukung oleh komunitas pengguna yang giat dan setia, yang secara alami menjadi duta merek.

“Dan ini merupakan pen-advocatesaja yang membuat kami. Karena dari sana muncul banyakreferal.” tukasnya.

Melalui pendidikan dan cerita yang konsisten, Subaru berharap nilai-nilai yang berfokus pada manusia, keselamatan, dan ketangguhan dapat semakin dipahami oleh konsumen di Indonesia. Dengan strategi ini, Subaru menegaskan posisinya sebagai merek yang tidak hanya mengikuti perkembangan tren, tetapi juga menciptakan kepercayaan jangka panjang dengan penggunanya.

TerPopuler