Dari Kota Sungai ke Kota Beton: Apa yang Tersisa? -->

Dari Kota Sungai ke Kota Beton: Apa yang Tersisa?

18 Jan 2026, Minggu, Januari 18, 2026

Bengkalispos.com.CO.ID, JAKARTA -- Sungai Mahakam tidak pernah benar-benar berhenti mengalir, namun gambaran yang terlihat di permukaannya terus berubah seiring berjalannya waktu. Dulu, sebelum adanya jembatan panjang yang menghubungkan Samarinda Kota dan Samarinda Seberang, sungai yang lebar ini menjadi jalur utama kehidupan, membagi sekaligus menyatukan ruang sosial masyarakat.

Lebih dari lima puluh tahun yang lalu, Samarinda, Kalimantan Timur, masih merupakan sebuah pemukiman dengan kehidupan yang berbasis pada sungai. Suara mesin klotok saling bersahut-sahutan dengan deru jeep willys yang melaju perlahan di jalanan, membentuk orkestrasi khas kota yang terletak di tepian air dan sedang berkembang.

Sekarang, bayangan itu perlahan berubah. Deretan ponton batu bara terlihat di sungai, bangunan hotel bertingkat menjulang tinggi, dan cahaya kota bersinar di malam hari, menunjukkan peran Samarinda sebagai penghubung penting Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di tengah perkembangan modern yang hampir menghilangkan ingatan bersama masyarakatnya, Syafruddin Pernyata hadir membawa perahu kenangan. Melalui bukunya Kisah-kisahSamarinda Tempo Dulu, ia mengajak pembaca untuk menekan tombol jeda sejenak, berhenti sebentar dari keramaian kota yang semakin megah untuk melihat ke belakang. Bukan hanya sekadar rindu akan masa lalu, tetapi usaha untuk memahami identitas diri.

Buku yang berawal dari potongan cerita di grup maya History of Samarinda (HoS) ini bukan hanya kumpulan unggahan media sosial yang dicetak dalam bentuk buku. Ia berubah menjadi dokumen sosial yang mencatat denyut kehidupan sebuah kota yang lahir dan berkembang di tepian sungai.

Syafruddin menyoroti perubahan ekonomi sebagai fondasi utama perubahan wajah Samarinda. Kota ini tidak berkembang secara alami saja, tetapi didorong oleh pemanfaatan sumber daya alam yang besar dan berlapis.

Penulis memanfaatkan metafora emas hijau untuk menggambarkan masa kejayaan kayu dan emas hitam untuk masa batu bara, dua tahap ekonomi yang menentukan arah serta ciri kota.

"Bagian-bagian buku ini seperti peta waktu untuk peralihan tersebut," tulisnya.

Terdapat bab khusus yang membahas kisah di balik pabrik-pabrik tripleks Samarinda. Bagi generasi milenial atau Gen Z saat ini, mungkin sulit membayangkan kota mereka pernah menjadi pusat industri kayu lapis yang berkembang pesat, sebelum berbagai pabrik tutup satu per satu, meninggalkan lahan kosong atau bangunan yang berubah fungsi.

Narasi ini memiliki peran penting karena memberikan konteks terhadap data demografi yang disampaikan oleh penulis: peningkatan jumlah penduduk dari 609.380 jiwa pada tahun 2009 menjadi 834.824 jiwa pada tahun 2023.

 

Ledakan populasi ini merupakan akibat alami dari kebijakan ekonomi yang ditawarkan oleh Samarinda. Pendatang datang mencari kesempatan, mengubah struktur sosial kota dari masyarakat sungai menjadi sebuah entitas perkotaan yang beragam.

Romantisme mobil Willys dan misbar Kemesraan mobil Willys dan misbar Cinta terhadap mobil Willys dan misbar Keindahan mobil Willys dan misbar Keromantisan mobil Willys dan misbar Kesetiaan mobil Willys dan misbar Kehidupan bersama mobil Willys dan misbar Pengalaman dengan mobil Willys dan misbar Kebahagiaan dalam mobil Willys dan misbar Kedekatan antara mobil Willys dan misbar

Kekuatan utama buku ini berada pada kisah-kisah kecil dan potongan kehidupan sehari-hari, yang sering tidak tercatat dalam buku teks resmi, bukan pada analisis ekonomi makronya.

Syafruddin menangkap gambar benda-benda budaya populer lokal yang pernah memperkaya kehidupan masyarakat.

Salah satu yang paling terkenal adalah kehadiran jeep willys. Dalam bab Jeep Willys Sebagai Taksi, pembaca diajak untuk mengenang masa ketika kendaraan bekas Perang Dunia II ini diubah menjadi alat angkut kota dengan kabin kayu.

Ini merupakan gambaran ketangguhan dan kreativitas masyarakat Samarinda dalam menghadapi keterbatasan infrastruktur masa lalu. Jeep Willys bukan hanya sebagai alat transportasi; ia menjadi simbol status, denyut perekonomian, dan kini, menjadi kenangan yang semakin bernilai.

Tidak hanya mengenai transportasi, buku ini juga mencatat perkembangan hiburan rakyat. Bab Misbar, Gerimis Bubar serta Antara Televisi, Bioskop, dan Compact Disc menggambarkan perubahan cara masyarakat menikmati hiburan.

Istilah misbar, yaitu bioskop luar ruangan yang berhenti saat hujan datang, merupakan fenomena nasional pada masa 1970–1980-an. Namun Syafruddin memberikan ciri khas Samarinda. Ada nuansa kebersamaan yang perlahan menghilang seiring dengan hadirnya bioskop ber-AC di pusat perbelanjaan yang menggantikan layar tancap.

 

Penulis juga menyebutkan tempat-tempat ikonik yang kini hanya tinggal nama atau telah berubah bentuk. Cerita Toko Buku Ang Siang Tjin atau Toko Aziz merupakan sebuah puji-pujian kecil terhadap literasi di masa lalu.

"Mengingat toko buku fisik yang dahulu menjadi pusat peradaban kota terasa sedih namun juga bermakna," ujar Syafruddin.

Menariknya, Syafruddin Pernyata tidak terjebak dalam memperindah masa lalu. Buku ini secara jujur menggambarkan realitas sosial yang beragam, termasuk sisi-sisi gelap yang sering kali ingin diabaikan dari ingatan bersama.

Bab yang menceritakan kisah perempuan penghibur tentara Jepang (Jugun Ianfu) mengingatkan bahwa Samarinda juga menyimpan luka sejarah akibat pendudukan. Demikian pula bab Lamin Indah, Hostess, dan Gunung Steleng yang mengungkap dinamika kehidupan malam, sisi kota yang jarang terlihat dalam brosur pariwisata.

Sebutan lokasi-lokasi tertentu seperti Selili, Sungai Kerbau, dan Sungai Kapih, yang dikategorikan sebagai 4S, memberikan dimensi geografis yang lebih dalam. Samarinda bukan hanya pusat kota yang berada di tepian sungai Mahakam, tetapi terdiri dari sejumlah kampung dengan ciri khas masing-masing. Bahkan isu "Banjir, Ikam Hanyarkah di Samarinda?" menunjukkan bahwa banjir merupakan warisan lama yang menjadi tantangan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Penyangga memori

Pengeluaran buku ini terjadi pada masa sekarang. Penetapan wilayah Kalimantan Timur sebagai Ibu Kota Nusantara menjadikan Samarinda berada dalam posisi penting sekaligus rentan.

 

Samarinda diperkirakan akan menjadi kota metropolis pendukung dengan berbagai dampaknya. "Sepuluh tahun mendatang mungkin mencapai satu juta penduduk," tulis Syafruddin.

Ramalan ini bukan hanya sekadar angka, tetapi peringatan tentang kemungkinan hilangnya ciri khas kota. Ketika Bandara APT Pranoto semakin ramai dan pelabuhan kontainer semakin padat, kisah perahu tambangan dalam bab Balarut Tambangan Sayang Menyisih Ilung terdengar seperti bisikan lembut dari masa lalu.

Gaya menulis Syafruddin yang menggabungkan laporan jurnalistik dengan cerita lisan menjadikan buku ini dekat dan mudah dipahami.

Cerita-cerita lama Samarinda pada akhirnya bukan sekadar kisah yang sudah usang, tetapi merupakan upaya untuk menghadapi lupa.

Buku yang diterbitkan oleh Spirit Komunika dengan 176 halaman ini berfungsi sebagai penopang, agar masyarakat Samarinda, baik warga lama maupun pendatang baru, tetap memegang ingatan bersama. Karena kota tanpa kenangan hanyalah kumpulan infrastruktur yang tidak hidup.

Dan Samarinda, dengan segala keindahan dan kenyataannya, terlalu berharga untuk hanya menjadi kota tanpa jiwa di dekat ibu kota negara.

TerPopuler