
Bengkalispos.com–Pergiannya Lucky Widja menyebabkan duka yang mendalam bagi sahabat-sahabat dekatnya, termasuk Didi Riyadi. Drummer dari grup band Element ini mengingat momen paling sulit ketika pertama kali mendengar kabar duka tersebut, yang tiba-tiba datang saat dirinya sedang menjalani ibadah umrah di Tanah Suci.
Didi menceritakan bahwa saat itu ia sedang berada di perjalanan menuju hotel pada malam pertama tiba di Madinah.
"Saya mendengar kabar saat baru tiba di Madinah di malam hari. Saat sedang perjalanan menuju hotel, saya langsung menerima informasi bahwa Lucky telah meninggal," kata Didi Riyadi di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada Kamis (29/1/2026).
Saat mendengar berita itu, Didi mengakui perasaannya menjadi sangat kacau. Banyak emosi yang bercampur, mulai dari terkejut hingga bingung, karena masih sulit percaya dengan kabar mengenai kepergian rekan bandnya tersebut.
"Ya gimana perasaannya, sudah tidak terkendali lagi. Sudah bercampur aduk begitu. Kebingungan ada, kaget juga ada. Jujur, tiba-tiba saya seperti orang yang kehilangan arah. Masih sulit dipercaya," tambahnya.
Pemain drum Element juga menjelaskan satu hari sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Ia mengakui sempat memberikan pesan singkat kepada anggota Element mengenai perjalanannya ke Madinah.
Di dalam percakapan tersebut, Lucky Widja pernah menyampaikan permintaan doa yang kini terasa sangat mendalam di hati Didi Riyadi. Permintaan itu menjadi pesan terakhir dari teman dekatnya.
"Tetapi memang sebelum saya melakukan ibadah Umroh, saya seperti biasa memberi tahu di grup, 'InsyaallahSaya berangkat Umroh. Pada tanggal 21. Tanggal 21 saya berangkat, sedangkan tanggal 20 itu saya berbicara di grup WA bersama anak-anak Element. Itu adalah pesan terakhirnya, Almarhum, yang mengatakan: "Mohon doakan ya Di, agar saya segera lepas dari cuci darah," kata dia.
Sebagai teman dekat, Didi dan anggota Element lainnya pasti memberikan doa terbaik untuk kesembuhan Lucky. Namun, tidak ada di antara mereka yang menyangka bahwa permintaan doa tersebut justru berubah menjadi pesan perpisahan.
"Pasti anak-anak lain juga berkata, 'Titip doa ya, mohon doa'. Tentu saja dijagalah, pasti. Tapi tidak pernah terpikir sama sekali, bahkan tidak ada sedikit pun kecurigaan atau pikiran bahwa saat saya berada di sana, dia pergi," katanya.
Didi Riyadi mengakui sangat kaget karena sebelumnya tidak mengetahui informasi mengenai kondisi Lucky yang semakin memburuk. Baginya, kepergian teman dekatnya terasa begitu tiba-tiba dan tanpa adanya tanda-tanda sebelumnya.
"Saya kira itu terlalu cepat. Seperti saya tidak pernah mendengar informasi apa pun bahwa 'Oh, tiba-tiba masuk IGD, atau dirawat, anfal, dan sebagainya'. Tiba-tiba mendapat kabar itu di malam pertama, saya sulit melupakannya, malam pertama tiba di Madinah, perjalanan dari stasiun kereta ke hotel, saat perjalanan itu saya menerima kabar," ujar Didi.
Tidak berada di Jakarta saat Lucky Widja menghembuskan napas terakhir, Didi mengakui sempat merasa marah dan tidak berdaya akibat jarak yang cukup jauh.
"Saya campur aduk saja. Ada rasa kesal juga, karena saya merasa tidak berdaya karena jarak yang jauh itu. Dia pergi, sedangkan saya tidak ada di Jakarta bersama teman-teman," katanya.
Meski sempat merasa bingung dan kehilangan tujuan, Didi menyadari bahwa ia perlu segera mengatur emosinya. Ia berusaha mencari cara agar tetap bisa memberikan kontribusi dan doa terbaik bagi sahabatnya dari Tanah Suci.
"Maka tadi saya katakan, saya benar-benar mendengar hal itu seperti orang yang bingung dan kebingungan. Tapi tentu saja saya harus mulai mengatur emosi saya. Apa yang mungkin bisa saya lakukan dan kontribusikan di sana," katanya.
Sebagai seorang muslim, Didi Riyadi juga memohonkan ampunan bagi almarhum Lucky Widja di Tanah Suci. Ia percaya bahwa ketika berdoa di tempat suci tersebut, doa-doa yang baik akan dikabulkan.
Tentu saja seperti yang diketahui oleh semua orang,Insyaallahsaat kakimu berada di Tanah Suci, ituInsyaallahdijabah. Mengucapkan doa-doa terbaik, meminta pengampunan," katanya.
Tidak hanya berdoa, Didi Riyadi juga melakukan beberapa perbuatan khusus untuk almarhum Lucky Widja. Ia menyumbangkan Al-Qur'an di Masjid Nabawi dengan nama temannya tersebut serta melaksanakan salat jenazah.
"Dan saya menyumbangkan Al-Quran di Masjid Nabawi yang saya beri nama Almarhum Lucky. Saya juga melakukan salat jenazah. Jadi, setiap kali selesai shalat, selalu dilanjutkan dengan salat jenazah yang dilakukan secara berjamaah," jelas Didi Riyadi. (*)