Doktif Beli Whip Pink Rp1,5 Juta, Ternyata Ada yang Mencurigakan -->

Doktif Beli Whip Pink Rp1,5 Juta, Ternyata Ada yang Mencurigakan

29 Jan 2026, Kamis, Januari 29, 2026

Bengkalispos.comDokter Detektif hadir dalam podcast Denny Sumargo. Pada podcast tersebut, terungkap bahwa Doktif membeli Whip Pink yang sedang viral.

Kontroversi mengenai gas N2O yang dikenal sebagai Whip Pink akhir-akhir ini mulai menyebar. Doktif atau Dokter Detektif memberikan pernyataan dalam podcast Densu pada hari Rabu (28/1/2026).

Menurut Doktif, awalnya ia hanya mengetahui isu penggunaan gas tersebut melalui media sosial. Selanjutnya, Doktif membeli Whip Pink yang foto-fotonya pernah beredar di berbagai platform media sosial.

Saat muncul, sudah ada FYP, terus muncul yang tabung pink ini, Doktif mencari, menelusuri. Karena tidak tahu, sebenarnya N2O digunakan saat anestesi. Jadi mengapa ini terdengar bahwa N2O digunakan untuk terbang," kata Doktif.

Doktif mengakui kecurigaannya karena N2O yang biasanya digunakan sebagai obat bius justru dijual bebas dan disalahgunakan.

"Aneh ini, apa kaitannya? Bagaimana bisa diperoleh untuk terbang dan katanya diperoleh secara gratis," kata Doktif lagi.

Doktif kemudian melakukan penyelidikan terhadap gas tersebut. Ia segera mengunjungi situsnya dan membeli Whip Pink.

"Nah, Doktif selidiki saja, langsung ke situs webnya Bang. Doktif melihat ada 4 ukuran di sana. Jadi pada saat itu, Doktif membeli langsung dari situs webnya," jelasnya.

Menurut Doktif, terdapat 4 jenis ukuran tabung, namun ia tidak tahu seberapa besar ukurannya. Awalnya, perempuan yang sedang berselisih dengan Richard Lee tersebut mengakui bahwa ia tidak bermaksud membeli tabung dengan ukuran yang begitu besar. Ketika datang, Doktif kaget melihat ukuran tabung yang sama besar dengan tabung penyelam.

"Di sana ada 4 tabung, tapi Doktif tidak tahu ukurannya seperti apa. Sebenarnya niatnya tidak ingin membelinya sebesar ini. Ini justru salah. Tapi tidak tahu seberapa besar. Datangnya seperti ini, ya Allah kaget, seperti orang menyelam," kata Doktif.

"Segini berapa?" tanya Densu.

 

"Sekitar seribu lima ratus. Doktif membelinya menggunakan ojek online langsung, dikirim," jawab Doktif.

Doktif mengungkapkan kecurigaannya karena terdapat gambar astronot di situs Whip Pink. Ia kemudian menanyakan hal tersebut dalam podcast Densu yang juga mengundang perwakilan BNN dan seorang dokter spesialis paru.

Yang menarik lagi, Bang Densu, di websitenya terdapat gambar seperti seorang astronot. Jadi dia menggunakan gambar-gambar mirip astronot. Doktif merasa bingung, apa hubungan antara whip (whipped cream) atau kue dengan astronot. Astronot itu kan orang yang berada di luar angkasa dengan membawa ini," katanya lagi.

Doktif kemudian menceritakan bahwa ia pernah dihubungi oleh penjual Whip Pink mengenai aturan baru. Penjual mempertanyakan penggunaan produk Whip Pink kepada Doktif.

Jadi saat Doktif chat, Doktif membeli, ada pertanyaan dari mereka. "Ada regulasi baru ini, Bu." Mereka bertanya mengenai penggunaannya karena ini digunakan untuk kue. Alasannya dalam chat seperti itu. Jadi nanti akan dialihkan ke chat WhatsApp. Setelah melakukan pembayaran, dialihkan ke chat tersebut. Kami dihubungi oleh penjualnya. Doktif kemudian berkata, "Oh ya ini untuk kue, untuk kafe bla bla bla." Kita sudah membuat cerita sendiri. Intinya adalah untuk kue," katanya lagi.

"Regulasi baru katanya? Namanya apa?" tanya Densu.

Tidak tahu. Dan begitu Doktif menjawab seperti itu, oke terima kasih. Sudah, langsung dikirim. Selesai," jawab Doktif.

"Maknanya mengapa dia mengatakan kalimat 'aturan baru'? Pertanyaannya seperti itu. Sudah Doktif selidiki?" tanya Densu lagi setelah mendengar pengakuan Doktif membeli Whip Pink.

"Belum, nanti kalau ditanya akan ketahuan," tutupnya.

Sementara itu, berdasarkan laporan Antara, Badan Narkotika Nasional atau BNN baru-baru ini memberi peringatan agar gas tertawa atau Dinitrogen Oksida (N2O) tidak dikonsumsi. N2O dapat menyebabkan rasa senang sementara hingga kerusakan saraf serta risiko kematian.

"N2O tidak diperuntukkan untuk penggunaan rekreasi. Efek euforinya singkat, namun risikonya bisa berakibat fatal dan permanen. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan saraf yang bersifat permanen, kekurangan vitamin B12 yang parah, hingga risiko kematian akibat kekurangan oksigen (hipoksia)," ujar Kepala BNN RI, Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. (*)

TerPopuler