Guru Madrasah di Medan Menangis, Rumahnya Dirusak Tanpa Tahu Surat Sudah Berpindah -->

Guru Madrasah di Medan Menangis, Rumahnya Dirusak Tanpa Tahu Surat Sudah Berpindah

18 Jan 2026, Minggu, Januari 18, 2026
Guru Madrasah di Medan Menangis, Rumahnya Dirusak Tanpa Tahu Surat Sudah Berpindah

Guru Sekolah Agama di Medan Menangis Karena Rumahnya Dirusak, Tidak Mengetahui Surat Hak Miliknya Telah Berpindah Tangan

-MEDAN.com, MEDAN -Syelvia Aprilla, warga Jalan Camar 4, Perumnas Mandala, Kecamatan Percut Sei Tuan tidak mampu menahan air mata. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai guru di sebuah Madrasah dekat rumahnya mengakui bahwa rumah yang ditinggalinya bersama keluarganya telah rusak akibat tindakan orang lain.

Saat diwawancara di rumahnya, Syelvia mengakui bahwa ia telah tinggal di tempat tersebut sejak tahun 1995 bersama orang tua dan keluarganya. Namun, masalah mulai muncul pada akhir Desember tahun 2025 ketika pihak tertentu melakukan kerusakan.

"Kami sudah berada di sini sejak tahun 1995 bersama ibu kami. Untuk perusakan ini sudah dua kali terjadi, pertama pada tanggal 26 Desember tahun lalu ada orang yang membawa massa dan merusak rumah kami," kata Syelvia, Minggu (18/1/2026).

Tidak hanya perusakan, oknum yang membawa massa tersebut disebutkan oleh Syelvia memintanya untuk meninggalkan rumah warisan orangtuanya. Katanya, saat bertemu dengan Syelvia dan keluarga oknum tersebut mengakui bahwa ia memiliki hak atas rumah Syelvia.

"Ia memaksa saya keluar dari rumah. Ia mengatakan bahwa rumah ini sudah menjadi miliknya, padahal kami memiliki bukti bahwa kami memiliki hak atas rumah ini," katanya.

Tidak berhenti sampai di situ, ia mengakui oknum yang sama kembali datang ke rumahnya pada Rabu (14/1/2026) kemarin dengan membawa massa lagi. Pada saat itu, sekitar belasan orang dikerahkan untuk merobohkan rumah yang akhirnya membuat rumah berwarna cokelat itu rusak parah.

Amatan www.-medan.com, rumah Syelvia mengalami kerusakan di beberapa bagian. Misalnya, beberapa kaca jendela terlihat sudah retak, yang paling parah adalah sebagian atap rumahnya yang juga dibongkar oleh pihak yang ditunjuk oleh oknum tersebut.

"Bawa alat mereka seperti palu, martil, untuk merusak rumah kami. Pertama mereka memanjat pagar lalu merobek kaca, sama seperti rumah kami juga dirobohkan," katanya.

Saat ditanya mengenai kondisi saat massa menyerbu rumahnya dan melakukan kerusakan, istri Darwin menceritakan bahwa seluruh anggota keluarganya yang berada di dalam rumah langsung merasa takut. Bahkan, anaknya yang sedang berada di kamar langsung berteriak kaget.

"Sudah takut kami orang dia begitu sampai langsung mengatakan bongkar. Anak saya juga sudah ketakutan, langsung meminta bantuan kami," katanya.

Pada saat itu, Syelvia langsung bertanya mengenai tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang diketahui berprofesi sebagai pengacara. Karena mendengar pernyataan bahwa Syelvia tidak lagi memiliki hak atas rumah tersebut, ia langsung kaget karena menurut pengetahuannya, surat rumah tersebut tersimpan di bank yang menyediakan KPR perumahan tersebut.

Namun, pihak tersebut mengakui bahwa surat rumah tersebut telah dibelinya dan meminta penghuni untuk meninggalkan rumah tersebut. Setelah terjadi perdebatan yang panjang, ia mengaku bahwa pihak tersebut meminta sejumlah uang jika Syelvia ingin tetap tinggal di rumah itu.

"Katanya saya membeli surat itu seharga Rp 100 juta, jika saya tidak mau maka saya akan diberi kompensasi sebesar Rp 10 juta untuk pindah. Ya, saya tidak mau, karena ini masih hak kami untuk tinggal di sini.

Ditanya mengenai surat tanah tersebut, Syelvia menyampaikan bahwa sebelum masalah ini muncul, surat tanah rumah tersebut masih tersimpan di bank karena belum lunas dan ibunya masih memiliki utang. Ia mengakui, pada tahun 2019 lalu pihak bank pernah memberi tahu kepada Syelvia bahwa rumah tersebut akan dilelang karena termasuk aset yang menunggak.

Ia mengakui, orang tuanya masih memiliki utang di bank tersebut sebesar empat juta rupiah. Jika ditambahkan dengan seluruh bunga, maka ia diminta untuk membayar sebesar Rp 25 juta.

Tidak ingin kehilangan rumahnya, ia mengaku langsung pergi ke bank tersebut untuk menanyakan tindakan yang dapat diambil. Setelah berkoordinasi dengan pihak bank, Syelvia diberi arahan untuk bergabung sebagai peserta lelang dengan mematuhi serangkaian prosedur yang ditentukan oleh bank.

"Karena saya berniat untuk membayar, maka saya ikut. Saya diminta menjadi peserta lelang dengan syarat awal menjadi nasabah, saya diminta menabung pertama sebesar Rp 10 juta. Bahkan saat itu saya dijanjikan oleh orang lelang bahwa saya akan menjadi pemenang, karena alasan saya adalah penghuni rumah," jelas wanita yang mengenakan hijab berwarna merah ini.

Namun, seiring berjalannya waktu hingga tahun 2020, ia mengetahui bahwa surat rumahnya telah dialihkan ke salah satu agen properti yang diketahui sebagai mitra dari bank tersebut. Akhirnya, masalah terkait surat rumahnya selesai dengan adanya tindakan perusakan, dan ia memutuskan untuk meninggalkan rumahnya.

(mns/-medan.com)

TerPopuler