Harga Kopi Naik di Solo, Akibat Meroketnya Gerai Kafe -->

Harga Kopi Naik di Solo, Akibat Meroketnya Gerai Kafe

4 Jan 2026, Minggu, Januari 04, 2026
Ringkasan Berita:
  • Harga kebutuhan pokok di Solo cenderung stabil pada momen Tahun Baru 2026.
  • Sementara harga biji kopi justru meningkat pada pergantian tahun ini.
  • Wali Kota Surakarta Respati Ardi menyatakan kenaikan harga biji kopi ini disebabkan oleh meningkatnya jumlah kedai kopi di Surakarta.

TRENDS.COM - Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, memberikan perhatian khusus terhadap kenaikan harga biji kopi yang baru-baru ini terjadi di Kota Surakarta.

Ia menilai, peristiwa ini tidak terlepas dari pesatnya perkembangan kedai kopi yang berkembang di berbagai penjuru kota.

Respati menyampaikan bahwa secara umum kondisi ketahanan pangan untuk kebutuhan pokok masih tergolong stabil.

Upaya pengaturan harga melalui kegiatan pasar murah dianggap cukup efektif dalam menjaga kestabilan.

Namun, terdapat beberapa komoditas yang tetap perlu dipantau karena berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi wilayah.

"Yang menjadi fokus kita adalah bawang merah, bawang putih, dan cabai. Tiga komoditas ini yang paling utama karena menjadi penyebab inflasi. Selain itu, perkembangan kafe juga berkontribusi terhadap inflasi dalam perekonomian kita," kata Respati Ardi saat diwawancarai, Jumat (2/1/2025).

Kedai Kopi Terus Bertambah

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo, tercatat sebanyak 109 unit kedai kopi pada tahun 2023.

Angka ini terus meningkat seiring dengan semakin besarnya ketertarikan masyarakat terhadap budaya kopi.

Masuknya tahun 2025, perkembangan kedai kopi semakin terlihat.

Di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, terdapat 23 warung kopi yang beroperasi, belum termasuk daerah lain di Kota Solo.

"Secara keseluruhan terdapat 174 kafe baru, dan rata-rata usianya masih cukup muda," katanya.

Respati menganggap, maraknya kedai kopi tidak dapat dipisahkan dari perubahan pola hidup masyarakat, baik warga setempat maupun pendatang.

Tren berkumpul di kafe turut meningkatkan permintaan terhadap biji kopi, yang akhirnya memengaruhi harga.

"Mungkin ini terkait dengan tren. Pola konsumsi yang terlalu boros juga tidak bagus. Harga biji kopi saat ini cukup mahal. Saya menerima banyak masukan karena permintaan yang tinggi, sehingga muncul harga-harga yang agak tidak wajar," katanya.

Ia berharap, peningkatan kegiatan ekonomi dari sektor kafe tetap diimbangi dengan pengawasan harga agar tidak menyebabkan tekanan inflasi yang berlebihan di Kota Solo.

Kolaborasi dengan Wilayah Penghasil Kopi

Pemerintah Kota Solo saat ini sedang mempertimbangkan kolaborasi dengan daerah penghasil kopi, seperti Kabupaten Temanggung, guna memastikan kelancaran harga biji kopi.

"Agar harganya tetap stabil dan tidak saling 'membunuh'. Jika satu sektor mengalami peningkatan yang terlalu besar pasti tidak sehat. Di sini pemerintah perlu hadir sebagai pihak yang menengahi," katanya.

Selain isu harga, Respati juga mengemukakan dampak lain dari maraknya kedai kopi, yakni kekurangan ruang parkir.

"Pengaturan parkir juga sedang kita susun. Tahun ini kita menerapkan konsep park and ride. Nantinya, area-area parkir akan kita kolaborasikan dengan pihak swasta yang memiliki lahan kosong yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat parkir," ujarnya.

(Trends/Kompas)

Jangan lewatkan berita-berita menarik lainnya dari Trends.com di Google News, Threads, dan Facebook

TerPopuler